Satusuaraexpress.co | Bogor — Pasca dilanda hujan deras dengan intensitas tinggi yang memicu banjir di sejumlah titik lintasan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor segera bergerak menyiapkan serangkaian langkah penanganan. Fokus utama yang digarap adalah normalisasi saluran drainase di lokasi-lokasi yang teridentifikasi rawan tergenang air, sebagai bentuk antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menegaskan bahwa pembenahan sistem drainase kini menjadi prioritas utama dalam agenda kerja penanggulangan bencana kota. Menurutnya, perubahan pola cuaca yang semakin tidak menentu dan curah hujan dengan tingkat keparahan tinggi menuntut kesiapan maksimal dari seluruh jajaran pemerintahan.
“Antisipasi perubahan cuaca dan hujan dengan curah hujan ekstrem sudah menjadi keharusan. Saya meminta seluruh aparatur di wilayah untuk siap melakukan mitigasi, pemetaan, dan langkah antisipasi di titik-titik rawan,” ungkap Dedie, Selasa (26/5/2026).
Salah satu lokasi yang mendapatkan perhatian khusus adalah saluran drainase di Jalan Dadali. Kondisi fisik saluran di kawasan ini terlihat mengalami penyempitan dan tertimbun endapan lumpur serta material sedimen yang menumpuk lama. Akibatnya, kapasitas aliran air menjadi berkurang drastis, sehingga saat hujan turun deras, air limpasan dari jalan tidak lagi mampu mengalir dengan lancar menuju saluran utama di bawah trotoar.
Baca juga : Peralihan Menuju Identitas Digital, Kota Bogor Diminta Migrasikan Data 30 Persen
Hal ini diperparah dengan keberadaan para pedagang tanaman hias yang mendirikan lapak dagangan di atas area trotoar dan tepi saluran, yang secara fisik menjadi penghalang sekaligus menyulitkan akses untuk melakukan perbaikan.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, Dedie menyebut, Camat Tanah Sareal Rokib, telah turun langsung melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada seluruh pedagang di lokasi. Ia menjelaskan bahwa area tersebut harus dikosongkan karena akan segera dilakukan pembongkaran saluran lama guna diperlebar dan dinormalisasi kembali, demi mengembalikan fungsi saluran pembuangan air agar berjalan efektif.
Masalah serupa juga terjadi di kawasan Perumahan Yasmin Sektor 6. Di sini, tumpukan sampah anorganik dan limbah rumah tangga menyumbat aliran drainase sepenuhnya.
“Akibat tersumbatnya saluran tersebut, debit air yang tertampung semakin meningkat dan menimbulkan tekanan besar hingga akhirnya menjebol dinding pembatas yang memisahkan kawasan perumahan dengan jalur jalan protokol di sebelahnya, sehingga air meluap dan menggenangi jalan utama, ” ujarnya.
Baca juga : Inspeksi Jalur Alternatif: Langkah Cepat Pemkot Bogor Jaga Kelancaran Lalu Lintas Pasca Longsor
Selain dua lokasi tersebut, pembenahan drainase juga diprioritaskan di sepanjang Jalan Kapten Yusuf, Cikaret. Penanganan di titik ini memiliki tantangan tersendiri, mengingat saluran drainase yang ada di sana merupakan bagian dari aliran yang bersumber dari wilayah hulu yang masuk dalam cakupan wilayah Pemerintah Kabupaten Bogor, tepatnya di daerah Tamansari dan Ciapus.
“Pemkot Bogor telah menekankan perlunya koordinasi erat dan kerja sama lintas wilayah agar penanganan yang dilakukan di hilir tidak sia-sia akibat masalah yang belum terselesaikan di hulu, ” terangnya.
Dedie A. Rachim kembali mengingatkan bahwa penanganan masalah drainase dan mitigasi banjir tidak bisa dilakukan secara parsial. Kolaborasi antara pemerintah kota, kecamatan, kelurahan, hingga kerja sama dengan pemerintah kabupaten tetangga menjadi kunci utama agar dampak banjir lintasan dapat diminimalkan dan keamanan serta kenyamanan warga kota tetap terjaga saat menghadapi musim hujan.













