Satusuaraexpress.co | OPINI – Kamu mungkin pernah merasakannya: pagi cerah, siang mendadak gelap, sore banjir. Rencana nongkrong buyar, jalanan macet berjam-jam, dan aplikasi cuaca di ponsel ternyata ikut meleset. Itu bukan sekadar sial. Kita sedang hidup di atmosfer yang semakin bertenaga.
Cuaca Tak Menentu, Bencana Kian Sering
Data kebencanaan menunjukkan pola itu.
Menurut Kepala BNPB Suharyanto, sebagaimana dilaporkan Kompas, sepanjang 2025 tercatat 3.176 bencana alam di Indonesia, dan 99,02 persen di antaranya bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Ia juga menyebut bencana yang datang mendadak sulit diprediksi. Contohnya Siklon Senyar pada 25-26 November di tiga provinsi Sumatra, yang menambah lebih dari 1.100 korban jiwa, hilang, dan luka-luka.
Bagi generasi yang akan menjalani puluhan tahun ke depan di planet ini, ini bukan cerita jauh. Ini soal kota tempat kita bekerja, kos yang kita sewa, dan jalur pulang kampung kita.
Apa Itu Perubahan Iklim, dan Apa Bedanya dengan Cuaca?
Cuaca adalah kondisi atmosfer pada waktu dan tempat tertentu, misalnya hujan deras di Jakarta Selatan sore ini. Iklim adalah pola cuaca rata-rata dalam rentang puluhan tahun. Perubahan iklim terjadi ketika pola rata-rata itu bergeser, terutama akibat penumpukan gas rumah kaca dari aktivitas manusia.
Pergeseran itu terukur. Dilansir dari laman resmi WMO (rilis 6 November 2025), suhu rata-rata permukaan global Januari-Agustus 2025 sekitar 1,42°C di atas rata-rata praindustri. WMO juga menyebut 2015 sampai 2025 sebagai sebelas tahun terhangat dalam catatan 176 tahun, dan tiga tahun terakhir adalah yang paling hangat.
Konsentrasi gas rumah kaca mencatat rekor baru, kandungan panas laut terus meningkat, dan luas es laut Arktik pascamusim dingin terendah sepanjang catatan.
Mengapa Cuaca Terasa Makin Sulit Ditebak?
Pertama, atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air. Menurut klimatolog Mohammed Ombadi dari University of Michigan dalam tulisannya di EarthSky, intensitas hujan pada badai ekstrem diperkirakan naik sekitar 7 persen untuk setiap kenaikan suhu 1°C.
Studinya di jurnal Nature (2023) menemukan kenaikan hingga sekitar 15 persen per 1°C di wilayah lintang tinggi dan pegunungan. Hujan yang dulu “biasa saja” kini bisa jatuh lebih lebat dalam waktu lebih singkat.
Kedua, cuaca Indonesia dikendalikan banyak pemain sekaligus. Direktur Meteorologi Penerbangan BMKG Achadi Subarkah Raharjo, dalam Forum Diskusi Denpasar 12 pada 21 Januari 2026 seperti dilaporkan Metro TV, menyebut faktor pendorongnya meliputi ENSO, monsun Asia dan Australia, MJO, serta IOD. Ia juga menyatakan kondisi saat ini sudah masuk fase krisis iklim, bukan sekadar perubahan iklim. Ketika banyak pemain itu bergerak bersamaan di atas laut yang kian hangat, prakiraan harus menghitung lebih banyak variabel dengan margin kejutan yang lebih besar.
Ketiga, El Niño tahun ini ikut memperkeruh keadaan. Analisis Carbon Brief menyebut El Niño mulai terbentuk pada April 2026 dan mencapai kategori kuat pada Juni, dengan indeks Niño3.4 melampaui 2°C pada awal Juli. Sebagian besar model memproyeksikan puncaknya di paruh kedua 2026, dan berpotensi menjadi yang terkuat dalam catatan modern. Peluang 2026 menjadi tahun terpanas diperkirakan sekitar 35 persen, tetapi bervariasi antar dataset. Karena dampak El Niño biasanya terasa sekitar tiga bulan setelah puncaknya, peluang 2027 menjadi tahun terpanas diperkirakan jauh lebih tinggi, sekitar 92 persen.
Ilmu prakiraan tetap berkembang, dan bukan berarti meteorolog makin tidak becus. Yang berubah adalah bahan bakar di dalam sistemnya. Panas dan uap air berlebih membuat ekstrem lebih sering dan lebih tajam, sehingga selisih kecil pada prakiraan bisa berdampak besar di lapangan. Lantas, apa yang Bisa Kita Lakukan?
1. Jadikan peringatan dini bagian dari rutinitas
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, seperti dikutip Sekretariat Kabinet (13 Oktober 2020), meminta masyarakat rutin memantau prakiraan dan peringatan dini hingga tingkat kecamatan lewat aplikasi Info BMKG. Pasang aplikasinya, aktifkan notifikasi, dan bandingkan dengan laporan cuaca lokal sebelum bepergian.
2. Siapkan diri untuk skenario terburuk
BNPB, menurut pemberitaan Kompas di atas, mendorong penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan, termasuk jalur evakuasi yang berfungsi. Di level pribadi, siapkan tas siaga berisi dokumen penting (simpan juga salinan digitalnya), obat pribadi, power bank, dan senter. Kenali titik kumpul dan rute keluar dari tempat tinggalmu.
3. Kurangi jejak karbon harian
Pilih transportasi umum, jalan kaki, atau sepeda untuk jarak dekat. Hemat listrik, kurangi sampah makanan, dan beli barang secukupnya, termasuk gawai dan fesyen yang cepat usang. Dampak satu orang kecil, tetapi kebiasaan kolektif satu generasi menentukan permintaan pasar.
4. Gunakan suaramu sebagai konsumen dan warga
Dukung produk dan kebijakan yang transparan soal emisi, ikut kegiatan komunitas penghijauan atau pengelolaan sampah di lingkunganmu, dan tagih janji iklim dari pemimpin lokal.
5. Cek fakta sebelum membagikan informasi iklim
Hoaks cuaca, seperti klaim “kemarau terparah” yang pernah dibantah media, mudah viral. Rujuk BMKG, BNPB, atau WMO sebelum menekan tombol bagikan.
Cuaca yang makin sulit ditebak adalah gejala dari atmosfer dan lautan yang menyimpan lebih banyak panas dan uap air, ditambah El Niño kuat yang sedang berjalan. Data WMO, BNPB, dan BMKG memperlihatkan arah yang sama: ekstrem makin sering, dan jeda untuk bersiap makin pendek.
Pesan penutup dari penulis: jangan menunggu bencana untuk peduli, dan jangan menyerah pada rasa cemas. Perubahan iklim tidak bisa kita hentikan sendirian, tetapi seberapa siap dan seberapa ikut berkontribusinya kita adalah pilihan yang bisa dimulai hari ini.
Unduh aplikasi peringatan dini, siapkan tas siaga, kurangi satu kebiasaan boros karbon, dan ajak tiga temanmu melakukan hal yang sama.













