Fakta Penggrebekan Pesta Gay di Setiabudi, Belajar Dari Thailand Hingga Bentuk Group di Indonesia

20200902 210420
Kondisi para lelaki yang ikut pesta gaya saat digrebek Polda Metro Jaya

Satusuaraexpress.co – Jajaran Dirkrimum Polda Metro Jaya menggrebek pesta gay di Kuningan Suite lantai 6 kamar 608, Jalan Setiabudi Raya, Jakarta Selatan. Dari pengungkapan tersebut polisi mengamankan 56 pria sedang pesta seks. Dari 56 pria, 9 diantaranya ditetapkan menjadi tersangka.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan 9 orang yang ditetapkan menjadi tersangka memiliki perannya masing-masing, hanya saja mereka merupakan penyelenggara pesta tersebut. “9 tersangka itu penyelenggaranya langsung dalam perbuatan cabul atau pornografi, melakukan pesta seks di suatu tempat,” terang Yusri, Kamis (3/9/2020).

20200903 082521
Jajaran Polda Metro Jaya memperlihatkan barang bukti hasil ungkap kasus pesta gay di Setiabudi, Jakarta Selatan

Yusri menjelaskan pelaku berinisial Teuku Ramzy, yang mana selaku pimpinan penyelenggara dan penyewa kamar hotel. Lalu, Beny dan Andri selaku penyedia konsumsi. Nicolas selaku bagian keamanan agar tak ada peserta yang membawa narkotika ataupun barang senjata.

Lalu, lanjut Yusri, Kevin selaku penjaga barang-barang milik peserta. Kemudian, Setyo selaku bagian registrasi dan administrasi. Terakhir, Nabil, Hariz, dan Ramadhan selaku panitia yang menjemput peserta di lobi saat tiba di hotel dan mengantarkannya ke kamar, tempat acara pestanya digelar.

“Totalnya ada 56 orang yang ditemukan saat dilakukan penggerebakan pada 29 Agustus kemarin, tapi 9 orang yang diamankan selaku penyelenggara kami tetapkan tersangka, sedangkan 47 orang lainnya sebagai saksi,” katanya.

Baca juga : Saat Digrebek, Polisi Temukan Ini di Kamar 608

Adapun undangan pesta cabul itu dikirimkan melalui group WhatsApp dan Instagram. Para pelaku merekrut peserta pesta gay melalui group di media sosial, yakni WhatsApp dan Instagram. Di group medsos yang bernama Hot Space, totalnya ada sekitar 230 anggota, 150 anggota ada di group WhatsApp, sedangkan 80 anggota ada di group Instagram.

“Kegiatan cabul itu dilakukan dengan membuat undangan. Pelaku TRF (Teuku) membuat undangan berjudul Kumpul Kumpul Pemuda untuk merayakan kemerdekaan, lalu dipromosikan melalui group medsos yang ada,” ujarnya.

Baca juga : Miris, Pesta Gay di Apartemem Ditengah Pandemi Covid-19

Menurutnya, persiapan pesta gay itu dilakukan selama satu bulanan dengan dalih perkumpulan pemuda guba merayakan hari Kemerdekaan. Padahal, modusnya sengaja mempermudah orang-orang melakukan hubungan cabul sesama jenis.

Saat sudah ada peserta yang terdata, kata dia, penyelenggara lantas membuat aturan bagi para peserta yang hendak datang. Peserta diwajibkan membayar tiket sebesar Rp150 ribu perorang, sedangkan saat datang bertiga dikenakan harga tiket Rp350 ribu.

“Setiap peserta wajib menggunakan dresscode menggunakan masker warna merah putih. Di dalam, mereka ada yang sebagai perempuan dan ada yang sebagai laki-laki lalu melakukan permainan,” tuturnya.

Kepada polisi, salah satu pelaku yakni TRF mengaku belajar mengadakan pesta gay dari Thailand. “Penyelenggara ini terinspirasi dari acara pesta sex khusus homo di Thailand saat berkunjung ke Thailand, dia belajar lalu mempraktekannya,” ujar Yusri.

Baca juga : Komplotan Begal Spesialis Jalan Tol Tak Berkutik Saat Diringkus Polisi

Menurutnya, dalam acara pesta sex yang diselenggarakan di Setiabudi, penyelenggara pun menerapkan berbagai aturan pada peserta. Diantaranya, tak boleh memawa sajam dan narkotika, membersihkan diri atau mandi sebelum acar dimulai, wajib membayar tiket, dan saat di lokasi acara peserta wajib pakai celana dalam atau telanjang bulat.

“Setiap peserta wajib pakai dresscode masker warna merah putih. Di dalam, ada yang sebagai perempuan atau disebut BATEM dan ada yang sebagai laki-laki atau disebut TOP. Pestanya dibuat seperti permainan atau game,” tuturnya.

Yusri menyebutkan, penyelenggara pesta gay di Setiabudi, Jakarta Selatan sudah beberapa kali menggelar pesta gay. Bahkan, komunitas gay itu sudah terbentuk sejak tahun 2018 lalu. “Mereka mendirikan komunitas di medsos sejak Februari 2018 lalu. Selama ini, mereka sudah enam kali melakukan kegiatan cabul (pesta gay) di tempat berbeda-beda,” ungkapnya.

20200903 082500
Sembilan pelaku ditetapkan menjadi tersangka kasus pesta gay

Menurutnya, pesta gay itu dilakukan dengan modus, promosi, dan bayaran yang hampir serupa sebagaimana yang digelar di Setiabudi, Jakarta Selatan. Bahkan, permainan atau game dalam pesta gay itu pun serupa, mulai dari oral seks hingga seks bebas, hanya jumlah pesertanya saja yang berbeda-beda.

“Saya tak bisa sebutkan secara rinci, tapi tempatnya biasanya di hotel atau apartemen di Jakarta semua, lalu ditarik bayaran. Rata-rata mereka usianya 20-40 tahun dan mereka bukan mencari keuntungan, tapi hanya kesenangan,” tuturnya.

Adapun para peserta, tambahnya, menghirup obat perangsang demi membuat permaianannya itu lebih menyenangkan. Dari 9 penyelenggara yang diamankan itu, satu diantaranya diketahui terkena HIV. “Kita sudah cek protokol kesehatan, dilakukan rapid test dan semuanya negatif. Namun, kita akan cek kembali semuanya secara kesehatan,” katanya.

Akibat perbuatannya itu, para tersangka dijerat pasal 296 KUHP dan atau pasal
33 Jo Pasal 7 Undang Undang No. 44 Tahun 2008 dan atau pasal 36 Jo pasal 10 Undang Undang No. 44 Tahun 2008 dengam ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. (CR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *