Satusuaraexpress.co | Bogor — Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, turun langsung ke lokasi untuk meninjau kondisi aliran Kali Cibala yang melintasi jembatan di persimpangan Jalan PLN dan Jalan Tumenggung Wiradireja, Kecamatan Bogor Utara. Peninjauan ini dilakukan bersama jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bogor, aparatur wilayah setempat, serta perwakilan PLN, sebagai langkah cepat merespons curah hujan yang belakangan ini jauh melampaui rata-rata normal.
Kondisi cuaca di wilayah Bogor saat ini memang terasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Intensitas hujan yang terjadi bahkan mencapai angka 120 milimeter, tingkat yang dikhawatirkan dapat memicu banjir lintasan maupun genangan air di berbagai titik rawan. Situasi ini mendorong Pemerintah Kota Bogor untuk segera merumuskan berbagai solusi nyata guna meminimalkan risiko bencana yang mungkin terjadi.
Dalam kesempatan itu, Dedie A. Rachim menekankan bahwa perubahan cuaca yang terjadi saat ini bukan sekadar perubahan iklim biasa, melainkan sudah masuk dalam kategori bencana iklim.
Baca juga : Pagar Roboh Timpa Warga, Cuaca Ekstrem Picu Berbagai Bencana di Bogor
“Hujan yang sekarang ini agak berbeda, curah hujannya berbeda, intensitasnya berbeda. Bukan hanya pemanasan global, tapi ini sudah bencana iklim, bukan sekadar perubahan iklim lagi. Kita sebagai manusia yang berakhlak, berbudi luhur, punya akal dan budi, tentu harus introspeksi, bahwa ternyata perilaku kita juga berkontribusi terhadap perubahan alam ini,” ujarnya, Rabu (6/5/3026).
Bersama PLN, Pemerintah Kota Bogor terus mengumpulkan data dan melihat langsung fakta di lapangan untuk menentukan langkah penanganan yang tepat. Di sepanjang aliran Kali Cibala, terlihat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Selain terdapat jaringan utilitas milik PLN, aliran air juga mengalami penyempitan akibat keberadaan bangunan yang terlalu dekat dengan tepi sungai.
Masalah ini semakin parah dengan adanya tumpukan sampah yang terbawa arus, mulai dari sampah plastik, styrofoam, hingga barang-barang besar seperti karpet, kasur, dan sofa yang seharusnya tidak dibuang ke saluran air.
Melihat tumpukan sampah tersebut, Dedie menyampaikan kekecewaannya sekaligus mengajak seluruh warga untuk meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan.
Baca juga : Anggaran Memadai dan Kerja Sama Luas, Pemkot Bogor Perkuat Pendidikan
“Kalau manusia yang berpikir, masa karpet, sofa dibuang ke saluran air? Bagaimana tidak menyumbat? Jadi tolong ada kesadaran dari kita semua untuk mengubah perilaku dan menjadikan alam lebih lestari. Kita mencintai alam, insyaallah alam juga mencintai kita,” tegasnya.
Dari hasil pengamatan di lapangan, diketahui bahwa sebagian warga sudah menunjukkan sikap kooperatif dengan bersedia memundurkan bangunannya agar aliran sungai bisa diperlebar. Namun, masih ada beberapa bangunan lain yang posisinya tetap menghalangi dan menyebabkan aliran air menjadi sempit.
Mengingat hal ini, Dedie menegaskan bahwa tahun ini akan ada sejumlah langkah prioritas yang disusun pemerintah kota sebagai respons nyata menghadapi perubahan cuaca yang semakin ekstrem. Menurutnya, penyebab utama terjadinya limpasan air adalah aliran sungai yang menyempit. Ketika debit air yang turun dari daerah hulu semakin deras, bagian hilir tidak mampu lagi menampung volume air tersebut sehingga meluap ke pemukiman atau jalan raya.
“Kalau alirannya lancar, insyaallah tidak akan terjadi masalah berarti. Kabel PLN yang sejajar dengan jembatan sebelumnya sebenarnya bukan penyebab utama. Penyebab utamanya adalah air yang melimpah dari hulu. Hulunya bisa saja di mana saja, apakah di Sentul, Babakan Madang, atau tempat lainnya, lalu mengalir turun ke Cimahpar hingga Tanah Baru. Kita sebagai manusia harus lebih bijak dalam menyikapi dan merespons semua kejadian belakangan ini,” jelas Dedie.
Sementara itu, Manajer PLN Bogor, Gumelar, menyatakan kesiapan pihaknya untuk bekerja sama dan bersinergi penuh dengan Pemerintah Kota Bogor dalam penanganan masalah ini. Ia menyebutkan bahwa pihaknya sudah melakukan survei lapangan dan akan segera mengusulkan anggaran yang diperlukan.
Kolaborasi ini diharapkan dapat berjalan lancar, terutama ketika pemerintah kota mulai melaksanakan rencana peninggian jembatan di lokasi tersebut, sehingga penyesuaian ketinggian jaringan kabel PLN pun dapat dilakukan secara bersamaan.
“Kami siap mendukung langkah-langkah yang diambil pemerintah demi keselamatan dan kenyamanan warga,” pungkas Gumelar.













