Satusuraexpress.co | Sungguh meresahkan saat ini Penipuan (scam) dan judi online sungguh kian meresahkan. Begitu banyak kisah pilu para korban–bahkan dari orang-orang terdekat kita–yang nasibnya terpuruk. Selain kerugian secara finansial, penipuan dan judi online merusak kesehatan mental dan rasa aman masyarakat yang mengalaminya.
pelaku penipuan dan judi online sejatinya juga korban dari perbudakan modern lantaran secara ilegal dipekerjakan tanpa bayaran di Myanmar, Kamboja, dan negara ASEAN lainnya?
Para penipu ini menjalankan ratusan akun untuk merayu para korban di balik ruangan sempit selama lebih dari 14 jam, di bawah ancaman setruman, dan tanpa istirahat. Bagaimana modus operandinya?
Namun, tahukah Anda bahwa para pelaku penipuan dan judi online sejatinya juga korban dari perbudakan modern lantaran secara ilegal dipekerjakan tanpa bayaran di Myanmar, Kamboja, dan negara ASEAN lainnya? Para penipu ini menjalankan ratusan akun untuk merayu para korban di balik ruangan sempit selama lebih dari 14 jam, di bawah ancaman setruman, dan tanpa istirahat. Bagaimana modus operandinya?
Jauh Sebelum Judi Online, Indonesia Pernah Legalkan Judi, Masih Ingat SDSB dan KSSB?
Korban penipuan (scam) dan judi online tidak cukup didefinisikan sebagai seseorang yang menjadi objek dari penipuan semata. Sebab sosok-sosok yang menjadi admin akun penjerat ini juga korban kejahatan. Kejahatan transnasional itu melibatkan eksploitasi manusia melalui berbagai metode; seperti pemaksaan, penipuan, atau ancaman, juga termasuk sebagai Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Menurut catatan Satgas TPPO Polri, modus yang dilakukan oleh tersangka yakni iming-iming menjadikan korban sebagai Pekerja Migran Legal (PMI)/ Pembantu Rumah Tangga (PRT). Ada pula modus membuat korban menjadi Anak Buah Kapal (ABK) dan Pekerja Seks Komersial (PSK). Bahkan ada modus eksploitasi anak.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, kejahatan TPPO kini juga menunggangi teknologi. Mulai fase eksploitasi sejak iklan perekrutan pekerja, meyakinkan bahwa pekerjaannya bergaji tinggi, hingga menerapkan standar metode untuk menjerat calon mangsa berikutnya.
Contohnya di Kamboja. Dilansir BBC, sindikat penipuan judi online sudah terjadi di sana selama tujuh tahun terakhir. Mereka menargetkan orang-orang dari negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, yang membutuhkan pekerjaan. Para WNI yang direkrut itu, kemudian dipindahtangankan dari satu negara ke negara lain, dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk menjadi admin di balik akun-akun penipuan dan judi online.
Satu admin yang berhasil lolos dari sindikat bisnis penipuan dan judi online ini di Surabaya. Kamis lalu, ia berani melaporkan dua perekrutnya yang berasal Madura dan Blitar berdomisili di Malaysia, ke Polda Jawa Timur.
Pria asal Blitar ini diperdagangkan ke sebuah tempat eks kasino di perbatasan Kamboja-Thailand sebagai scammer yang dipaksa menipu target lewat berbagai media sosial. Dalam sehari, dia harus memenuhi target berupa membuat akun-akun palsu dan menjalin komunikasi dengan calon mangsa.
“Sehari kerja 14 jam lebih, istirahat cuma untuk makan. Kalau ketahuan mengantuk, pengawas yang berdiri di belakang akan menyetrum,” ujarnya.
Dari berbagai kisah para admin korban perdagangan orang lainnya dan pria Blitar itu, Cek Fakta Tempo merangkum modus operandi sindikat penipuan dan judi online Asia Tenggara tersebut:
Admin penipuan dan judi online diinstruksikan membuat akun palsu dengan mencuri dari akun selebgram atau warganet biasa. Untuk itu, kita harus selalu mengecek keaslian akun manapun yang berinteraksi dengan kita terlebih dahulu. Caranya ialah dengan kroscek dan melakukan pencarian terbalik menggunakan Google Reverse Image atau cara lain apabila tampak seperti buatan AI. Anda bisa baca tipsnya di nawala edisi ini.
Setelah membuat akun palsu, mereka diminta mendekati mangsa seolah-olah tulus menjalin pertemanan dunia maya. Misalnya, dengan membalas dari story atau postingan yang dibuat, “Wah, mobilmu bagus ya, aku juga suka mobil seperti itu,” atau “Hewan peliharaanmu lucu sekali, aku boleh tahu namanya nggak?”
Semakin lama berinteraksi, para admin penipu akan mencoba mendapatkan data-data pribadi seperti nama asli, tanggal lahir, pekerjaan, umur, nomor telepon, dan lain-lain. Nantinya, data-data ini akan dikembangkan lagi agar skenario penjeratan korban bisa mulus. Tindakan ini disebut social engineering atau rekayasa sosial, yakni manipulasi psikologis seseorang untuk menguak informasi rahasia.
Usai mengumpulkan informasi-informasi pribadi, para admin secara perlahan dan meyakinkan mengajak investasi abal-abal misalnya cryptocurrency. Sebagian lagi menggunakan taktik love scamming (penipuan asmara). Kita seolah-olah sedang menjalin asmara dengan sosok pasangan idaman, tapi ujung-ujungnya dirayu agar kita mengirimkan sejumlah uang. Kita perlu waspada ketika berteman dengan akun asing. Jangan pernah memberikan data-data pribadi.
()













