Satusuaraexpress.co | OPINI – Sakit kepala yang datang tiap sore, lambung yang “ngambek” menjelang deadline, atau mata yang tetap melek jam tiga pagi padahal badan sudah remuk. Bagi banyak anak muda, tanda-tanda ini dianggap lumrah, bagian dari “hustle culture” yang harus ditelan sambil tetap tersenyum. Padahal, semua itu bisa jadi alarm yang dikirim tubuh karena stres sudah melewati batas.
Data menunjukkan persoalannya tidak sepele. Menurut survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022, satu dari tiga remaja Indonesia, setara 15,5 juta jiwa, mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Ironisnya, dilansir dari Kompas.tv, hanya 2,6 persen remaja dengan masalah tersebut yang pernah mengakses layanan kesehatan jiwa. Artinya, sebagian besar anak muda memilih memendam sinyal dari tubuhnya sendiri.
Stres adalah respons alami tubuh terhadap tekanan, baik fisik maupun psikologis. Dalam lembar fakta tentang stres, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa stres sebenarnya membantu kita tetap waspada saat menghadapi bahaya. Masalah muncul ketika tekanan datang terlalu lama atau bertumpuk. Menurut WHO, stres yang tidak dikelola dengan baik, baik jangka pendek maupun panjang, dapat memicu masalah fisik dan mental yang serius, termasuk gangguan jantung.
Karena itu, tubuh sering “bicara” lebih dulu daripada pikiran. Dikutip dari panduan kesehatan Healthwise yang dimuat WellSpan Health, gejala fisik stres yang umum meliputi jantung berdebar, sakit kepala, leher kaku dan bahu tegang, nyeri punggung, napas cepat, keringat berlebih, serta perut tidak nyaman atau mual.
Selain gejala fisik, stres juga mengubah perilaku. Menurut panduan gejala stres dari Remploy dan Harrow Council di Inggris, perubahan pola makan, tidur terlalu sedikit atau terlalu banyak, menarik diri dari orang lain, menunda-nunda tanggung jawab, hingga kebiasaan gugup seperti menggigit kuku bisa menjadi tanda. Panduan yang sama menyebut sering terserang pilek atau flu juga termasuk gejala yang kerap terlewat.
Bagi Gen Z dan Milenial, sinyal ini kerap menyamar sebagai “capek biasa” atau “lagi nggak mood”. Padahal, berdasarkan laporan Stress in America: Generation Z dari American Psychological Association (APA), 91 persen Gen Z dewasa mengalami setidaknya satu gejala fisik atau emosional akibat stres dalam sebulan terakhir, jauh di atas rata-rata orang dewasa secara umum yang sebesar 74 persen. Gejala yang paling sering muncul antara lain sulit tidur karena memikirkan stres (68 persen), makan berlebihan atau memilih makanan tidak sehat (58 persen), serta merasa sedih (58 persen).
Perlu dicatat, survei APA tersebut dilakukan pada 2018 di Amerika Serikat, sehingga tidak otomatis mewakili kondisi di Indonesia. Namun tren serupa terlihat secara global. Laporan Deloitte Global 2024 Gen Z and Millennial Survey, seperti dilansir detikHealth, mencatat bahwa 46 persen Gen Z merasa cemas dan stres hampir sepanjang waktu kerja mereka.
Dari sisi pemicu, Kompas.tv melaporkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental, sebagaimana disampaikan seorang profesor psikologi dalam liputan tersebut. Bagi generasi yang hidup di tengah notifikasi tanpa henti, ini jadi alarm yang patut diperhatikan.
Langkah Sederhana Sebelum Stres Menumpuk
Kabar baiknya, mengelola stres tidak selalu butuh langkah rumit. Berikut beberapa langkah yang dirangkum dari rekomendasi WHO dan laporan media kesehatan.
1. Kenali dan catat pola tubuhmu
Perhatikan kapan sakit kepala, nyeri lambung, atau sulit tidur muncul. Jika selalu bertepatan dengan tekanan tertentu, itu petunjuk bahwa pemicunya adalah stres.
2. Ceritakan ke orang yang kamu percaya
WHO menyebut berbicara tentang stres dengan orang terpercaya sebagai salah satu cara sehat menghadapi tekanan.
3. Bergerak, walau hanya sebentar
Menurut WHO, berjalan kaki pun dapat langsung membantu menurunkan stres. Dilansir dari detikHealth, peregangan, yoga, atau jalan santai dipercaya memicu pelepasan endorfin yang membantu meredakan stres.
4. Pasang batasan
Laporan detikHealth juga menyebut menetapkan batasan yang jelas pada diri sendiri sebagai langkah yang membantu tubuh dan pikiran pulih. Misalnya, tidak membalas pesan kerja setelah jam tertentu atau menjadwalkan jeda dari media sosial.
5. Jaga gaya hidup dasar
Tidur cukup dan pola makan teratur adalah fondasi. Menurut WHO, gaya hidup sehat membuat tubuh lebih siap saat tekanan datang.
6. Cari bantuan profesional bila gejala berlanjut
Berdasarkan keterangan Direktur Kesehatan Jiwa Kemenkes Vensya Sitohang yang dikutip Kompas.tv, layanan kesehatan jiwa tersedia di sejumlah puskesmas dengan tenaga kesehatan yang telah dilatih. Mencari bantuan bukan tanda lemah, melainkan bentuk merawat diri.
Stres bukan musuh yang harus dihindari sepenuhnya, tetapi sinyal yang perlu didengar. Sakit kepala, jantung berdebar, gangguan pencernaan, insomnia, hingga perubahan nafsu makan adalah cara tubuh berkata bahwa bebannya sudah terlalu berat. Data I-NAMHS menunjukkan masalah ini nyata di kalangan anak muda Indonesia, sementara akses ke layanan masih sangat rendah.
Sederhananya jangan tunggu tubuh benar-benar tumbang untuk berhenti sejenak. Produktivitas yang dibayar dengan kesehatan hanyalah utang yang bunganya mahal. Dengarkan tubuhmu hari ini, ceritakan pada orang terdekat, dan datangi tenaga profesional jika perlu. Kamu berhak istirahat tanpa harus merasa bersalah.













