Pelatihan GPS dan Harapan Nelayan: Langkah Maju Kampung Nelayan

IMG 20260522 133447 scaled
Pelatihan GPS dan Harapan Nelayan: Langkah Maju Kampung Nelayan.

Satusuaraexpress.co | Kebumen — Nelayan yang tergabung dalam Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dibekali berbagai pelatihan di Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Jatimalang, Purworejo, Jawa Tengah. Para nelayan dibekali pelatihan seperti cara menambal perahu yang bocor dan navigasi menggunakan GPS.

Suwarjio (52), seorang nelayan yang telah lama mengandalkan pengalaman dan tanda-tanda alam, berbagi cerita mengenai pengetahuan baru yang baru saja ia peroleh yakni penggunaan alat GPS dan GSEV. Bagi Suarjio dan rekan-rekannya, pelatihan ini membuka wawasan baru.

“Pelatihan GPS sama GSEV. GSEV itu apa? Pelatihan baca GPS itu untuk apa? Tujuannya jelas, untuk mengetahui keberadaan ikan, agar memudahkan kami mencari ikan di tengah laut,” ujarnya.

Selama ini, Suwarjio mencari ikan sepenuhnya dengan cara tradisional. Sebagai orang yang mengaku “bukan orang pelajar”, ia mengakui bahwa memahami teknologi baru ini butuh usaha, namun manfaatnya sangat besar. Patokan utamanya selama bertahun-tahun hanyalah alam: mengamati posisi bulan terbit dan terbenam, memperkirakan pasang surut air laut, serta melihat arah dan posisi matahari.

Baca jugaWamen KKP: Sinergi Lintas Pihak Kunci Keberhasilan Pembangunan di Pantura Jawa

“Kami hanya mengandalkan tanda alam saja, tidak ada ukuran pasti. Kalau bulan terbit jam sekian, terbenam jam sekian, di situlah patokan kami mencari,” kenangnya.

Kini, dengan pengetahuan mengoperasikan GPS, segalanya menjadi lebih terarah. “Cara kerjanya? Alat ini memudahkan sekali. Kami sudah mencoba, dan benar saja, ketemu ikan sesuai yang tertera di alat. Di layar langsung terlihat gambar ikan, kami langsung menuju titik itu, dan benar-benar ada ikan di sana,” cerita Suwarjio dengan nada puas.

Keuntungan lain yang sangat terasa adalah efisiensi bahan bakar. Dulu, kapal harus berkeliling ke sana-sini mencari tanda alam yang belum tentu tepat sasaran. Sekarang, jalur sudah jelas, bensin menjadi jauh lebih hemat dan tidak terbuang percuma. Meski sangat ingin menggunakan alat canggih ini, ada satu halangan besar: harga. “Harganya belasan juta rupiah, itu terlalu mahal buat kami. Jadi kami baru sekadar tahu dan mencoba pelatihannya saja, belum mampu membelinya,” ungkapnya.

“Secara pribadi dan bersama teman-teman, kami sangat senang dengan adanya program ini. Memang sampai sekarang belum beroperasi penuh, jadi kami belum bisa melihat bukti nyatanya, baru rencana saja. Tapi kami menanti,” ujar Suwarjio.

Baca jugaKKP Pastikan Ketersediaan dan Stabilitas Harga Ikan Aman Selama Ramadan hingga Lebaran 2026

Saat ini, hasil tangkapan mereka dipasarkan melalui Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan didistribusikan oleh para pengepul. Harapan terbesar para nelayan adalah agar pembangunan Kampung Ngelayar segera rampung, diserahkan, dan beroperasi dengan baik demi kesejahteraan mereka.

Bagi pria kelahiran pada tahun 1972 ini, kemajuan teknologi seperti GPS dan fasilitas lengkap di Kampung Ngelayar adalah impian para nelayan.

“Semua kebutuhan kami, mulai dari alat bantu cari ikan sampai tempat olah dan jual, kami harapkan terpenuhi. Supaya kami tidak lagi bingung mencari arah, hemat biaya, dan ekonomi keluarga kami pun semakin membaik,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *