Mengapa Manusia Modern Merasa Kesepian di Tengah Keramaian

IMG 3907
Pinterest/AI Mode

Satusuaraexpress.co | OPINI – Ponselmu mungkin berisi ratusan kontak, grup obrolan yang tak pernah sepi, dan feed yang terus bergerak. Namun ada satu pertanyaan yang kerap sulit dijawab jujur: kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar didengar? Banyak anak muda hidup di tengah keramaian digital dan kota yang padat, tetapi merasa sendirian. Itu bukan sekadar perasaan.

Dilansir dari laman resmi WHO (rilis 30 Juni 2025), satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian, dan kondisi ini dikaitkan dengan sekitar 100 kematian per jam atau lebih dari 871.000 kematian per tahun. Kelompok yang paling terdampak justru kaum muda. WHO mencatat 17-21 persen orang berusia 13-29 tahun melaporkan merasa kesepian, dengan angka tertinggi pada remaja.

Di Indonesia, gambaran serupa mulai terlihat. Penelitian Health Collaborative Center (HCC), seperti dilaporkan CNA Indonesia, menemukan 34 persen siswa SMA di DKI Jakarta terindikasi mengalami masalah kesehatan mental, dan lebih dari 20 persen di antaranya merasa kesepian.

Faktor yang disebut mencakup konflik dengan teman, minimnya hubungan dekat, dan isolasi sosial akibat penggunaan gawai berlebihan. Generasi yang paling terhubung secara teknologi ternyata menjadi salah satu yang paling rentan merasa terputus.

Kesepian (loneliness) adalah perasaan subjektif bahwa hubungan sosial yang kita miliki kurang memadai, baik dari segi jumlah maupun kualitas. Ini berbeda dari isolasi sosial, yaitu kondisi objektif minimnya kontak dengan orang lain.

Seseorang bisa dikelilingi banyak orang dan tetap merasa kesepian. Sebaliknya, seseorang bisa sering menyendiri tanpa merasa kesepian.
Istilah “epidemi kesepian” dipopulerkan oleh otoritas kesehatan. Dalam advisory-nya pada 2023, Surgeon General Amerika Serikat, sebagaimana dirangkum AHRQ, menyebut minimnya koneksi sosial dapat meningkatkan risiko kematian dini hingga setara dengan dampak merokok setiap hari. Isolasi dan kesepian juga disebut sebagai faktor risiko independen untuk penyakit kardiovaskular, demensia, depresi, dan kematian dini.

Pada Mei 2025, Majelis Kesehatan Dunia (WHA) bahkan mengadopsi resolusi pertamanya tentang koneksi sosial, yang mendorong negara anggota menyusun kebijakan berbasis bukti.
Dampaknya bukan hanya pada suasana hati. WHO mencatat kesepian dan isolasi sosial meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, diabetes, penurunan kognitif, dan kematian dini. Orang yang kesepian juga dua kali lebih mungkin mengalami depresi.

Mengapa Kita Kesepian di Tengah Keramaian?

Pertama, kuantitas koneksi tidak sama dengan kualitasnya. Mantan Menteri Kesehatan Prof. Nila Moeloek, seperti dikutip CNA Indonesia, menyoroti kebiasaan anak yang sibuk dengan ponsel saat makan bersama keluarga, yang menurutnya perlahan membuat mereka kesepian. Ia bahkan menyarankan pengaturan batas usia penggunaan media sosial seperti di Belanda dan Australia.

Kedua, dukungan sosial yang nyata lebih berpengaruh daripada interaksi yang sekadar ada. Penelitian Fakultas Psikologi UGM yang melibatkan 527 responden Gen Z di berbagai wilayah Indonesia, dirilis UGM pada 24 Februari 2026 dan terbit di Jurnal Ilmiah Peuradeun, menemukan bahwa welas diri (self-compassion) dan penerimaan diri berperan signifikan menurunkan kesepian. Dukungan sosial bertindak sebagai penghubung kunci antara interaksi sosial dan penurunan kesepian.

Ketiga, tekanan mental yang sudah tinggi memperburuk keadaan. Menurut GoodStats yang merangkum survei I-NAMHS, sekitar 15,5 juta remaja Indonesia (34,9 persen, atau satu dari tiga remaja usia 10-17 tahun) mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental, dengan kecemasan sebagai yang paling umum. Kesepian dan masalah mental kerap saling memperkuat.

Oleh karena itu, ada beberapa langkah solutif keluar dari sepi diantaranya sebagai berikut:

1. Kejar kualitas, bukan jumlah

Cukup satu atau dua orang yang bisa kamu hubungi saat sedang rapuh. Dukungan sosial, menurut temuan UGM, terbukti menjadi penghubung penting. Jadwalkan obrolan atau bertemu langsung secara rutin, bukan hanya saling membalas story.

2. Atur ulang hubungan dengan gawai

Terapkan jam tanpa ponsel, misalnya saat makan bersama. Dengan begitu kamu mengikuti saran Prof. Nila Moeloek tentang kebiasaan ponsel di meja makan. Batasi waktu layar menjelang tidur dan hapus akun atau mute konten yang membuatmu merasa tertinggal.

3. Latih welas diri

Berdasarkan penelitian UGM, penerimaan diri dan self-compassion berperan menurunkan kesepian. Perlakukan dirimu seperti kamu memperlakukan sahabat yang sedang sedih: tanpa menghakimi dan tanpa membandingkan.

4. Bergabung dalam kegiatan nyata

Komunitas olahraga, klub buku, kerja sukarela, atau kelompok hobi menciptakan interaksi berulang yang membangun kedekatan. Mulai dari satu kegiatan mingguan, tidak perlu banyak.

5. Jadi pendengar bagi orang lain

Pakar Universitas Gunadarma M. Noor Rochman Hadjam, seperti dikutip CNA Indonesia, menekankan peran orang tua sebagai pendengar dan pendukung. Prinsip yang sama berlaku bagi teman. Menanyakan kabar dengan tulus bisa menjadi pintu keluar bagi dua orang sekaligus.

6. Cari bantuan profesional bila sudah mengganggu

Rochman memperingatkan bahwa kesepian berkepanjangan dapat memicu depresi berat hingga keinginan bunuh diri, terutama pada remaja yang tidak merasa didukung. Bila perasaan sepi disertai sedih berkepanjangan, sulit tidur, atau pikiran menyakiti diri, hubungi psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan jiwa di puskesmas terdekat, dan ceritakan kepada orang yang kamu percaya.

Kesepian bukan tanda kelemahan, dan bukan pula masalah individu semata. WHO menyebutnya persoalan kesehatan global, dan datanya menunjukkan anak muda berada di barisan terdepan. Teknologi memudahkan kita terhubung, tetapi tidak otomatis membuat kita merasa dekat.

Jangan menunggu orang lain mengetuk dulu. Kirim satu pesan yang tulus hari ini, ajak seseorang makan tanpa ponsel di meja, dan beri ruang bagi dirimu untuk berkata, “Aku sedang tidak baik-baik saja.” Keramaian yang sejati bukan diukur dari jumlah pengikut, melainkan dari seberapa banyak orang yang akan datang saat kamu memanggil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *