Empati Itu Dicontohkan, Bukan Diceramahi: Cara Mengajarkan Anak Bersikap Empati

Cara Membentuk Mental Anak dari Ejekan Teman Sebayanya
Foto: Popmama

Satusuaraexpress.co | OPINI – Orang tua mana pun ingin anaknya sukses dan berprestasi. Namun di tengah sibuk mengejar nilai, ada satu hal yang sering terlewat: apakah anak kita peduli pada perasaan orang lain? Data sekolah menunjukkan masalahnya nyata.

Menurut Asesmen Nasional 2021-2022 (Rapor Pendidikan) yang disampaikan Kemendikbudristek, sekitar 24,4 persen peserta didik berpotensi mengalami perundungan di sekolah, dari survei yang mencakup 260 ribu sekolah dan 6,5 juta peserta didik. Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 KemenPPPA juga mencatat 50,78 persen anak usia 13-17 tahun pernah mengalami kekerasan, dengan bentuk terbanyak kekerasan emosional.

Penelitian Making Caring Common dari Harvard terhadap 10.000 siswa SMP dan SMA di Amerika Serikat memberi cermin tak nyaman: sekitar 80 persen remaja memilih prestasi atau kebahagiaan sebagai prioritas utama, hanya sekitar 20 persen yang menempatkan kepedulian pada orang lain di atas. Padahal 96 persen orang tua mengaku ingin membesarkan anak yang peduli. Peneliti menyebutnya “kesenjangan retorika dan kenyataan”: apa yang kita katakan berbeda dari apa yang kita tunjukkan.

Empati adalah kemampuan memahami dan ikut merasakan apa yang dialami orang lain. Menurut Making Caring Common, empati punya dua bahan utama: kepedulian (compassion) dan kemampuan melihat dari sudut pandang orang lain (perspective taking). Dalam studi The Journal of Psychology (Richaud, 2013), empati anak dikaitkan dengan persepsi anak terhadap empati orang tuanya, yang berarti meneladani sangat berpengaruh.

Penelitian Farrant dkk. di Infant and Child Development terhadap 72 anak usia 4-6 tahun menemukan ibu yang lebih empatik cenderung mengajak anak memikirkan perasaan orang lain, dan hal itu berkaitan dengan empati anak yang lebih baik. Studi lain, seperti dirangkum Thoughtful Parent dari jurnal Child Development, menemukan anak yang orang tuanya lebih sering menjelaskan apa yang mungkin dipikirkan atau dirasakan orang lain punya kemampuan perspective taking lebih baik.

Berikut delapan cara untuk menumbuhkan empati dari rumah:

1. Jadilah contoh
Making Caring Common menyarankan memperhatikan cara kita membicarakan orang lain, terutama yang berbeda dari kita. Sapa petugas kebersihan, sabar pada pengemudi, dan hindari menertawakan orang lain di depan anak.

2. Beri nama pada perasaan
Ucapkan, “Kamu tampak kecewa ya.” Anak yang bisa menamai emosinya lebih mudah memahami emosi orang lain.

3. Latih “kalau jadi dia”
Ajukan pertanyaan sederhana seperti, “Menurutmu kenapa temanmu menangis?” Farrant menyebut cara ini, misalnya meminta anak memikirkan mengapa temannya marah, dapat mengembangkan kemampuan perspective taking.

4. Samakan kepedulian dengan nilai
Banyak anak menilai orang tuanya lebih bangga pada nilai bagus daripada sikap peduli. Pujilah perilaku baik sama antusiasnya dengan prestasi, dan tanyakan, “Hari ini kamu membantu siapa?”

5. Ajak bertindak nyata
Berbagi makanan, menjenguk tetangga yang sakit, atau ikut kegiatan sosial sederhana. Empati tumbuh lewat tindakan kecil yang berulang.

6. Disiplin dengan menjelaskan dampak
Ketika anak menyakiti temannya, ajak ia melihat akibatnya: “Bagaimana perasaan Dito tadi?” Kemenkes, melalui KemenPPPA, menegaskan kekerasan tidak boleh digunakan untuk mendisiplinkan anak. Disiplin yang menjelaskan dampak juga termasuk ciri hubungan orang tua-anak yang positif dalam studi yang diringkas CHOP.

7. Luruskan salah kaprah soal perundungan
Mendikbudristek (saat itu) Nadiem Makarim menyebut anggapan bahwa perundungan menguatkan mental sebagai miskonsepsi. Ajarkan anak untuk tidak menertawakan, tidak ikut-ikutan, dan berani melapor kepada guru atau orang dewasa.

8. Sabar
Making Caring Common mengingatkan empati tidak bisa “lulus atau gagal”, dan anak mengembangkannya selama bertahun-tahun.

Empati adalah kemampuan yang dapat diajarkan, terutama lewat teladan dan percakapan sehari-hari tentang perasaan orang lain. Data perundungan dan kekerasan menunjukkan betapa pentingnya, sedangkan riset Harvard mengingatkan bahwa anak membaca pesan nyata dari tindakan kita, bukan dari ceramah.

Sebagai penulis, pesan saya: anak yang cerdas tetapi tidak peduli bisa menyakiti, sedangkan anak yang cerdas dan peka bisa mengubah lingkungannya. Mulailah hari ini dari hal kecil: dengarkan dengan sungguh-sungguh, tanyakan perasaan orang lain, dan tunjukkan bahwa kebaikan sama berharganya dengan nilai di rapor.

Penulis: Yus Yunus | Editor: Ghugus San

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *