Membangun Ekosistem Pekerja Migran Berkualitas: KP2MI Jalin Kerjasama Strategis dengan Dunia Pendidikan

IMG 20260416 120958 scaled
Membangun Ekosistem Pekerja Migran Berkualitas: KP2MI Jalin Kerjasama Strategis dengan Dunia Pendidikan.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) terus memperkuat fondasi dalam melindungi dan memberdayakan pekerja migran melalui pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Baru-baru ini, kementerian telah menyelesaikan penandatanganan seluruh Memorandum of Understanding (MoU) dan 6 Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan mitra strategis, yang seluruhnya berasal dari kalangan lembaga pendidikan dan perguruan tinggi. Langkah ini diambil sebagai upaya konkret dalam menciptakan ekosistem perlindungan yang dimulai dari sisi hulu hingga ke hilir.

Menteri P2MI, Mukhtarudin mengatakan kerjasama ini difokuskan pada beberapa aspek vital, mulai dari penyiapan sumber daya manusia (SDM), peningkatan kompetensi, penelitian, hingga pengembangan kapasitas.

“Sinergi antara KP2MI dengan institusi pendidikan dinilai sangat krusial karena perguruan tinggi dan sekolah memiliki instrumen utama untuk mencetak SDM yang unggul, sementara pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator yang menjembatani kesesuaian kebutuhan pasar global dengan kurikulum yang ada (link and match), ” kata Mukhtarudin, Kamis (16/4/2026).

Sesuai arahan Presiden, target utama ke depan adalah mengubah komposisi pekerja migran Indonesia agar tidak hanya berfokus pada level rendah, tetapi didominasi oleh tenaga kerja dengan middle skill hingga high skill. Pemerintah menyadari bahwa KP2MI tidak dapat bekerja sendiri dalam mencetak talenta berkualitas; disinilah peran dunia pendidikan menjadi sangat sentral.

Baca juga Amankan Hak PMI, KP2MI Cabut Izin SIP3MI PT Tulus Widodo Putra

“KP2MI tidak punya instrumen untuk mencetak itu, yang punya instrumen adalah perguruan tinggi. Kami hanya menjembatani apa kebutuhan global, kompetensi apa yang dibutuhkan, bahasa seperti apa yang dibutuhkan, lalu kita link and matchkan,” ungkapnya.

Kerjasama ini juga merupakan implementasi nyata dari MoU sebelumnya dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi. Salah satu visi besar yang diusung adalah terciptanya brain circulation, di mana pekerja yang telah mendapatkan pengalaman dan keahlian di luar negeri nantinya dapat kembali dan mengembangkan ilmunya untuk kemajuan ekonomi di dalam negeri.

“Hingga saat ini, tercatat lebih dari 20 perguruan tinggi telah menjalin MoU dan berkomitmen untuk membentuk Migrant Center. Pusat-pusat ini akan menjadi ujung tombak ekosistem yang mengurus seluruh aspek, mulai dari pelatihan, penempatan, hingga pelindungan, ” jelasnya.

Tidak hanya perguruan tinggi, program ini juga menyasar tingkat SMA dan SMK melalui pembentukan Kelas Migran dan Sekolah Fokus Migran yang bekerja sama dengan sekolah-sekolah di daerah.

Baca jugaBentuk Negara Hadir, KP2MI Pulangkan Jenazah Pekerja Migran ke Kampung Halaman

Dalam upaya percepatan, pemerintah meluncurkan program SMK Go Global sebagai bagian dari quick win. Program ini menargetkan penempatan sekitar 80.000 pekerja pada tahun 2026, dan meningkat menjadi 140.000 pekerja per tahun hingga 2029. Fokus utamanya adalah program upskilling dan reskilling yang disesuaikan dengan kebutuhan berbagai sektor industri, seperti perkebunan, manufaktur, perhotelan (hospitality), hingga kesehatan (perawat).

Permintaan terhadap tenaga kerja terampil Indonesia saat ini sangat besar, tidak hanya di kawasan Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan China, tetapi juga menjangkau pasar Eropa seperti Jerman, Turki, Bulgaria, Slovakia, Portugal, dan Italia. Para Duta Besar Indonesia pun kini berperan aktif sebagai market intelligent untuk membuka peluang pasar seluas-luasnya.

Pentingnya penguatan ekosistem ini tidak lepas dari peran vital pekerja migran bagi perekonomian nasional. “Data menunjukkan bahwa aliran dana remitansi terus meningkat setiap tahunnya, mencapai Rp253 triliun pada 2024 dan diproyeksikan mencapai Rp288 triliun pada 2025. Angka ini memiliki dampak besar bagi penggerak ekonomi akar rumput, pembangunan perumahan, hingga pengembangan UMKM, ” ungkapnya.

Baca jugaKP2MI Buka Peluang Penempatan Pekerja Migran Indonesia ke Suriname dan Guyana

Salah satu mitra yang turut menandatangani kerjasama adalah Yayasan Mata Uli Maju Tapia Nauli yang mengelola tiga sekolah di Sumatera Utara, tepatnya Tapanuli Tengah. Fitri Tanjung, perwakilan yayasan, menyambut baik inisiatif ini sebagai kabar baik bagi masyarakat daerah yang baru saja terdampak bencana.

“Kami sangat senang menandatangani MoU ini. Kehadiran Migrant Center di sekolah kami bisa membuka kesempatan kerja yang lebih besar. Komitmen kami adalah menciptakan peluang, pembinaan, dan pelatihan khususnya di sektor perikanan yang permintaannya sangat besar untuk negara seperti Jepang dan Jerman,” ujar Fitri.

Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan dunia pendidikan, diharapkan pekerja migran Indonesia ke depannya bukan hanya sekadar tenaga kerja, melainkan duta bangsa yang memiliki keahlian, berdaya saing tinggi, dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *