Penanaman Mangrove sebagai Upaya Pelestarian Lingkungan dan Mitigasi Bencana

IMG 20241204 171632 scaled

Satusuaraexpress.co | Jakarta – Integrasi data dan Informasi Geospasial (IG) wilayah darat dan laut sangat penting dalam rangka meningkatkan upaya mitigasi bencana di wilayah pantai, serta mewujudkan pengelolaan wilayah pantai secara terpadu.

Sehubungan hal tersebut, Badan Informasi Geospasial (BIG) menyelenggarakan ‘International Workshop on Joining Land and Sea’ yang digagas oleh Unitqed Nations Global Geodetic Center of Excellence (UN-GGCE).

Kegiatan ini diikuti oleh 24 negara. Mereka berkeliling melihat langsung fenomena penurunan muka tanah di wilayah Jakarta Utara, serta melihat bagaimana upaya pelestarian lingkungan di wilayah pantai melalui penanaman mangrove bersama, di Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk.

Baca : Hari Kedua Operasi Modifikasi Cuaca BPBD DKI Jakarta Berlangsung Lancar, Intensitas Hujan Mulai Terkendali

“Melalui analisis data yang terintegrasi antara darat dan laut, kita bisa melihat secara lebih mendalam bagaimana interaksi antara faktor-faktor laut dan darat mempengaruhi kondisi lingkungan di kawasan pesisir. Ini memungkinkan kita untuk merencanakan dan melaksanakan langkah-langkah mitigasi pengelolaan wilayah yang lebih tepat sasaran,” kata Kepala BIG, Muh Aris Marfai.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Informasi Geospasial Dasar (IGD) BIG, Mohamad Arief Syafi’i mengungkapkan bahwa integrasi data darat dan data laut dapat terwujud melalui program. Kebijakan Satu Peta (KSP), khususnya penggunaan sistem referensi tunggal berupa Sistem Referensi Geospasial Indonesia 2013 (SRGI2013).

“Harapannya agar analisis mengenai lingkungan hidup terhadap mitigasi kebencanaan, dan potensi kewilayahan dapat dilakukan secara tepat dan cermat. Dampaknya dari ketepatan analisis tersebut akan dapat membantu masyarakat untuk tangguh terhadap bencana, dan membantu pertumbuhan ekonomi,” jelas Arief.

Baca : Istana Kepresidenan Hormati Keputusan Gus Miftah Mundur dari Utusan Khusus Presiden (UKP)

Arief Syafi’i mengatakan bahwa gerakan menanam mangrove ini penting, karena tumbuhan itu menjadi bagian dari strategi global dalam mitigasi perubahan iklim, karena kemampuannya menyerap karbon dan menstabilkan ekosistem pesisir.

“Selain itu, penanaman ini menegaskan peran penting mangrove lainnya, yakni sebagai solusi alami untuk mengurangi risiko bencana pesisir, seperti abrasi, banjir rob, dan penurunan muka tanah,” kata dia.

Dia mengungkapkan bahwa bencana, seperti abrasi, banjir rob dan penurunan permukaan tanah imbas perubahan iklim global itu sudah terjadi secara nyata di Indonesia, khususnya kawasan pesisir Jakarta Utara. Berdasarkan kajian tim BIG mendapati setidaknya ada dua tempat di Jakarta Utara yang mengalami penurunan muka tanah hingga mencapai empat meter, yaitu kawasan Kota Tua Jakarta dan Muara Angke.

Baca : Tjokorda Ngurah Agung Kusuyudha Dipanggil Presiden, Diduga Terkait Penunjukan Sebagai Jaksa Agung RI

“Itu fakta bahwa terjadi landslide accident atau penurunan muka tanah di Jakarta dari tahun 1974 sampai sekarang itu sudah mencapai empat meter turunnya,” kata dia.

Arief secara khusus mengapresiasi UN-GGCE yang mengajak para pakar, akademisi geodesi dan juga pemangku kepentingan dari 24 negara kawasan Eropa dan Asia Pasifik itu menggelar lokakarya di Indonesia. BIG berharap kegiatan ini menjadi media kolaboratif untuk mengeksplorasi strategi, teknologi, dan kebijakan dalam membangun data geodesi global yang terpadu dan andal.

Sementara itu, Pimpinan UN-GGCE, Nicholas Brown menyambut baik kegiatan workshop internasional ini. Dia berharap lembaga-lembaga pemerintahan di seluruh dunia bisa bersama-sama memperkuat kerja sama internasional.

“(Kemudian), berkomitmen terhadap serangkaian proses bisnis yang menghubungkan berbagai pihak terkait peran geodesi secara global,” ujar Nicholas.

Adapun UN-GGCE merupakan organisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Organisasi tersebbutdibentuk untuk mendukung implementasi resolusi Majelis Umum PBB nomor 69/266 tentang Global Geodetic Reference Frame (GGRF).

Organisasi ini hadir untuk pembangunan berkelanjutan, dengan membantu negara-negara anggota dan organisasi geodesi dalam berkoordinasi dan berkolaborasi guna mempertahankan, meningkatkan, mengakses dan memanfaatkan GGRF yang akurat, mudah diakses, dan berkelanjutan untuk mendukung ilmu pengetahuan, masyarakat, dan pembangunan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *