SARS-CoV-2 telah Menginfeksi sekitar 62 juta Penduduk Dunia

images 1 3

Satusuaraexpress.co – Pengembangan vaksin menjadi salah satu harapan Dunia, termasuk Indonesia dalam mengatasi penyebaran COVID-19 di tengah pandemi yang belum jelas kapan akan berakhir. Namun pengadaan vaksin tetap harus mempertimbangkan faktor efikasi atau kekhasiatan dan keamanannya. Karena pengabaian terhadap faktor itu akan memunculkan permasalahan baru ke depan.

Coronavirus disease 2019 (COVID-19) disebabkan oleh infeksi severe acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) yang merupakan anggota famili betacoronavirus.

Dalam kurun waktu sekitar 8 bulan, SARS-CoV-2 telah menginfeksi sekitar 62 juta penduduk dunia dan menyebabkan kematian lebih dari 43 juta orang (WHO, 2020) serta melumpuhkan perekonomian berbagai negara, per  tanggal 29 November 2020, kasus COVID-19 di dunia telah mencapai 62.548.936 kasus positif COVID-19,  43.172.471 orang dinyatakan sembuh dan 1.457.399 orang meninggal.

Di Negara Amerika Serikat sendiri mencapai 13.607.974 kasus positif, 8.040.819 sembuh dan 272.254 orang meninggal dengan angka kematian sekiar 2,77% (WHO, 2020).

SARS-CoV-2 ditularkan antar manusia dengan sangat cepat melalui droplet atau kontak langsung dengan penderita. Virus ini diketahui menginfeksi berbagai organ tubuh yang mengekspresikan protein Angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) seperti saluran pernafasan, saluran percernaan, saluran ekskresi dan organ lainnya. Gejala klinis yang diakibatkan oleh infeksi SARS-CoV-2 antara lain: perasaan lelah, demam, batuk, kesulitan bernafas, kehilangan indra penciuman dan perasa, pneumonia, myalgia, syok sepsis dan kegagalan ginjal. Sekitar 20% kasus COVID-19 merupakan kasus berat terutama pada penderita yang memiliki penyakit lain dan yang berusia lanjut.

SARS-CoV-2 merupakan virus RNA yang disebarkan antar manusia melalui kontak dengan droplet penderita.  SARS-CoV-2 menyerang berbagai organ tubuh dan dapat menyebabkan gejala klinis yang beragam dari tanpa gejala (asimptomatik) hingga berat (Adaptasi dari Guo et al, 2020).

SARS-CoV-2 merupakan virus jenis baru, oleh karena itu sebagian besar penduduk dunia rentan terhadap infeksi virus ini. Saat ini berbagai upaya telah dilakukan untuk membatasi penyebaran SARS-CoV-2 antara lain dengan menerapkan _new normal_  pola hidup sehat, pembatasan jarak antar manusia (social distancing) dan pemakaian masker serta mencuci tangan dengan sabun selama 20 detik di air yang mengalir. Walaupun upaya ini dapat mengurangi laju penyebaran SARS-CoV-2, sebagian besar penduduk dunia tetap rentan terhadap infeksi SARS-CoV-2. Diperkirakan pandemi COVID-19 dapat berakhir jika herd immunity tercapai.

Herd immunity adalah kondisi dimana sebagian besar penduduk imun terhadap SARS-CoV-2 sehingga sangat kecil kemungkinan terjadi penyebaran penyakit COVID-19 di masyarakat. Herd immunity dapat dicapai melalui dua  cara, yakni melalui infeksi virus secara alami atau melalui vaksinasi. Jika kita menunggu kekebalan tubuh penduduk dunia terbangun melalui infeksi alami, termasuk 20% dengan kasus berat COVID-19, sistem kesehatan akan overload. Untuk menghindari kekacauan pada sistem kesehatan, vaksinasi dipercaya sebagai jalan keluar untuk mencapai herd immunity. Saat ini hampir semua negara di dunia sedang berlomba menemukan vaksin COVID-19 untuk mencegah penularan COVID-19.

Penulis : dr. Mulyadi Tedjapranata

Editor : Wawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *