Satusuaraexpress.co | Sleman – Dua siswa kelas IX B SMP Negeri 1 Turi, Kabupaten Sleman, menciptakan sebuah inovasi yang sangat bermanfaat bernama Detektor MBG. Alat canggih ini dirancang khusus untuk mendeteksi tingkat kesegaran makanan dalam waktu sangat singkat, yakni hanya lima detik, guna mencegah risiko keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kedua siswa tersebut adalah Pradipta Widhi Nugroho dan Abyan Syahlefi, yang tergabung dalam ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR). Ide pembuatan alat ini bermula dari rasa keprihatinan mereka saat melihat berita-berita yang memberitakan kasus keracunan yang diduga terjadi akibat konsumsi makanan program MBG.
“Awalnya kita riset di internet, kita lihat beberapa berita ada kasus keracunan MBG. Setelah itu saya diskusi sama Pradipta, gimana kalau kita membuat alat yang bisa mendeteksi makanan basi,” jelas Abyan, yang akrab disapa Aby.
Setelah berdiskusi dan menyusun kerangka pemikiran, mereka kemudian mengonsultasikan gagasan tersebut kepada guru pembimbing KIR. Proses perwujudan ide hingga menjadi alat yang siap pakai memakan waktu sekitar tiga bulan lebih. Merakit komponen fisik terbilang relatif lebih mudah, namun bagian pemrograman menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.
Baca juga : Vandya Daniela Latuheru, Putri Brigjen Pol Audie S. Latuheru Toreh Prestasi Gemilang, Juara Internasional
“Untuk proses merakitnya lumayan lama, sekitar dua mingguan, karena memprogramnya agak sulit. Awal puasa itu mulai dibuat, bulan Maret sudah jadi, tapi sempat mengalami eror. Bentuk yang sempurna seperti ini baru tercapai bulan Mei,” papar Aby.
Meskipun demikian, mereka tidak menemui kendala berarti dalam mencari komponen pendukung. Seluruh perangkat dapat ditemukan dengan mudah di toko elektronik maupun melalui belanja daring, dengan total biaya pembuatan hanya sekitar Rp500 ribu.
Secara fisik, Detektor MBG berbentuk kotak makanan atau food container berkapasitas satu liter. Seluruh komponen elektronik dan sistem sensor terpasang rapi pada bagian tutupnya.
Cara pengoperasiannya pun sangat sederhana: cukup masukkan sampel makanan ke dalam wadah, tutup rapat, dan tunggu lima detik. Layar kecil yang terpasang pada tutup akan langsung menampilkan keterangan apakah makanan tersebut masih aman dikonsumsi atau sudah tidak layak.
Baca juga : Penerima Beasiswa Cikal Muamalat Tetap Berprestasi Dikala Pandemi
Keunggulan lain dari alat ini adalah kemampuannya terhubung dengan perangkat ponsel pintar melalui jaringan WiFi. Melalui layar ponsel, pengguna dapat melihat rincian lengkap hasil pengujian yang dilakukan oleh sistem pendeteksi.
“Jadi untuk alat ini kita pakai empat sensor sekaligus: pertama mendeteksi kelembapan, mengecek kadar alkohol, memantau kualitas udara di sekitar makanan, mengukur suhu, serta mendeteksi kandungan pestisida yang biasanya ada pada buah-buahan. Bagian ini adalah otak dari alatnya, semuanya diprogram dari sini. Hasilnya bisa dipantau lewat HP menggunakan koneksi WiFi, dan bisa digunakan pada semua jenis perangkat gawai,” terang Aby menjelaskan cara kerja alat ciptaannya.
Berdasarkan hasil serangkaian pengujian yang telah dilakukan, Aby mengklaim Detektor MBG memiliki tingkat ketepatan atau akurasi hingga 100 persen dalam mendeteksi kesegaran makanan.
“Sekitar lima detik prosesnya. Kalau makanan sudah basi, layar akan langsung menunjukkan keterangan tidak aman. Kami sudah melakukan uji coba berulang kali hingga lebih dari sembilan kali, dan hasilnya selalu tepat 100 persen,” ujarnya.
Baca juga : Pemkot Tangsel Apresiasi 7 Dinas Berprestasi Baik di Kementerian Maupun Provinsi
Guru mata pelajaran IPA sekaligus pembimbing KIR SMP N 1 Turi, Anik Marwati, menambahkan bahwa alat ini telah diuji coba berkali-kali terhadap pasokan makanan program MBG yang masuk ke sekolahnya. Hasilnya, seluruh makanan yang diterima dinyatakan masih layak konsumsi.
“Makanan MBG idealnya harus dikonsumsi maksimal dua jam setelah tiba di sekolah. Nah, alat ini biasanya melakukan pengujian sekitar satu jam setelah makanan datang. Setiap jenis makanan seperti nasi, sayuran, dan lauk pauk dites sebanyak tiga kali secara berulang. Saat ini alat masih terus dikembangkan, namun sudah mulai digunakan secara berkala untuk memastikan keamanan makanan bagi siswa, dan alhamdulillah hasilnya selalu aman,” jelas Anik.
Karya cipta kedua siswa ini kini tengah diikutsertakan dalam ajang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat Nasional. Alhamdulillah, mereka telah berhasil melewati babak pertama seleksi yang meliputi verifikasi proposal, penyusunan laporan, hingga penyajian hasil penelitian. Kini, Detektor MBG siap bersaing di tahap kedua yang akan dilaksanakan di Jakarta.
“Kami sudah lolos tahap pertama OPSI tingkat Nasional. Tahap selanjutnya kami akan melakukan presentasi hasil penelitian, dan kami berharap karya sederhana ini dapat bermanfaat bagi keamanan konsumsi makanan masyarakat luas,” pungkas Anik.











