Targetkan 15.000 Hektare Tambak di Aceh Beropesi pada Akhir Tahun 2026

IMG 20260729 WA0000
Targetkan 15.000 Hektare Tambak di Aceh Beropesi pada Akhir Tahun 2026.

Satusuaraexpress.co | Aceh – Kawasan tambak di sejumlah wilayah Aceh yang sempat terhenti total aktivitasnya akibat bencana hidrologi kini perlahan mulai menampakkan tanda-tanda pemulihan. Genangan air yang dulu menggenangi lahan budidaya kini perlahan surut, digantikan oleh gerak aktif petambak yang kembali mengurus kolam, sebuah pemandangan yang dinanti-nantikan warga pesisir sejak musibah melanda.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kini bergerak cepat memperbaiki kerusakan infrastruktur demi memastikan warga bisa segera kembali berbudidaya dan menggerakkan kembali roda ekonomi yang sempat terhenti.

Saat meninjau langsung lokasi tambak di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya pada Jumat (24/7/2026), Sekretaris Jenderal KKP Andy Artha menyampaikan bahwa pemerintah menargetkan seluas 15.000 hektare tambak di Aceh dapat kembali beroperasi sepenuhnya hingga akhir tahun 2026.

“Pada tahap awal, paling lambat September nanti, setidaknya 5.200 hektare lahan budidaya diharapkan sudah siap digunakan kembali,” kata Andy, Rabu (29/7/2026).

Baca jugaKementerian KKP Resmikan Ocean Institute of Indonesia, Perkuat Pendidikan Vokasi dan SDM Kelautan Nasional

Pemulihan yang dilakukan tidak berhenti sekadar memperbaiki kerusakan fisik tambak. Segera setelah konstruksi selesai, tim pemerintah langsung menyalurkan benih unggul dan pakan ternak agar petambak tidak perlu menunggu lama untuk memulai usaha kembali. Langkah ini menjadi bukti nyata sinergi erat antara KKP, pemerintah daerah, serta dukungan penuh dari Komisi IV DPR RI yang menjadi kunci keberhasilan percepatan program ini.

“Tujuan kami bukan sekadar memperbaiki tambak, tetapi memastikan masyarakat kembali berproduksi. Karena itu setelah rehabilitasi selesai, kami juga menyiapkan bantuan benih dan pakan sehingga petambak dapat langsung memulai budidaya,” tegas Andy.

Hingga saat ini, tercatat seluas 694 hektare tambak sudah kembali beroperasi, dengan ribuan benih udang, bandeng, kakap, dan nila salin sudah ditebarkan ke dalam kolam-kolam yang telah direvitalisasi. Angka ini dipastikan akan terus bertambah seiring berlanjutnya pekerjaan rehabilitasi di berbagai kabupaten terdampak.

Baca jugaRakornas KKP 2026 Akselerasi Program Menuju Swasembada Pangan dan Kesejahteraan Nelayan

Untuk mempercepat proses pembersihan dan perbaikan lahan, KKP juga telah mengirimkan 12 unit ekskavator ke wilayah Sumatera bagian utara, delapan di antaranya khusus ditempatkan di sejumlah kabupaten di Aceh. Dukungan tak berhenti di sana: pemerintah juga menyalurkan bantuan mesin kapal bagi nelayan serta 100 unit kotak pendingin berkapasitas 300 liter untuk menjaga kesegaran hasil tangkapan warga di Kabupaten Bireuen dan Aceh Utara.

Dengan menerapkan pola budidaya teknologi tradisional plus, setiap hektare tambak yang sudah beroperasi diperkirakan mampu menghasilkan 600 kilogram udang dalam satu siklus panen. Jika dikalikan dengan harga rata-rata Rp50 ribu per kilogram, potensi pendapatan bisa mencapai Rp30 juta per hektare hanya dalam waktu tiga bulan.

“Keberhasilan program ini tidak hanya dilihat dari selesainya rehabilitasi, tetapi dari kemampuan petambak kembali bekerja dan memperoleh pendapatan,” tambah Andy.

Agar pemulihan tidak terhambat birokrasi, KKP melakukan penyesuaian alokasi anggaran internal sehingga bantuan bisa segera disalurkan tanpa menunggu proses administrasi yang panjang, seluruh bantuan diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat. Langkah cepat ini mendapat apresiasi tinggi dari Anggota Komisi IV DPR RI, TA Khalid.

Baca jugaWamen KKP: Sinergi Lintas Pihak Kunci Keberhasilan Pembangunan di Pantura Jawa

“KKP mengambil langkah yang sangat cepat dengan melakukan refocusing anggaran internal, ini menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada masyarakat Aceh yang terdampak bencana,” ujarnya.

Harapan besar kini juga muncul dari kalangan petambak. Fazil, warga Pidie Jaya yang tambaknya rusak berat, mengaku sangat terbantu dengan adanya bantuan sarana produksi. “Bantuan benih dan pakan ini sangat membantu kami untuk kembali beroperasi. Saya yakin tiga bulan ke depan sudah bisa panen,” ujarnya dengan senyum sumringah.

Secara bertahap, kawasan tambak yang dulu sunyi kini kembali riuh oleh aktivitas warga menjadi awal baru bagi kebangkitan ekonomi pesisir Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *