Satusuaraexpress.co | Jakarta — Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia memastikan pemerintah Iran telah memberikan respons positif terhadap permintaan agar dua kapal tanker milik Pertamina yang berada di sekitar Selat Hormuz dapat melintas dengan aman.
Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela menjelaskan, pihaknya bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran sejak awal telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait di Iran guna menjamin keselamatan kedua kapal tersebut.
“Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran,” ujar Nabyl Sabtu (28/3/2026).
Setelah mendapatkan respons positif dari Teheran, langkah tindak lanjut terkait aspek teknis dan operasional telah dijalankan oleh pihak-pihak terkait. Namun, hingga saat ini belum dapat dipastikan kapan kedua kapal tanker tersebut akan dapat keluar dari wilayah Selat Hormuz.
Baca juga : Mengkhawatirkan, Dugaan Korupsi di Pertamina Capai Rp968,5 Triliun
Sebelumnya pada tanggal 4 Maret, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah tengah melakukan pendekatan negosiasi untuk membebaskan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang terjebak di sekitar Selat Hormuz.
Meskipun demikian, Bahlil memastikan bahwa kondisi tersebut tidak mengganggu ketahanan energi nasional Indonesia, karena telah ditemukan alternatif pengadaan energi dari negara lain.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Santo Darmosumarto pada 6 Maret juga menyatakan bahwa pemerintah RI terus meningkatkan upaya koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah Iran untuk menjamin keselamatan kedua kapal tanker Pertamina.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baru-baru ini menyampaikan bahwa negaranya mengizinkan kapal-kapal dari “negara sahabat” untuk melintasi Selat Hormuz. Di sisi lain, kapal-kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan “negara agresor” tetap dilarang melintas. Negara-negara “sahabat” yang diperbolehkan antara lain China, Rusia, India, Pakistan, Irak, dan Malaysia.
Berdasarkan data pelacak kapal real-time MarineTraffic pada periode 20 hingga 22 Maret, sekitar 1.900 kapal tidak dapat bergerak di sekitar Selat Hormuz, sebagaimana dilaporkan oleh Anadolu.
PT Pertamina International Shipping (PIS) juga telah melakukan koordinasi intensif dengan Kemlu sejak penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Pihak PIS menyampaikan bahwa keselamatan awak kapal, keamanan kapal, dan muatannya menjadi prioritas utama.













