Ragam  

Umar Abdul Aziz: Ibu Telah Tiada, tetapi Doanya Akan Selalu Hidup di Hati Anaknya

Screenshot 2026 10 25 07 09 14 61 6012fa4d4ddec268fc5c7112cbb265e7

Satusuaraexpres | Jakarta— Ada kehilangan yang tak mampu dijelaskan dengan kata-kata. Ada kerinduan yang tak bisa disembuhkan oleh waktu. Dan ada sosok yang, meski telah tiada, namanya akan selalu hidup di dalam hati, yakni seorang ibu.

Tokoh Pemuda Jakarta Barat, Umar Abdul Aziz, mengungkapkan kerinduan mendalam kepada ibundanya tercinta, almarhumah Hajah Mariam binti H. Mualim As’ari, yang telah berpulang pada 24 September 2026.

Bagi Umar, kepergian seorang ibu bukan sekadar kehilangan sosok yang melahirkan dan membesarkannya. Lebih dari itu, kepergian ibu merupakan hilangnya tempat untuk pulang, tempat berbagi cerita, serta sosok yang kasih sayangnya tidak pernah meminta balasan.

Kini, waktu telah mengubah segalanya. Tangan yang dahulu bisa dicium, suara yang dahulu menenangkan hati, serta kehadiran yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari hanya tinggal kenangan. Namun, bagi seorang anak, cinta kepada ibu tidak pernah berhenti meski kematian telah memisahkan raga.

“Dahulu, Ibu menjaga saya dengan doa-doanya. Kini, ketika Ibu telah tiada, hanya doa yang bisa saya kirimkan untuknya. Semoga Allah menjaga Ibu di alam kubur sebagaimana dahulu Ibu menjaga saya sejak kecil,” demikian ungkapan yang menggambarkan kerinduan seorang anak kepada ibundanya.

Umar menyadari bahwa tidak ada kesempatan untuk memutar kembali waktu. Tidak ada lagi kesempatan untuk menggenggam tangan sang ibu, meminta nasihatnya, atau sekadar mendengar suaranya. Yang tersisa adalah kenangan, rasa rindu, dan doa yang terus dipanjatkan kepada Allah SWT.

Dalam keheningan doa, Umar berharap setiap amal ibadah, kebaikan, dan pengorbanan ibundanya semasa hidup diterima oleh Allah SWT. Ia juga memohon agar kubur almarhumah dilapangkan, diterangi cahaya-Nya, dijauhkan dari segala siksa, serta ditempatkan di sisi orang-orang yang saleh.

Kerinduan yang Tak Berujung pada Perpisahan

Bagi Umar, cinta seorang anak kepada ibunya tidak selesai di pemakaman. Justru ketika pertemuan secara fisik telah berakhir, doa menjadi jembatan kasih sayang yang terus dipelihara.

Setiap lantunan ayat suci, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap kebaikan yang dilakukan dengan niat memohon rida Allah menjadi bagian dari ikhtiarnya untuk terus mengenang sang ibu.

Kisah ini sekaligus menjadi pengingat bagi siapa pun yang masih memiliki ibu. Selagi kesempatan masih terbuka, peluklah ibu, mintalah doanya, bahagiakan hatinya, dan jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadirannya.

Sebab, ketika seorang ibu telah tiada, penyesalan sering kali datang bersama kenangan tentang hal-hal sederhana yang dahulu dianggap biasa.

Kini, bagi Umar Abdul Aziz, ada satu harapan yang terus dititipkan dalam setiap munajatnya: semoga Allah mempertemukannya kembali dengan ibunda tercinta di tempat terbaik yang telah dijanjikan-Nya.

“Ya Allah, dahulu ibuku adalah tempat saya belajar tentang cinta. Kini, izinkan doa-doa saya menjadi hadiah untuknya. Ampunilah ibuku, sayangilah ia, terangilah alam kuburnya, dan jadikanlah surga sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Jika kelak Engkau izinkan kami bertemu kembali, pertemukanlah kami dalam rahmat dan rida-Mu, tanpa ada perpisahan lagi.”

Bagi seorang anak, kehilangan ibu mungkin menjadi salah satu luka terdalam dalam hidup. Namun, selama doa masih terucap dan cinta masih tersimpan di dalam hati, kenangan tentang seorang ibu akan selalu menemukan tempatnya.

Ibu boleh pergi meninggalkan dunia, tetapi kasih sayangnya akan tetap hidup dalam doa anaknya.

Penulis: Umar Abdul Aziz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *