Satusuaraexpress.co | OPINI – Banyak orang tua mengira edukasi keuangan anak cukup dengan celengan. Padahal para pakar menyebut menabung hanyalah satu bagian. Anak juga perlu belajar bahwa uang diperoleh lewat usaha, dipakai dengan pertimbangan, dan tidak sama dengan kasih sayang.
Tanpa itu, anak berisiko tumbuh dengan pandangan bahwa barang adalah ukuran segalanya, yang oleh sebagian orang disebut “matre”.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis OJK bersama BPS
mencatat indeks literasi keuangan 66,46 persen dan inklusi keuangan 80,51 persen, naik dibanding tahun sebelumnya. Namun kebiasaan mengelola uang tidak lahir dari survei.
Menurut Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) di Amerika Serikat, anak belajar dari melihat orang tua mencari nafkah, berbelanja, menabung, dan meminjam, sehingga orang tua adalah pengaruh terbesar dalam kehidupan finansial mereka. Orang tua juga tidak harus jadi ahli keuangan untuk memulai.
Sejumlah kajian pengabdian masyarakat di Indonesia menemukan bahwa sebagian orang tua masih menganggap membicarakan uang di depan anak sebagai hal tabu, sehingga anak tidak siap mengelola keuangan.
Dalam salah satu kegiatan di sebuah kelurahan, hampir seluruh uang saku yang diberikan orang tua terpakai untuk memenuhi keinginan anak, dan anak bisa meminta uang jajan beberapa kali dalam sehari. Temuan ini berskala lokal dan tidak bisa digeneralisasi, tetapi menggambarkan kebiasaan yang mudah ditemui di banyak rumah.
Kapan anak jadi “matre”?
Penelitian Marsha Richins (Universitas Missouri) dan Lan Chaplin (Universitas Illinois di Chicago) terhadap sekitar 700 orang dewasa menemukan tiga pola pengasuhan yang
berkaitan dengan sikap materialistis. Ketiganya adalah memberi hadiah barang setiap kali
anak berprestasi, memakai hadiah sebagai tanda sayang, dan menghukum dengan mengambil
barang kesayangan anak.
Richins menjelaskan bahwa anak yang kerap menerima hadiah semacam itu lebih mungkin memakai barang untuk membentuk jati dirinya. Peneliti yang sama menyarankan orang tua meluangkan waktu bersama anak serta memberi contoh kehangatan, rasa syukur, dan kedermawanan.
Ulasan National Geographic merangkum bahwa materialisme pada anak dikaitkan dengan
harga diri rendah, depresi, kecemasan, dan perilaku egois. Rasa syukur yang lebih tinggi
dikaitkan dengan materialisme yang lebih rendah. Berikut delapan langkah praktisnya:
- Bicarakan uang secara terbuka. Jelaskan dari mana uang keluarga berasal dan ke mana perginya, sesuai usia anak. FDIC, lembaga penjamin simpanan di AS, menyebut anak belajar tentang uang dengan melakukan, membaca bersama orang tua, dan bermain.
- Libatkan anak saat berbelanja. CFPB menyarankan membuat daftar sebelum berbelanja, lalu meminta anak menetapkan target barang yang diinginkan dan membahas langkah mencapainya. Ini melatih anak membedakan kebutuhan dan keinginan.
- Bagi uang saku ke beberapa pos. Banyak pendidik keuangan memakai pembagian sederhana: simpan, belanja, dan berbagi. Ini pendekatan umum yang perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi keluarga.
- Pisahkan hadiah dari kasih sayang. Tunjukkan cinta lewat waktu, pelukan, dan perhatian. Hindari menjadikan barang sebagai imbalan setiap prestasi atau alat hukuman.
- Beri ruang memilih dan merasakan akibatnya. Biarkan anak memutuskan membeli sesuatu dengan uangnya sendiri, lalu ajak ia mengevaluasi hasilnya tanpa menyalahkan.
- Latih syukur dan berbagi. Ulasan National Geographic menyebut orang tua bisa membangun budaya syukur, misalnya dengan menyumbangkan mainan yang tak lagi dipakai. Pengalaman bersama, seperti piknik atau kerja bakti, juga cenderung memberi kebahagiaan yang lebih tahan lama dibanding barang.
- Belajar lewat cerita dan permainan. CFPB mengembangkan klub buku untuk anak 4–10 tahun karena banyak orang tua mengaku tidak selalu punya waktu, alat, atau kepercayaan diri untuk membahas uang. Di Indonesia, OJK menyediakan buku literasi keuangan untuk SD, “Mengenal Jasa Keuangan”, yang disusun bersama Kemendikbud sejak 2015.
- Jadi teladan. Anak meniru cara orang tua menunda pembelian, membandingkan harga, dan mengatur belanja. Dengan menyisihkan tabungan atau dana sosial, orang tua memberi contoh yang lebih kuat daripada nasihat.
Edukasi keuangan juga menjadi benteng dari risiko modern. Sebuah kajian pengabdian masyarakat merujuk laporan PPATK per Juli 2024 yang mencatat sekitar 80.000 anak di bawah 10 tahun terlibat judi online. Angka ini perlu diverifikasi langsung ke laporan PPATK
sebelum dikutip lebih jauh, tetapi menunjukkan pentingnya bekal pemahaman tentang uang
sejak kecil.
Para ahli menekankan bahwa tujuan edukasi uang bukan menghasilkan anak yang pelit atau gemar menimbun, melainkan anak yang paham nilai, mampu menunda keinginan, dan peduli pada sesama. Orang tua juga sebaiknya menghindari melabeli anak “matre”, karena kebiasaan itu biasanya terbentuk dari pola pengasuhan dan lingkungan, dan bisa dilatih ulang.













