Satusuaraexpress.co | OPINI – Para peneliti menghimpun studi longitudinal, pencitraan otak, dan perilaku, lalu menemukan kaitan konsisten antara membaca dan kinerja kognitif yang lebih baik serta risiko penurunan kognitif yang lebih rendah.
Tinjauan itu terbit di jurnal Psychological Medicine pada 15 September bersama The Queen’s Reading Room, lembaga amal yang mempromosikan manfaat membaca. Para peneliti menghimpun studi longitudinal, pencitraan otak, dan perilaku, lalu menemukan kaitan konsisten antara membaca dan kinerja kognitif yang lebih baik serta risiko penurunan
kognitif yang lebih rendah.
Pada anak, membaca untuk kesenangan sejak dini berkaitan dengan perhatian, memori, dan
fungsi eksekutif yang lebih baik. Data studi ABCD menunjukkan anak yang gemar membaca
pada usia 3 sampai 10 tahun masih menikmati manfaat kognitif, perilaku, dan akademik saat
remaja.
Studi pencitraan otak mengaitkan membaca dengan perbedaan struktur otak, antara lain
volume dan area korteks yang lebih besar pada wilayah untuk bahasa, pembelajaran, regulasi
emosi, dan kontrol eksekutif. Para peneliti juga menemukan konektivitas materi putih yang
lebih kuat untuk pemrosesan bahasa.
Profesor Barbara Sahakian dari Cambridge menyebut membaca sebagai cara yang bagus
untuk menopang kesehatan otak dan kesejahteraan. Ia menambahkan bahwa kelompok baca dan klub buku memberi manfaat tambahan lewat interaksi sosial, dan bahwa “tidak pernah terlambat untuk memulai”.
Lansia yang rajin membaca mengalami penurunan kognitif lebih lambat
Tinjauan Cambridge mengutip studi terhadap hampir 5.500 orang dewasa berusia 55 tahun ke
atas. Mereka yang rutin melakukan aktivitas yang menstimulasi otak, termasuk membaca,
jauh lebih kecil kemungkinannya mengalami gangguan kognitif dalam lima tahun
pengamatan.
Temuan itu sejalan dengan riset Rush University Medical Center, Chicago, yang dimuat di
jurnal Neurology. Studi terhadap 294 orang yang diuji setiap tahun selama enam tahun
menunjukkan penurunan kognitif melambat 32 persen pada mereka yang sering membaca,
menulis, atau melakukan aktivitas yang menantang otak. Pada kelompok yang jarang
melakukannya, penurunan berlangsung 48 persen lebih cepat dari rata-rata.
Studi Rush yang lebih baru terhadap 1.939 orang berusia rata-rata 80 tahun mengaitkan
kegiatan intelektual sepanjang hidup, seperti membaca, menulis, dan belajar bahasa, dengan
risiko demensia hampir 40 persen lebih rendah.
Penulis studinya, Andrea Zammit, menyebut
kesehatan kognitif di usia lanjut sangat dipengaruhi oleh paparan lingkungan yang
menstimulasi sepanjang hidup.
Para peneliti menegaskan hasil ini berupa asosiasi, bukan bukti sebab-akibat.
Enam menit membaca menurunkan stres
Penelitian Universitas Sussex yang dipimpin ahli neuropsikologi kognitif Dr David Lewis
dari Mindlab International menemukan bahwa membaca selama enam menit menurunkan
ukuran stres hingga 68 persen. Detak jantung melambat dan ketegangan otot berkurang,
bahkan sampai di bawah level sebelum peserta dibuat tegang lewat olahraga dan tes mental.
Dalam pengujian yang sama, mendengarkan musik menurunkan stres 61 persen, secangkir
teh atau kopi 54 persen, berjalan kaki 42 persen, dan bermain gim video 21 persen. Para
peneliti menduga konsentrasi pada bacaan dan keterlibatan dalam dunia cerita mengalihkan
pikiran dari sumber tekanan. Studi ini dipublikasikan pada 2009 dan dikenal lewat pemberitaan The Telegraph, sehingga
hasilnya lebih tepat dibaca sebagai temuan awal.
Novel mengubah konektivitas otak selama beberapa hari
Tim neurosains Universitas Emory, Amerika Serikat, memindai otak 21 mahasiswa dengan
fMRI dalam kondisi istirahat. Peserta membaca sekitar 30 halaman novel thriller Pompeii
karya Robert Harris setiap malam selama sembilan hari, lalu dipindai tiap pagi. Hasilnya
dimuat di jurnal Brain Connectivity.
Pada hari-hari setelah membaca, konektivitas meningkat di korteks temporal kiri, area yang
terkait dengan penerimaan bahasa, dan di sulkus sentral, wilayah sensorimotor utama.
Peningkatan itu bertahan beberapa hari meski peserta tidak sedang membaca saat dipindai.
Pemimpin studi, Gregory Berns, menafsirkan perubahan pada sistem sensasi dan gerak itu
sebagai tanda bahwa novel dapat “memindahkan” pembaca ke dalam tubuh tokohnya.
Studi ini berskala kecil dan berstatus uji coba. Editor Nature Noah Gray mengkritiknya dengan mengingatkan bahwa aktivitas lain sepanjang hari juga mengubah konektivitas otak, dan Berns sendiri mengakui lamanya efek masih menjadi pertanyaan terbuka.
Catatan kehati-hatian
Sebagian besar temuan di atas bersifat korelasional. Pemberitaan sempat menyebut membaca menurunkan risiko Alzheimer atau demensia sekitar sepertiga, padahal bukti yang ada mendukung kesimpulan yang lebih terukur: aktivitas yang menstimulasi otak, termasuk membaca, berkaitan dengan penurunan kognitif yang lebih lambat dan angka demensia yang lebih rendah. Orang yang sehat secara kognitif bisa saja lebih mudah menjadi pembaca aktif, bukan sebaliknya.
Para peneliti menekankan bahwa jenis bacaan tidak menentukan manfaatnya, dan klub buku dapat menambah keterhubungan sosial yang juga berperan menekan risiko penurunan kognitif. Dengan biaya rendah dan mudah diakses, membaca menjadi salah satu kebiasaan sehat yang paling gampang dimulai, tetapi bukan pengganti pemeriksaan medis atau gaya hidup sehat lainnya.
Penulis: Yus Yunus | Editor: Ghugus San













