Satusuaraexpress.co | Jakarta — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menyampaikan permohonan khusus kepada para guru di seluruh penjuru negeri: untuk ikut menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama para siswa di dalam kelas.
Langkah ini bukan sekadar kebersamaan semata, melainkan menjadi sarana edukasi sekaligus benteng terakhir guna menjamin keamanan dan kelayakan makanan yang disajikan kepada anak-anak.
Pernyataan itu disampaikan Sudaryono dalam rapat koordinasi bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, serta jajaran BGN pusat dan daerah, yang membahas pelaksanaan program MBG di lingkungan sekolah.
Selama ini, para guru telah turut mendampingi siswa sejak awal pembagian makanan, mulai dari mengatur antrean, membantu pengambilan hidangan, hingga mengajak anak-anak mencuci tangan dan berdoa sebelum menyantap makanan. Namun, Sudaryono menginginkan kehadiran guru di meja makan bersama siswa menjadi hal yang senantiasa dilakukan.
Baca juga : Dua Siswa SMP Sleman Ciptakan Detektor Kesegaran Makanan, Cegah Keracunan MBG Hanya dalam 5 Detik
“Namun sekali lagi saya ingin dan menginginkan dan memohon dengan kesediaannya kepada bapak-ibu guru, untuk menu MBG-nya dimakan bersama-sama dengan siswa. Tujuannya tadi disampaikan oleh Bapak Menteri adalah untuk supaya sebagai ajang edukasi, menjadi tempat untuk mengedukasi siswa tadi. Apakah cuci tangan, berdoa dan proses tata krama ini,” ujar Sudaryono dikutip dari unggahan Instagram resminya, Senin (10/8).
Duduk bersama dalam satu ruang saat makan, lanjutnya, menjadi kesempatan nyata bagi guru untuk menanamkan kebiasaan yang baik, mulai dari kebersihan diri, sopan santun saat menyantap hidangan, hingga kesadaran untuk menjaga ketertiban. Di samping itu, kehadiran guru turut berperan sebagai pemeriksa kelayakan makanan secara langsung, atau yang disebut penilaian organoleptik, sebelum hidangan disantap oleh para siswa.
“Selain itu juga di situ bapak-ibu guru sebagai perannya kami mohon sebagai pemeriksa terakhir. Manakala makanan MBG tidak layak, itu kemudian wajib hukumnya tidak dibagikan,” tegas Sudaryono.
Sejalan dengan hal itu, BGN juga mulai memberlakukan aturan baru yang akan berlaku pekan depan. Setiap wadah makanan atau ompreng program MBG akan diberi tanda batas waktu konsumsi, guna memastikan hidangan disantap dalam kondisi segar dan aman. Sudaryono meminta agar baik guru maupun siswa tidak lagi menyantap makanan yang telah melewati batas waktu yang tertera pada kemasan.
Baca juga : Kejagung Tetapkan Brigjen Pol Lalu Muhammad Iwan Mahardan Sebagai Tersangka Baru Kasus Korupsi Program MBG
“Kalau memang jamnya di dalam ompreng itu sudah melebihi jam yang tertera, kami minta bapak-ibu guru tidak boleh mengonsumsi dan apalagi peserta didiknya juga tidak boleh mengonsumsi manakala sudah melawati batas dari jam yang ditentukan,” tambahnya.
Sudaryono menyadari sepenuhnya bahwa tugas ini menambah tanggung jawab para guru di sekolah. Meski demikian, ia meyakini peran tersebut sejalan dengan tugas mendidik sekaligus menjaga keselamatan dan kesehatan para siswa yang dipercayakan kepada sekolah.
Dalam kesempatan itu, Sudaryono juga menyentuh hal yang menyentuh hati namun perlu diluruskan yakni kebiasaan sebagian siswa yang menyisihkan makanan dan membawanya pulang untuk dibagikan kepada keluarga di rumah. Ia memahami sepenuhnya niat mulia tersebut.
Baginya, hal itu menunjukkan kepekaan dan kasih sayang anak-anak kepada orang tua. Terlebih bagi siswa yang tinggal di daerah pelosok, hidangan bergizi seperti telur, ayam, dan ikan belum tentu tersedia setiap hari di meja makan rumah mereka.
Baca juga : KPK Identifikasi 8 Potensi Korupsi dan Berikan 7 Rekomendasi untuk Program MBG
“Banyak di antara peserta didik kita ini ternyata hatinya baik. Saya sendiri berasal dari satu desa, saya paham sekali itu bahwa telur, ayam, ikan ini adalah barang yang bagi sebagian orang khusus yang di pelosok ini adalah barang yang jarang dimakan sehari-hari,” ungkap Sudaryono.
Namun, demi alasan keamanan pangan, kebiasaan tersebut harus mulai dihentikan. Makanan yang terlalu lama tersimpan, dibungkus kembali, dan dibawa pulang dapat mengalami penurunan kualitas serta memicu pertumbuhan bakteri yang membahayakan kesehatan.
Sudaryono menegaskan bahwa sejumlah kasus keracunan yang terjadi justru menimpa anggota keluarga di rumah, bukan siswanya, akibat mengonsumsi makanan yang sudah tidak layak dikonsumsi.
“Ini menjadi penyebab kasus keracunan di beberapa tempat. Bahkan yang keracunan bukannya siswanya, tapi bapak-ibu orang tua di rumah ikut keracunan karena makanan yang dibawa pulang tadi. Sekali lagi, keamanan itu menjadi yang paling utama,” ujarnya.
Oleh karena itu, Sudaryono meminta para guru untuk mencatat nama siswa yang masih terlihat membawa pulang makanan MBG, lalu menyampaikan pesan kepada orang tuanya agar memahami risiko kesehatan yang mungkin timbul. Langkah itu bukan untuk melarang kasih sayang anak kepada orang tua, melainkan demi melindungi seluruh keluarga dari bahaya keracunan pangan yang dapat dihindari sejak dini.













