Satusuaraexpress.co | Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan peringatan bahwa Indonesia perlu mempersiapkan diri menghadapi potensi krisis bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini muncul seiring dengan meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah, yang telah memberikan dampak nyata bagi negara-negara tetangga seperti Filipina dan Bangladesh yang telah menyatakan adanya krisis BBM.
Menurut Purbaya, permasalahan krisis BBM yang tengah dihadapi beberapa negara bukanlah disebabkan oleh ketidakmampuan anggaran untuk membelanjakan bahan baku minyak, melainkan terletak pada sisi pasokan. Ia menegaskan bahwa jika situasi konflik yang mengganggu rantai pasokan ini terus berlanjut, Indonesia pun harus siap menghadapi kemungkinan terjadinya krisis energi yang lebih luas.
“Darurat energi itu bukan di APBN. Darurat energi adalah kalau misalnya pasokannya berhenti, itu yang saya takut. Bukan harganya, (tetapi) pasokannya tidak ada, ini mungkin masih ada pasokannya. Jadi kalau dibilang darurat, enggak, tapi kita harus siap-siap terus ke depan,” ucap Purbaya.
Sebagai contoh nyata, Filipina telah resmi menetapkan status darurat energi nasional pada 22 Maret 2026 silam, akibat terganggunya pasokan bahan bakar yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.
Baca juga : Presiden Iran Ungkap Tiga Syarat untuk Kembali ke Meja Perundingan dengan AS
Meskipun demikian, Menkeu memastikan bahwa hingga saat ini kondisi fiskal Indonesia masih cukup kuat untuk menyerap tekanan yang mungkin timbul akibat kenaikan harga BBM di pasar dunia.
Purbaya menjelaskan bahwa anggaran belanja dan pendapatan negara (APBN) saat ini masih memiliki kemampuan untuk menghadapi kenaikan harga minyak dunia. Ia menambahkan bahwa keputusan akhir terkait kebijakan yang akan diambil untuk mengantisipasi situasi ini tetap berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.
“APBN kita masih tahan. Saya enggak akan mengubah APBN atau subsidi yang ada, sampai titik yang mungkin nanti harga minyaknya tinggi sekali,” tandasnya.
Baca juga : Antrean Panjang BBM Melanda Beberapa Daerah Indonesia Sejak 4 Maret 2026
Saat ini, harga minyak mentah Indonesia (ICP) berada di kisaran 74 dolar AS per barel, sedikit di atas asumsi awal yang tercantum dalam APBN sebesar 70 dolar AS per barel.
“Iya (74 dolar AS per barel) sampai sekarang. Jadi kan melewati (asumsi APBN) 4 dolar kira-kira kan? Itu yang dihitung. Nanti kalau naiknya ini (tinggi) baru kita hitung lagi berapa,” jelas Purbaya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia juga telah menyampaikan bahwa APBN memiliki kapasitas untuk membelanjakan minyak mentah bahkan jika harganya mencapai 100 dolar AS per barel. Namun, ia juga mengingatkan bahwa harga minyak dunia cenderung fluktuatif, sehingga Indonesia tidak perlu terlalu khawatir namun tetap harus tetap waspada.













