Satusuaraexpress.co | Jakarta — Pasar keuangan Indonesia kembali bergerak setelah libur panjang perayaan Idul Adha yang berlangsung pada 27 hingga 28 Mei 2026. Pada hari pertama perdagangan, nilai tukar rupiah langsung menunjukkan pergerakan yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Mata uang Garuda dibuka di posisi Rp17.800 per satu dolar AS, menandakan terdepresiasi sebesar 0,14 persen dibandingkan penutupan perdagangan terakhir sebelum libur.
Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi tolok ukur kekuatan mata uang hijau terhadap enam mata uang utama dunia terpantau bergerak dalam rentang yang stabil. Pada pukul 09.00 WIB, DXY berada di angka 98,974, sedikit berubah setelah sebelumnya ditutup melemah 0,19 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah yang terus melemah ini memunculkan pandangan mendalam dari para pengamat ekonomi. Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa rupiah saat ini sedang berada dalam fase overshooting.
“Kondisi ini berarti pelemahan nilai tukar telah bergerak jauh lebih dalam dan tajam dibandingkan apa yang seharusnya dijustifikasi oleh fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia, ” kata Fakhrul.
Baca juga : Amankan dua WNA Liberia Terlibat Kasus Penipuan Modus Black Dollar
Menurutnya, penurunan nilai rupiah tidak semata-mata disebabkan oleh kondisi ekonomi dalam negeri yang buruk, melainkan merupakan respons pasar terhadap gabungan tekanan dari lingkungan ekonomi global, arah kebijakan yang diambil pemerintah, serta ketidakpastian mengenai proses penyesuaian ekonomi yang sedang berjalan.
“Pasar keuangan tidak hanya membaca data ekonomi harian yang muncul. Pasar membaca arah kebijakan yang ditetapkan, seberapa kredibel tanggapan pemerintah terhadap perubahan, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat,” ujar Fakhrul.
Lebih jauh dijelaskan, rupiah saat ini seolah-olah menjadi satu-satunya titik penyesuaian utama yang menampung seluruh tekanan ekonomi, padahal seharusnya beban tersebut tersebar ke berbagai sektor lain.
Dalam kondisi ekonomi yang normal, ketika harga energi di pasar global mengalami kenaikan, dampak tekanan akan terbagi merata: sebagian memengaruhi tingkat inflasi, sebagian lain menekan posisi keuangan negara atau fiskal, sebagian tercermin dalam perubahan harga barang dan jasa di dalam negeri, dan sisanya baru terasa pada nilai tukar mata uang.
Baca juga : Terdepresi, Rupiah masih ‘KO’ dengan Dollar AS Hingga Mendekati Rp15 Ribu
Namun, di tengah upaya pemerintah menjaga stabilitas sosial dan daya beli masyarakat, langkah penyesuaian kebijakan ekonomi dalam negeri dilakukan dengan sangat hati-hati dan bertahap. Akibatnya, saluran penyerapan tekanan ekonomi menjadi terbatas, dan beban yang seharusnya terbagi akhirnya beralih terlalu besar ke pundak rupiah.
“Rupiah akhirnya menjadi penyerap goncangan atau shock absorber yang utama. Inflasi ditahan agar tidak melonjak, harga energi juga dikendalikan agar tetap terjangkau, tetapi tekanan ekonomi yang ada tidak hilang begitu saja. Tekanan itu hanya berpindah tempat, dan akhirnya tertumpuk sepenuhnya ke nilai tukar rupiah,” jelas Fakhrul.
Inilah alasan yang membuat penurunan nilai rupiah terlihat jauh lebih besar dan nyata dibandingkan pergerakan indikator ekonomi lainnya yang relatif lebih terjaga.
Kondisi ini kini mulai membawa dampak serius bagi sektor riil dan dunia usaha. Pelaku ekonomi kini harus menghadapi tekanan ganda yang datang secara bersamaan. Di satu sisi, melemahnya rupiah membuat biaya impor menjadi lebih mahal, mulai dari bahan baku industri, kebutuhan energi, peralatan dan mesin, hingga biaya logistik. Di sisi lain, tingkat suku bunga yang masih berada di level tertentu serta tingginya imbal hasil surat berharga pemerintah membuat biaya pembiayaan dan pinjaman usaha ikut meningkat tajam.
Kombinasi tekanan ini terasa sangat berat, terutama bagi industri manufaktur, sektor properti dan konstruksi, perdagangan ritel, serta sektor-sektor usaha yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap utang atau leverage.
Baca juga : Data BPS Catat Angka Kemiskinan di Indonesia Turun 0,2 Juta, Metode Garis Kemiskinan Jadi Sorotan
“Jika kondisi seperti ini berlangsung terlalu lama, maka perusahaan tidak hanya akan mengalami penurunan keuntungan atau tekanan pada marjin usaha saja. Lebih dari itu, mereka akan mulai menahan rencana ekspansi, mengurangi nilai investasi baru, hingga bersikap lebih berhati-hati dan defensif dalam hal perekrutan tenaga kerja,” tambahnya.
Menghadapi ketidakpastian dan tekanan ekonomi ini, Fakhrul menyarankan agar dunia usaha mengubah strategi. Fokus utama sebaiknya dialihkan pada penguatan ketahanan operasional perusahaan, bukan lagi mengejar pertumbuhan agresif dalam jangka pendek.
Langkah-langkah yang perlu diambil antara lain menjaga ketersediaan likuiditas atau dana tunai yang cukup, mengelola risiko perubahan nilai tukar mata uang asing dengan cermat, memperkuat efisiensi di setiap lini produksi dan operasi, serta menghindari penambahan utang yang berlebihan.
Meski demikian, di balik tekanan yang berat, fase overshooting ini juga membawa sisi lain yang bisa dimanfaatkan. Fakhrul menilai bahwa kondisi pelemahan mata uang yang berlebihan dan sementara ini justru membuka peluang besar bagi perusahaan-perusahaan yang memiliki kondisi keuangan dan neraca yang sehat serta kuat.
“Setiap fase overshooting biasanya juga menciptakan momen akumulasi aset yang menarik bagi pelaku usaha yang sudah siap dan memiliki ketahanan finansial yang baik,” tutupnya.













