Imbas Kebijakan tarif Trump Rupiah Terpuruk, Sentuh Level Psikologis Rp 17.000 per Dolar AS

Screenshot 2025 0407 144343

Satusuaraexpress.co | Jakarta – Nilai tukar Rupiah terus melemah hingga menyentuh level psikologis Rp 17.000 per Dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah anjlok ke level terburuk Rp 17.217 per Dolar AS pada Senin (7/4) pukul 09.16 WIB atau pukul 22.16 waktu New York, Minggu (6/4). Posisi di level tersebut bertahan sekitar 1 menit dan kini Rupiah berada di posisi Rp 16.995 per Dolar AS pukul 13.44 WIB.

Angka ini menjadi imbas dari kebijakan tarif Trump yang memicu ketidakpastian global hingga bursa saham asia kompak memerah. Selain Indonesia yang terkena tarif impor Trump sebesar 32 persen, sejumlah negara ASEAN juga turut terdampak tarif impor tinggi dari Presiden AS tersebut.

Baca juga : ESDM Memutuskan Tarif Listrik April Sampai Juni Tidak Naik

Thailand dikenakan tarif sebesar 36 persen, sementara Vietnam menjadi yang paling tinggi dengan beban tarif mencapai 46 persen.

Untuk diketahui, NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasarspot.

Screenshot 2025 0407 144359

Indonesia Jadi Korban Tarif Trump

Kebijakan tarif Trump memicu ketidakpastian global hingga saling serang perang dagang. Dampak yang bisa dirasakan rupiah diperkirakan akan besar mulai dari kaburnya investor asing di pasar keuangan Tanah Air hingga gejolak eksternal yang tinggi

Indonesia menjadi korban baru dalam perang dagang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Indonesia akan dikenai tarif resiprokal atau timbal balik hingga 32% karena besarnya defisit AS ke Indonesia.

Baca juga : ART Jual Jam Tangan Seharga Rp 3 Miliar dengan Harga Rp 550 Juta Ditangkap di Surabaya

Hal ini akan berdampak negatif pada tidak lakunya barang Indonesia di AS mengingat harga barang yang masuk ke AS akan cenderung lebih mahal dari biasanya. Alhasil masyarakat di AS akan cenderung memilih produk AS dibandingkan impor dari Indonesia.

Apabila hal ini terus dibiarkan, maka suplai dolar AS Indonesia akan berkurang dan nilai tukar rupiah dapat terus mengalami tekanan.

BI Jamin Jaga Rupiah

Bank Indonesia (BI) buka suara mengenai pengumuman Kebijakan Tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyampaikan tiga poin dari pemantauan yang dilakukan bank sentral RI itu.

Pertama, Denny menyampaikan BI terus memonitor perkembangan pasar keuangan global dan juga domestik pasca pengumuman kebijakan tarif Trump yang baru pada 2 April 2025.

Baca juga : Grand Duta City Jakarta Selatan Gelar Bukber dan Santunan Anak Yatim

Kemudian, BI mendapati pasca pengumuman tersebut dan kemudian disusul oleh pengumuman retaliasi tarif oleh China pada 4 April 2025, pasar bergerak dinamis di mana pasar saham global mengalami pelemahan dan yield US Treasury mengalami penurunan hingga jatuh ke level terendah sejak Oktober 2024.

“BI tetap berkomitmen untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah, terutama melalui optimalisasi instrumen triple intervention (intervensi di pasar valas pada transaksi spot dan DNDF, serta SBN di pasar sekunder) dalam rangka memastikan kecukupan likuiditas valas untuk kebutuhan perbankan dan dunia usaha serta menjaga keyakinan pelaku pasar,” lanjut Ramdan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *