Kembangan Darurat Curanmor: Warga Mulai Putus Asa dan Enggan Lapor Polisi

Screenshot 2026 03 14 03 42 00 14 1c337646f29875672b5a61192b9010f9 1
Salah satu Curanmor di Kembangan tak terungkap.

Satusuaraexpres | Jakarta – Wilayah Kembangan, Jakarta Barat, tampaknya kian menjadi zona nyaman bagi para pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Insiden terbaru dilaporkan kembali terjadi di Gang Chement, RT 02 RW 02, Kembangan Utara, pada Kamis sore (12/03/2026) sekitar pukul 16.58 WIB.

Meskipun aksi pencurian terjadi di tengah lingkungan padat penduduk dan pada jam aktif warga, pelaku seolah tanpa hambatan melancarkan aksinya. Namun, yang lebih meresahkan dari sekadar hilangnya harta benda adalah tumbuhnya mosi tidak percaya masyarakat terhadap penegakan hukum di wilayah tersebut.

Preseden Buruk: Kasus Menumpuk Tanpa Pengungkapan

​Kejadian di Gang Chement ini menambah daftar panjang kasus kehilangan sepeda motor di wilayah Kembangan. Berdasarkan penelusuran di lapangan, warga mengeluhkan bahwa aksi curanmor telah menjadi “menu harian” yang menghantui mereka. Sayangnya, rentetan kejadian ini belum diimbangi dengan keberhasilan pengungkapan kasus oleh pihak kepolisian, dalam hal ini Polsek Kembangan.

​Ketidakmampuan aparat dalam meringkus komplotan spesialis curanmor di wilayah ini menciptakan atmosfer ketidakamanan yang akut. Warga merasa ditinggalkan sendiri menghadapi ancaman kriminalitas tanpa perlindungan yang nyata.

Fenomena “Enggan Lapor”: Stigma Efektivitas Polsek Kembangan

​Salah satu temuan paling pahit di tengah masyarakat Kembangan adalah munculnya rasa apatis untuk melaporkan tindak kejahatan. Beberapa warga yang pernah menjadi korban pencurian di Jalan Raya Kembangan secara terang-terangan menyatakan keengganan mereka untuk mendatangi kantor polisi.

​”Buat apa lapor? Hanya buang-buang waktu. Tidak ada tindak lanjut yang jelas, apalagi sampai motor kembali,” ujar salah seorang warga yang pernah kehilangan kendaraan namun memilih diam.

​Stigma bahwa “laporan tidak akan mengubah keadaan” kini mulai mengakar. Hal ini menjadi sinyal bahaya bagi kredibilitas institusi kepolisian. Jika korban kejahatan sudah merasa bahwa melapor adalah tindakan sia-sia, maka fungsi Polri sebagai pengayom dan penegak hukum dipertanyakan keberadaannya di wilayah Jakarta Barat.

​Kegagalan mengungkap rentetan kasus curanmor ini semestinya menjadi bahan evaluasi serius bagi jajaran Kepolisian Sektor Kembangan. Masyarakat kini menuntut lebih dari sekadar olah TKP formalitas; mereka menuntut hasil nyata berupa penangkapan pelaku dan kembalinya rasa aman di gang-gang pemukiman mereka.

​Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Polsek Kembangan terkait strategi khusus untuk menekan angka curanmor yang kian menggila atau penjelasan mengenai kendala pengungkapan kasus-kasus sebelumnya.

​Kembangan kini berada di persimpangan jalan: Apakah aparat akan bergerak memulihkan kepercayaan publik melalui tindakan tegas, atau membiarkan wilayah ini terus menjadi “surga” bagi para pencuri motor sementara warganya hidup dalam kecemasan permanen?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *