Gelombang Protes Mahasiswa: Saat Rupiah Menembus Angka 18 Ribu

bem si segel bi4
Gelombang Protes Mahasiswa: Saat Rupiah Menembus Angka 18 Ribu.

Satusuaraexpress.co | Semarang — Di bawah langit yang terasa mendung, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Jawa Tengah berdatangan ke halaman Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Semarang.

Langkah mereka penuh tekad, diiringi suara teriakan dan pembentangan spanduk-spanduk besar yang menyuarakan keresahan mendalam atas kondisi ekonomi nasional.

Di antara tulisan-tulisan kritik yang tercetak tegas, dua kalimat paling menyita perhatian: “Turut Berduka Cita Atas Matinya Rupiah” dan “Rupiah Sekarat”.

Aksi itu bukan sekadar kumpulan orang yang berkumpul. Di depan gerbang bank sentral, mereka melakukan serangkaian tindakan simbolis yang menyayat hati: membakar uang imitasi sebagai gambaran nilai mata uang yang terus menurun, serta menyegel gerbang kantor dengan pita dan tulisan peringatan.

Baca jugaAmankan dua WNA Liberia Terlibat Kasus Penipuan Modus Black Dollar

Semua itu bermula dari satu hal nyata yang kini menjadi pembicaraan hangat di mana-mana: nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp18.000 per satu dolar Amerika Serikat, level terendah dalam sejarah ekonomi Indonesia.

Kevin Kurnia Priambodo, Presiden BEM Politeknik Negeri Semarang, menjadi salah satu wajah yang paling bersuara di tengah massa. Ia menceritakan bahwa gerakan ini lahir dari percakapan santai yang berubah menjadi kemarahan, di kala ia dan teman-temannya sedang berkumpul di malam hari.

“Kita terus update kurs rupiah tiap harinya. Dolar semakin melemah di angka Rp18.000. Pada malam hari itu saya murka,” ujarnya dengan nada yang masih menyisakan kekecewaan.

Keresahan itu kemudian dibahas bersama aktivis mahasiswa lain, termasuk Ketua BEM Universitas Sebelas Maret (UNS), Kailani Rizqy Pratama. Dari diskusi tersebut, muncul kesadaran bahwa banyak masyarakat luas belum benar-benar paham bagaimana pelemahan rupiah berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari mulai dari harga beras, bahan bakar, hingga biaya pendidikan dan kesehatan.

Baca jugaTetapkan Wamen Imipas Tersangka, Nilai Dugaan Pemerasan Kasus Izin Tinggal WNA Capai Ratusan Miliar Rupiah

“Kita coba buat propaganda. Rakyat-rakyat kita enggak tahu bahwasanya kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar ini berpengaruh pada kehidupan mereka,” jelas Kevin.

Awalnya, rencana mereka sederhana saja: unggahan di media sosial, berdoa bersama di depan kantor BI, berorasi sebentar, lalu pulang. Namun, apa yang mereka bayangkan berubah drastis. Unggahan itu menyebar luas, menjadi viral, dan menarik perhatian banyak orang, hingga akhirnya berkembang menjadi aksi demonstrasi yang terorganisir seperti hari itu.

“Kami awalnya enggak expect postingan itu akan besar,” akui Kevin.

Bagi para mahasiswa, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di layar papan kurs. Ini adalah tanda bahaya besar. Kevin menyoroti menurunnya kepercayaan investor, tekanan pada kondisi keuangan negara, hingga ancaman nyata kenaikan harga-harga barang pokok.

Ia menegaskan bahwa kehadiran mereka di sana bukan untuk membuat keruh suasana, melainkan untuk mengingatkan bahkan mengawasi agar pemerintah segera bertindak.

“Kalau bukan kita ya siapa lagi. Kalau bukan sekarang ya mau kapan lagi. Mau menunggu Rp19.000, mau menunggu Rp20.000?” tanyanya tegas.

Ia pun mengutip ungkapan yang melekat kuat di benak mereka: “Untuk menghancurkan suatu negara, maka hancurkanlah mata uangnya.” Bagi para mahasiswa, sejarah mengajarkan bahwa kehancuran nilai tukar sering kali menjadi awal dari krisis yang jauh lebih parah, dan mereka tidak ingin hal itu terjadi pada Indonesia.

Di tengah aksi tersebut, Kailani Rizqy Pratama membacakan deklarasi politik yang menjadi inti tuntutan mereka. Ia mengumumkan pemberian tenggat waktu selama 18 hari angka yang dipilih secara simbolis sesuai level kurs yang kini menyentuh Rp18.000 kepada tiga pihak utama: Presiden Prabowo Subianto, Menteri Keuangan, dan Gubernur Bank Indonesia. Dalam kurun waktu itu, mereka menuntut adanya langkah konkret dan nyata untuk memulihkan ekonomi.

“Delapan belas hari itu kita menunggu supaya ada bentuk perbaikan ekonomi ini,” tegas Kailani.

Baca jugaNestapa Pengrajin Tahu Tempe, Babak Belur Diombang-Ambing Nilai Dollar

Selama masa tenggat itu, mahasiswa berjanji akan terus bergerak: mengadakan diskusi publik, menyebarkan informasi, dan mencerdaskan masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi ekonomi. Namun, ada peringatan keras yang terselip di dalamnya.

Jika dalam 18 hari tidak ada perubahan yang terlihat, atau justru keadaan makin memburuk, Aliansi BEM SI Jawa Tengah berjanji tidak akan diam. Aksi selanjutnya akan digelar di Jakarta, menyasar langsung Kantor Pusat Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Bahkan, gerakan ini berpotensi berkembang lebih besar lagi.

“Delapan belas hari kemudian aliansi BEM SI dari seluruh pulau-pulau di Indonesia akan berkumpul di Jakarta,” ancamnya.

Meski nada bicaranya tegas dan penuh tuntutan, Kailani menegaskan satu hal penting: mereka tidak menginginkan gejolak politik berlebihan atau terulangnya kembali peristiwa besar seperti masa Reformasi 1998.

“Kami tidak mengharapkan adanya reformasi jilid 2 atau apapun itu. Kami menginginkan kemajuan bangsa ini,” katanya.

Namun, pesan terakhir yang disampaikan Kailani adalah peringatan yang tak boleh diabaikan pemerintah. “Jika dalam waktu 18 hari tidak ada upaya perbaikan bahkan justru lebih parah dari apa yang terjadi saat ini, maka jangan salahkan kami selaku mahasiswa untuk nanti melakukan penyegelan-penyegelan yang akan kami lakukan,” tutupnya.

Di tengah jalanan Semarang yang kembali lengang setelah massa bubar, spanduk-spanduk itu masih terbayang di ingatan banyak orang. Rupiah yang melemah bukan lagi sekadar data ekonomi, melainkan suara lantang anak bangsa yang meminta perhatian: selamatkan mata uang, selamatkan negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *