Program SMK Guru Global, BP3MI Jakarta Berangkatkan 60 CPMI ke Malaysia

IMG 20260224 112649 scaled
Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri di lingkungan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Dwi Setiawan Susanto menghadiri pelepasan PMI ke Malaysia melalui program SMK Go Global.

Satusuaraexpress.co | Jakarta— BP3MI Jakarta telah melaksanakan kegiatan persiapan orientasi bagi mereka yang akan bekerja di luar negeri, sebagai bagian dari rangkaian program SMK Guru Global. Program ini memberikan pilihan bagi lulusan SMK untuk bekerja tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri.

Direktur Jenderal Promosi dan Pemanfaatan Peluang Kerja Luar Negeri Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Dwi Setiawan Susanto menjelaskan bahwa seluruh peserta telah melalui persiapan menyeluruh, mulai dari kompetensi, kualifikasi, keterampilan teknis, kemampuan bahasa, komunikasi, hingga sikap mental.

“Pada awal tahun ini, sebanyak 60 orang telah diangkat ke sektor manufaktur di Malaysia dalam status pekerja formal, yang memberikan perlindungan dan kesejahteraan yang lebih baik,” kata Dwi, Selasa (24/2/2026).

Program ini direncanakan sebagai kolaborasi dengan seluruh SMK di Indonesia, dengan penyesuaian kurikulum dan proses pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan negara tujuan. Malaysia menjadi salah satu negara tujuan utama, selain negara prioritas lainnya seperti Jepang, Korea, Jerman, Austria, dan negara-negara di Timur Tengah, yang fokus pada pekerja terampil atau pekerja pikiran yang memiliki keterampilan khusus.

Baca jugaBentuk Negara Hadir, KP2MI Pulangkan Jenazah Pekerja Migran ke Kampung Halaman

Kolaborasi yang dilakukan bersama Kemenko Pemberdayaan, KP2MI, dan lintas kementerian, dengan harapan memberikan dampak tidak hanya pada kesejahteraan dan kompetensi individu, tetapi juga pada perkembangan ekonomi sosial yang lebih luas.

“Pekerja migran diharapkan menjadi pejuang yang tidak hanya memperoleh pengalaman, tetapi juga berkontribusi dalam membangun Indonesia, daerah, dan desa mereka melalui hasil kerja yang diperolehnya,” ujarnya.

Dalam bidang manufaktur, peserta akan melakukan pekerjaan teknis terkait proses produksi dan dukungan operasional sesuai dengan pengugasan di tempat kerja. SMK yang terlibat merupakan lembaga yang memiliki keahlian yang sejalan dengan bidang pekerjaan tersebut, dan sebagai pekerja migran, mereka harus memenuhi kualifikasi khusus yang telah dipersiapkan oleh Direkturat Pengembangan Kapasitas.

“Untuk skema penempatan, kerjasama terbaik dengan negara tujuan yang telah memiliki perjanjian kerja sama, termasuk sistem “zero cost” di mana seluruh biaya persiapan, kompetensi, dan penempatan didukung secara kolaboratif dengan pihak Malaysia, ” terangnya.

Baca jugaDuta Besar RI untuk Malaysia Datangi KP2MI, Bahas Perlindungan PMI

Selain bekerja, para pekerja migran juga diimbau untuk meningkatkan pendidikan hingga jenjang S1, salah satunya melalui kerjasama dengan Universitas Terbuka atau universitas lain. Prinsip utama program ini adalah memberikan kesempatan pengembangan diri, di mana peserta dapat memperoleh pengalaman kerja dengan perspektif global, meningkatkan keterampilan, komunikasi, dan pendidikan melalui pembelajaran fleksibel atau alternatif lainnya.

“Pemerintah dan kementerian sangat mendukung kerjasama semacam ini, karena bukan hanya sekedar pekerjaan tetapi juga kesempatan untuk mengembangkan potensi pengetahuan, keterampilan, dan pendidikan,” kata Dwi.

Program ini sejalan dengan arahan Presiden untuk mencapai target penempatan 500 ribu pekerja migran per tahun, dengan strategi yang disesuaikan sesuai dengan kualifikasi dan kompetensi yang dibutuhkan masing-masing negara tujuan. Target ini menjadi momentum untuk meningkatkan kapasitas SMK, lembaga terkait, guru, dan pekerja migran secara keseluruhan.

“Saat ini, remitansi dari pekerja migran mencapai rata-rata 250 triliunan rupiah per tahun, dan dengan peningkatan jumlah pekerja migran menjadi 500 ribu orang per tahun, diperkirakan dapat mencapai 500 triliunan rupiah dalam beberapa tahun mendatang. Hal ini menjadikan sektor pekerja migran sebagai alternatif yang kompetitif, bahkan dapat menyamai sektor migas,” jelasnya.

Kepala BP3MI Jakarta, Kombes Dr. Amran Muis menjelaskan bahwa secara teknis, para pekerja akan diberangkatkan dalam beberapa hari mendatang setelah melalui proses Orientasi Persiapan Keluar Negeri (OPP) dan dilepas oleh perwakilan Menteri. Sebagian dari 60 orang yang akan diberangkatkan telah melalui proses pra-penempatan dengan durasi pelatihan yang bervariasi antara 30 hari hingga 5 bulan, sesuai dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing peserta.

Baca juga : KP2MI Buka Peluang Penempatan Pekerja Migran Indonesia ke Suriname dan Guyana

“Pelatihan mencakup pembelajaran bahasa, adaptasi budaya, dan peningkatan kapasitas sesuai dengan pekerjaan yang akan diemban,” kata Amran.

Mengenai upah kerja, di Malaysia para pekerja menerima upah dasar sebesar 1.700 ringgit Malaysia (sekitar 6,5 juta rupiah dengan kurs saat ini), di luar upah lembur yang dapat meningkatkan pendapatan mereka. Sementara di Jepang, upah dasar untuk pekerja formal juga sebesar sekitar 1,7 juta yen per bulan (sekitar 19 juta rupiah), juga di luar upah lembur.

Selain Malaysia, program ini juga menyasar negara-negara tujuan lain seperti Jepang, Korea, Jerman, negara-negara Eropa lainnya, dan Timur Tengah, dengan kerjasama yang terus dikembangkan hingga mencapai lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Para pekerja migran diharapkan dapat menjadi duta bangsa yang membawa nama baik Indonesia di kancah internasional,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *