Satusuaraexpress.co | OPINI – Memasuki Oktober, banyak warga mengeluhkan udara yang terasa menyengat. Di balik rasa gerah itu ada risiko kesehatan yang nyata, mulai dari dehidrasi sampai sengatan panas (heatstroke) yang bisa mengancam nyawa. Bagaimana mengenali bahaya dan melindungi diri?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), merilis terkait panas terik di Indonesia di beberapa waktu ini. Menurutnya, panas terik dipengaruhi gerak semu matahari.
Pada Oktober, matahari berada sedikit di selatan ekuator sehingga wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima pemanasan yang lebih intens.
Dalam imbauan sebelumnya, BMKG juga mengaitkan fenomena ini dengan Monsun Australia yang masih aktif, serta menyebut dampaknya terasa lebih ekstrem akibat perubahan iklim global dan urbanisasi.
Pada musim kemarau, tutupan awan yang minim turut membuat suhu naik, kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan kepada Antara pada 31 Juli 2026.
Di tingkat global, WHO menggambarkan bahwa perubahan iklim memperparah panas ekstrem dan meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan.
Dehidrasi, kelelahan panas, dan heatstroke: apa bedanya?
Heatstroke terjadi ketika suhu tubuh naik cepat dan seseorang tidak mampu mendinginkan diri. Kondisi ini bisa mengancam nyawa karena merusak otak dan organ vital lain, demikian Mayo Clinic. Gejalanya antara lain demam 40 derajat Celsius atau lebih, kebingungan, bicara cadel, kulit panas dan kering atau berkeringat banyak, mual, muntah, napas dan denyut nadi cepat, sakit kepala, hingga pingsan.
Sebelum sampai ke sana, tubuh biasanya memberi sinyal berupa kelelahan panas (heat exhaustion). Gejalanya meliputi keringat berlebih, lemas, pusing, kulit dingin dan lembap, denyut nadi lemah dan cepat, kram otot, mual, dan sakit kepala. Mayo Clinic mengingatkan bahwa kelelahan panas yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi heatstroke.
Tips menjaga tubuh tetap terhidrasi
BMKG mengimbau masyarakat minum air secara cukup dan teratur untuk mencegah dehidrasi, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Panduan dari lembaga kesehatan menambahkan hal-hal praktis:
1. Minum sebelum haus. CDC menyarankan minum lebih banyak dari biasanya dan tidak menunggu haus. Kemenkes RI mengimbau hal serupa.
2. Pilih minuman yang tepat. CDC menyarankan menghindari minuman manis, berkafein, dan beralkohol, serta minuman sangat dingin yang bisa memicu kram perut. Kemenkes RI juga mengimbau menghindari minuman berkafein, berenergi, manis, dan alkohol.
3. Ganti garam dan mineral. Keringat berlebih menguras garam dan mineral, dan menurut CDC minuman olahraga dapat membantu menggantinya.
4. Takaran saat beraktivitas. Satu panduan ringkas yang merujuk CDC menyebut dua hingga empat gelas air setiap jam saat bekerja atau berolahraga di luar ruangan. Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu (misalnya penyakit jantung atau ginjal) atau dibatasi asupan cairan, tanyakan dulu kepada dokter.
Tips agar aman dari heatstroke
1. Hindari jam terpanas. Kemenkes RI menyarankan berteduh sekitar pukul 11.00 hingga 15.00. BMKG menyarankan menghindari paparan langsung matahari, terutama dari pagi menjelang siang.
2. Pakai pakaian yang tepat. Pilih bahan ringan dan longgar, serta hindari warna gelap yang menyerap panas. Topi atau payung dapat melindungi dari sinar matahari langsung.
3. Kurangi aktivitas berat. CDC menyarankan beradaptasi bertahap bila belum terbiasa bekerja di panas, serta beristirahat di tempat sejuk. Olahraga sebaiknya dilakukan di dalam ruangan saat cuaca sangat terik, seperti saran Kemenkes.
4. Lindungi kulit. Sengatan matahari mengganggu kemampuan tubuh mendinginkan diri. CDC menyarankan topi lebar, kacamata hitam, dan tabir surya SPF 30 atau lebih yang dioleskan ulang tiap dua jam.
5. Jangan tinggalkan siapa pun di kendaraan parkir. Imbauan Kemenkes RI mencakup anak-anak dan hewan peliharaan, bahkan dengan jendela terbuka.
6. Saling mengawasi. CDC menganjurkan sistem berpasangan (buddy system) bagi yang bekerja di panas, dan memantau kelompok berisiko tinggi seperti lansia dan anak kecil.
7. Pantau informasi resmi. BMKG meminta masyarakat memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini lewat aplikasi Info BMKG dan akun resminya.
Apa yang harus dilakukan jika ada gejala?
Kelelahan panas. Menurut Mayo Clinic, pindahkan orang tersebut ke tempat teduh atau berpendingin udara, baringkan dengan kaki sedikit ditinggikan, longgarkan pakaian, berikan air dingin tanpa kafein dan alkohol, dan dinginkan tubuhnya dengan lap atau semprotan air sambil dikipasi. Hubungi dokter bila gejala memburuk atau tidak membaik dalam satu jam.
Dugaan heatstroke. Ini keadaan darurat. Mayo Clinic menyarankan segera menghubungi layanan darurat setempat, lalu memindahkan orang tersebut dari tempat panas dan mendinginkannya dengan cara apa pun yang tersedia: rendam atau mandikan dengan air sejuk, lap dengan air dingin, atau letakkan kompres dingin di leher, ketiak, dan pangkal paha. Bila orang itu sadar, ia dapat diberi air dingin atau minuman elektrolit tanpa kafein dan alkohol. Jika ia pingsan dan tidak menunjukkan tanda sirkulasi, mulai resusitasi jantung paru (RJP/CPR).
Siapa yang paling rentan?
Siapa pun bisa terkena penyakit akibat panas, tetapi risikonya lebih besar bagi lansia, anak kecil, penderita penyakit kronis, dan pekerja luar ruangan. Kelompok ini perlu diperhatikan lebih sering. CDC menyarankan mengecek kondisi mereka dua kali sehari saat cuaca sangat panas.
Kunci menghadapi cuaca terik adalah tindakan sederhana yang dilakukan konsisten: cukup minum, hindari paparan matahari pada jam terpanas, kenali gejala dini, dan jangan menunda mencari pertolongan. Bagi pekerja lapangan, pengemudi ojek, dan siapa pun yang banyak beraktivitas di luar ruangan, perlindungan ini bukan sekadar anjuran, melainkan kebutuhan.
Penulis: Yus Yunus | Editor: Ghugus San













