Satusuaraexpress.co | Bogor — Pemerintah Kota Bogor secara resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) terkait penataan dan pengembangan kawasan Stasiun Bogor, yang berlangsung di Stasiun Bogor Gate Alun-alun Kota Bogor. Secara bersamaan, PT KAI juga menandatangani MoU dengan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebagai bagian dari kerja sama penataan kawasan tersebut.
Konsep pengembangan ini merupakan wujud sinergi antara Pemkot Bogor dan PT KAI untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang semakin dinamis.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyatakan konsep yang ditawarkan PT KAI sejalan dengan rencana penataan wilayah kota yang telah disusun Pemkot Bogor, mencakup Jalan Nyi Raja Permas, Jalan MA Salmun, hingga Jalan Kapten Muslihat.
“Sebagai langkah awal, Pemkot Bogor akan segera melakukan penataan di sepanjang Jalan Nyi Raja Permas hingga ujung Jalan MA Salmun guna meningkatkan ketertiban dan keindahan kawasan, ” kata Dedie, Selasa (8/9/2026).
Baca juga : Bupati Bogor Dorong Percepatan Infrastruktur demi Tarik Investasi ke Kabupaten Bogor
Kemudian, lanjut Dedie, pada tahun depan, penataan akan diperluas ke Jalan Mayor Oking dan Jalan Kapten Muslihat. Selain itu, setelah berakhirnya masa kontrak Build Operate Transfer (BOT) dengan PT Propindo, Jalan Dewi Sartika akan dijadikan jalan protokol seperti bangunan yang menjorok ke jalan akan dibongkar sehingga akses dari Alun-alun Kota Bogor hingga Jalan Sawojajar menjadi lurus tanpa hambatan.
“Nanti kita akan lakukan pemotongan atau pembongkaran (bangunan yang menjorok ke jalan) supaya Jalan Dewi Sartika itu tidak ada obstaclenya, tidak terhambat oleh bangunan. Sehingga dari Alun-Alun sampai dengan Jalan Sawojajar itu lurus,” ungkapnya.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menjelaskan pengembangan Stasiun Bogor akan mengembalikan identitas historis stasiun tersebut, dengan bangunan bersejarah tahun 1881 yang akan menjadi tampilan utama New Stasiun Bogor. Terdapat tiga konsep utama dalam penataan ini meliputi Konektivitas, menghubungkan Stasiun Bogor dan Stasiun Paledang dengan kawasan sekitarnya.
Baca juga : Pemkot Bogor Susun Perwali Pencegahan LGBT, Siap Tampung Masukan Tokoh Agama
“Kemudian Integrasi antarmoda, menjadikan kawasan ini pusat pertukaran transportasi yang terintegrasi dengan Trans Pakuan, angkutan daring, dan moda lainnya, termasuk rencana pengembangan konsep LRT atau trem perkotaan dan Spasialitas dan TOD, menerapkan konsep Transit Oriented Development yang tidak hanya menyediakan ruang terbuka, tetapi juga ruang ekonomi dan usaha, ” ujarnya.
Upaya revitalisasi telah berjalan sejak tiga bulan terakhir dengan perpanjangan dan pemasangan kanopi pada Peron 6, 7, dan 8 yang kini telah dibuka kembali dan mampu menambah kapasitas angkut harian hingga 30 persen. Saat ini peron 4 dan 5 sedang ditutup untuk pemasangan kanopi guna kenyamanan penumpang.
Pada tahun depan, pembangunan akan difokuskan pada sisi selatan yang difungsikan sebagai zona naik-turun penumpang (pick-up and drop-off zone). Pengembangan ini juga mendukung perluasan layanan KRL hingga Sukabumi, dengan rencana elektrifikasi jalur sampai Stasiun Cigombong pada tahun 2027.













