Di Negeri Api, Wali Kota Bogor Tegaskan Komitmen Transformasi Energi dan Kota Berkelanjutan

IMG 20260521 WA0013
Di Negeri Api, Wali Kota Bogor Tegaskan Komitmen Transformasi Energi dan Kota Berkelanjutan.

Satusuaraexpress.co | Bogor — Di tengah gelaran forum internasional yang mempertemukan para pemimpin kota dan negara dari berbagai penjuru dunia, Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, berdiri tegak menyuarakan langkah nyata yang sedang dijalankan Pemerintah Kota Bogor demi mewujudkan pembangunan perkotaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Di Negeri Api, sebutan yang melekat pada Azerbaijan, Dedie menyampaikan komitmen tersebut dalam ajang World Urban Forum (WUF) ke-13, tepatnya dalam dialog yang diadakan oleh organisasi Kerjasama Negara-Negara Berkembang (D-8).

Forum strategis ini menjadi wadah penting bagi para peserta untuk saling berbagi pandangan dan pengalaman menghadapi beragam tantangan yang melanda wilayah perkotaan di seluruh dunia, mulai dari dampak perubahan iklim, laju urbanisasi yang cepat, ketahanan pasokan energi, hingga upaya menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.

Dedie menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada Pemerintah Azerbaijan dan pihak pengurus D-8 atas terselenggaranya pertemuan yang dianggap sangat relevan dan krusial tersebut.

Dalam sambutannya, Dedie menyoroti peran ganda kota-kota di masa kini. Ia menyebutkan bahwa kota telah bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang dinamis, tempat lahirnya berbagai inovasi terbaru, serta titik temu konektivitas antarmanusia. Namun, di balik segala kemajuan itu, tersembunyi tantangan berat yang harus dihadapi.

Baca jugaPeralihan Menuju Identitas Digital, Kota Bogor Diminta Migrasikan Data 30 Persen

“Kebutuhan energi yang terus meningkat, tumpukan sampah yang tak kunjung usai, kerusakan lingkungan, serta risiko nyata akibat perubahan iklim menjadi bayang-bayang yang mengancam keberlanjutan kehidupan perkotaan, ” ucap Dedie, Kamis (21/5/2026).

Menurut Dedie, tidak ada lagi jalan terpisah antara transisi energi dan pembangunan kota. Keduanya harus berjalan beriringan, terjalin erat melalui kolaborasi antarberbagai pihak, penerapan inovasi, serta penguatan ketahanan kota untuk jangka panjang. Hal ini juga menjadi prinsip dasar yang dipegang teguh oleh Pemerintah Kota Bogor.

“Di Bogor, kami meyakini bahwa kota berkelanjutan harus dibangun melalui kolaborasi, inovasi, dan ketahanan jangka panjang,” tegasnya.

Salah satu bukti nyata dari keyakinan tersebut adalah fokus utama yang kini dijalankan Pemkot Bogor, yakni mengubah cara pandang terhadap sampah. Bukan lagi sekadar limbah yang harus dibuang, sampah dipandang sebagai potensi besar untuk dikonversi menjadi sumber energi bagi perkotaan yang berkelanjutan.

Data menunjukkan, setiap harinya Kota Bogor menghasilkan sekitar 1.000 ton sampah, sementara wilayah Kabupaten Bogor mencapai angka dua kali lipatnya, yaitu sekitar 2.000 ton. Lebih dari separuh jumlah sampah tersebut, atau sekitar 55 persen, berasal dari limbah rumah tangga, dengan sampah makanan sebagai jenis yang paling mendominasi.

Baca jugaInspeksi Jalur Alternatif: Langkah Cepat Pemkot Bogor Jaga Kelancaran Lalu Lintas Pasca Longsor

Selama bertahun-tahun, pengelolaan sampah di wilayah ini masih sangat bergantung pada metode penimbunan terbuka atau open dumping di tempat pembuangan akhir. Cara kerja ini lama-kelamaan menimbulkan masalah lingkungan yang serius dan menjadi tantangan besar bagi pembangunan kota di masa depan. Menjawab persoalan mendasar ini, Pemerintah Republik Indonesia telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.

“Aturan ini menjadi landasan hukum yang mewajibkan pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari sumber penghasilan hingga penanganan akhir, dengan pendekatan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, ” ujarnya.

Salah satu strategi unggulan dari kebijakan nasional tersebut adalah pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Melalui sistem ini, sampah diolah menjadi energi listrik, yang kemudian akan dibeli oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk dialirkan ke masyarakat. Sejalan dengan arah kebijakan pusat tersebut, Kota Bogor kini melangkah menjadi salah satu pelopor di Indonesia.

“Kota ini menjadi satu-satunya daerah yang memiliki dan mengembangkan dua fasilitas PLTSa sekaligus, yang terintegrasi ke dalam strategi besar pengelolaan lingkungan perkotaan, ” tegasnya.

Dedie memaparkan rincian dari kedua proyek strategis tersebut. Fasilitas pertama berlokasi di Galuga, Kabupaten Bogor, dengan kemampuan mengolah sampah mencapai 1.500 ton setiap harinya. Sementara itu, fasilitas kedua berdiri di wilayah Kayumanis, Kota Bogor, yang dirancang mampu mengolah sekitar 1.000 ton sampah per hari.

Pengembangan proyek besar ini tidak berjalan sendiri, melainkan mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Indonesia melalui Danantara, serta kerja sama dengan para investor strategis yang percaya pada visi pembangunan berkelanjutan.

Baca jugaKota Bogor, Rujukan Pembelajaran Penanggulangan Bencana Nasional

Bagi Dedie, pembangunan fasilitas PLTSa bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Ini adalah wujud nyata komitmen untuk menciptakan lingkungan kota yang jauh lebih bersih, memutus ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir yang semakin terbatas lahannya, menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca, sekaligus memperkuat ketahanan kota demi masa depan generasi mendatang.

Lebih jauh lagi, Dedie menegaskan bahwa konsep kota masa depan yang dibangun Bogor tidak hanya harus cerdas dan modern dari segi teknologi. Pembangunan tersebut juga harus tangguh menghadapi perubahan, bersifat inklusif yang melibatkan semua elemen masyarakat, ramah lingkungan, dan yang paling utama, berpusat pada kebutuhan dan kesejahteraan manusia.

Selain berfokus pada pengolahan sampah menjadi energi, Pemkot Bogor juga terus bergerak di bidang lain. Penguatan tata kelola kota cerdas atau smart city, perluasan dan peningkatan kualitas ruang publik hijau, penggerakan gerakan peduli lingkungan yang melibatkan partisipasi masyarakat luas, serta pengembangan sistem transportasi perkotaan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, semuanya dilakukan demi satu tujuan: meningkatkan kualitas hidup seluruh warga Kota Bogor.

Di hadapan para perwakilan negara anggota D-8, Dedie juga menggarisbawahi pentingnya menjalin kerja sama yang erat antarnegara. Menurutnya, transformasi menuju kota berkelanjutan akan berjalan lebih cepat dan efektif jika didukung dengan kolaborasi, inovasi bersama, pertukaran teknologi terkini, serta saling berbagi pengalaman sukses maupun tantangan yang pernah dihadapi.

“Dari Bogor, Indonesia, kami tetap berkomitmen untuk berkontribusi dalam mewujudkan masa depan perkotaan yang lebih hijau, lebih cerdas, dan lebih tangguh bagi seluruh umat manusia,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *