Rahasia Membentuk Mental Anak yang Tahan Banting Melalui Cara 7C

Cara Membentuk Mental Anak dari Ejekan Teman Sebayanya
Foto: Popmama

Satusuaraexpress.co | OPINI – Sanyak orang tua ingin anaknya kuat menghadapi hidup. Namun cara terbaik membentuk anak yang tangguh ternyata bukan dengan menyingkirkan semua kesulitan dari jalannya. Riset dari lembaga-lembaga psikologi dan kesehatan anak menunjukkan bahwa resiliensi, yaitu kemampuan bangkit dan beradaptasi saat menghadapi tekanan, bisa dilatih dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekat anak.

Resiliensi sering dikira sifat yang hanya dimiliki sebagian anak. Para pakar menyebut kenyataannya lebih sederhana: setiap manusia lahir dengan kapasitas untuk bangkit dari kesulitan, tetapi kapasitas itu bisa diperkuat atau dilemahkan oleh lingkungan tempat anak tumbuh. Temuan Center on the Developing Child di Harvard juga menegaskan bahwa kemampuan yang mendasari resiliensi dapat diperkuat pada usia berapa pun. Artinya, orang tua tidak perlu merasa terlambat.

Dari penelitian itu, faktor yang paling sering ditemukan pada anak yang tumbuh baik meski dilanda kesulitan adalah adanya setidaknya satu hubungan yang stabil dan penuh komitmen dengan orang tua, pengasuh, atau orang dewasa lain. Direktur Center on the Developing Child, Jack Shonkoff, menjelaskan bahwa resiliensi bergantung pada hubungan yang suportif dan responsif serta penguasaan keterampilan untuk menghadapi kesulitan secara sehat, dan keduanya dapat mengubah stres beracun menjadi stres yang masih bisa ditoleransi.

Anak tidak perlu dijauhkan dari semua tantangan. Menurut Harvard, belajar menghadapi ancaman yang masih bisa dikelola sangat penting bagi pembentukan resiliensi, dan dengan bantuan orang dewasa yang suportif, stres semacam ini justru mendorong pertumbuhan. Contohnya adalah kalah dalam lomba, bertengkar dengan teman, atau gagal ujian. Peran orang tua adalah menemani, bukan mengambil alih penyelesaiannya.

Tujuh “C” dari dokter anak

Dokter anak Kenneth Ginsburg menyusun kerangka tujuh unsur resiliensi yang dikenal sebagai “7 C” dan dipromosikan American Academy of Pediatrics (AAP). Di antaranya, competence (merasa mampu menangani urusan hidupnya), confidence (percaya pada kemampuan sendiri), dan control (memahami mana yang ada dalam kendali dan mana yang tidak). Orang tua didorong menjadi teladan, memberi anak kesempatan mengambil keputusan, membantunya mengenali kekuatan diri, dan menjaga komunikasi yang terbuka dan jujur.

Langkah praktis untuk orang tua American Psychological

 Association (APA) merangkum sejumlah langkah yang bisa dimulai di rumah:

1. Bangun jaringan dukungan. Keluarga, guru, teman, dan orang dewasa tepercaya membantu anak merasa yakin mampu melewati kesulitan.

2. Jaga rutinitas. Keseharian yang bisa ditebak membuat anak, terutama yang masih kecil, merasa aman.

3. Dorong anak membantu orang lain. Rasa tak berdaya adalah lawan dari resiliensi, jadi peran menolong menunjukkan bahwa anak mampu.

4. Tetapkan tujuan kecil. Bantu anak menyusun target yang bisa dicapai dan rayakan setiap kemajuan.

5. Ajak merefleksikan pengalaman. Setelah anak melewati situasi sulit, minta ia menceritakan apa yang dipelajarinya.

6. Beri ruang bermain bebas dan contoh keseimbangan hidup. Orang tua juga perlu menunjukkan keseimbangan antara olahraga, bermain, dan istirahat.

Di Indonesia, studi terhadap 5.664 remaja berusia 10–17 tahun beserta pengasuh utamanya menemukan prevalensi depresi sebesar 5,3 persen. Peneliti menyimpulkan bahwa resiliensi individu memberi perlindungan terbesar terhadap depresi dan menjadi perantara bagi resiliensi keluarga, sehingga penguatan resiliensi di tingkat individu dan keluarga dinilai penting.

Dalam ulasan tentang tantangan remaja yang merujuk strategi UNICEF, disebutkan bahwa minimnya dukungan keluarga, tekanan akademik, dan maraknya perundungan turut mengganggu kesehatan mental remaja, sementara stigma membuat mereka sulit mencari bantuan.

Para ahli menekankan bahwa resiliensi dibangun lewat hubungan dan latihan sehari-hari, bukan lewat tuntutan agar anak “kuat” atau tidak menangis. Jika anak menunjukkan perubahan perilaku yang berlangsung lama, seperti murung terus-menerus, menarik diri, atau penurunan prestasi yang drastis, orang tua disarankan berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *