Satusuaraexpress.co | Kebumen — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki program unggulan yakni Budidaya Tematik, untuk mengembangkan usaha perikanan secara terarah berbasis potensi wilayah. Setiap lokasi ditetapkan mengembangkan satu komoditas unggulan, seperti udang, rumput laut, ikan nila, lele, kepiting, atau lobster, sesuai kondisi lingkungan dan kebutuhan pasar.
Program ini menerapkan teknologi modern, contohnya sistem bioflok yang hemat air dan lahan. KKP menyediakan sarana budidaya, benih, pakan, serta pendampingan teknis bagi masyarakat dan kelompok usaha. Kawasan ini juga menjadi pusat pelatihan dan percontohan cara budidaya yang baik dan ramah lingkungan.
Di kawasan budidaya udang yang dikelola dalam skema BUPK, kegiatan pembesaran udang fonneme berjalan dengan teratur dan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Satu kolam budidaya memiliki estimasi hasil panen total mencapai 64 ton per dua bulan. Artinya dengan jumlah kolam sebanyak 139, budidaya udang dapat memanen ratusan ton per 100 hari.
Taufiq Khanafi, salah seorang feeder di BUBK menuturkan udang Vaname merupakan jenis yang memiliki siklus panen terstruktur. Panen parsial biasanya sudah bisa dilakukan ketika ukuran udang mencapai 100 ekor per kilogram. Pada satu kolam yang dikelola saat ini, sudah dilakukan empat kali panen parsial (per dua bulan), dan jadwal panen total atau panen raya pun sudah ditetapkan untuk hari berikutnya.
Baca juga : Pembangunan Kawasan Budidaya Udang Terintegrasi Waingapu Capai 10 Persen
“Secara umum, perkembangan udang Vaname di lokasi ini tergolong sangat baik, pertumbuhannya stabil, dan nilai jualnya di pasaran cukup tinggi, menjadikannya komoditas yang menguntungkan bagi para pembudidaya, ” kata Taufiq, Sabtu (21/5/2026).
Seperti jenis udang lainnya, udang Vaname tetap memiliki karakteristik yang rentan mengalami stres, namun hal ini masih bisa dikendalikan melalui penanganan yang tepat. Stres pada udang bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pergantian jenis pakan, jadwal pergantian air yang tidak teratur, hingga perubahan kondisi lingkungan.
“Jika tidak ditangani, stres ini bisa menyebabkan kematian. Oleh karena itu, penerapan perlakuan pemeliharaan yang konsisten menjadi kunci agar udang tetap sehat dan tumbuh optimal, ” jelasnya.
Taufiq menuturkan panen parsial pertama biasanya dilakukan ketika udang mencapai ukuran 100 ekor per kilogram, yang tercapai sekitar 60 hari atau dua bulan sejak masa bibit. Setelah itu, panen parsial berikutnya bisa diulangi setiap satu minggu hingga sepuluh hari sekali. Penentuan ukuran ini tidak didasarkan pada panjang tubuh udang dalam sentimeter atau milimeter, melainkan melalui penimbangan dan perhitungan rata-rata jumlah udang per kilogram.
“Cara ini dipilih agar proses pengambilan sampel berlangsung cepat, karena jika terlalu lama, udang bisa mengalami stres akibat penanganan, ” tuturnya.
Baca juga : Wamen KKP: Sinergi Lintas Pihak Kunci Keberhasilan Pembangunan di Pantura Jawa
Hasil panen udang Vaname sebagian besar ditujukan untuk kebutuhan ekspor. Setelah dipanen, udang akan dibawa ke tempat pengolahan sementara, disortir berdasarkan ukuran dan kualitas, lalu langsung disalurkan kepada pembeli. Proses ini berjalan cepat dan terkoordinasi sehingga kesegaran udang tetap terjaga.
Keberadaan program BUPK ternyata membawa dampak besar bagi masyarakat sekitar. Sebelum tergabung, sebagian besar warga hanya mengandalkan pertanian dan peternakan tradisional dengan penghasilan yang terbatas. Bergabung dengan BUPK membuka peluang ekonomi baru, pendapatan warga meningkat, dan banyak lapangan kerja tercipta.
“Baik saat panen parsial maupun panen total, tenaga kerja yang dilibatkan mayoritas berasal dari penduduk sekitar. Begitu juga dengan kegiatan pendukung lain seperti pembongkaran peralatan atau persiapan sarana, semuanya melibatkan partisipasi warga setempat, ” paparnya.













