Satusuaraexpress.co | Surakarta – Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menggebrak dengan perhelatan akbar “24 Jam Menari” dalam rangka memperingati Hari Tari Dunia. Bertemakan “Menembus Medan Budaya Tanpa Batas,” acara tahun ini menjadi lebih istimewa karena menandai dua dekade penyelenggaraannya yang telah bertransformasi dari skala nasional menjadi internasional.
Salah satu sorotan utama adalah partisipasi inspiratif dari Jakarta, yang diwakili oleh Farah Aini Astuti, S.Sn., M.A.
Dimulai pukul 06.00 WIB, rangkaian acara “24 Jam Menari” menyuguhkan festival pertunjukan tari nonstop selama 24 jam penuh, penampilan khusus dari kraton, hingga Dance Department Summit Meeting yang mempertemukan 12 perguruan tinggi seni dari dalam dan luar negeri.
Kurasi artistik acara ini dipercayakan kepada Prof. Matthew Isaac Cohen, Ph.D dari Jerman, memastikan kualitas dan keberagaman ekspresi seni tari yang disajikan.
Lebih dari 100 kelompok seni dari 24 kota di Indonesia dan mancanegara turut memeriahkan ajang ini. Kehadiran sembilan penari pilihan dari berbagai daerah dan negara kian memperkaya khazanah budaya yang ditampilkan, masing-masing membawa identitas dan perspektif artistik yang unik.
Farah Aini Astuti, seorang Aparatur Sipil Negara di Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta sekaligus pelaku seni tari daerah, menjadi duta Jakarta dalam perhelatan ini mengatakan, partisipasinya tidak hanya merepresentasikan kekayaan seni tari Betawi dan Jakarta, tetapi juga menegaskan komitmen ibu kota dalam melestarikan, mengembangkan, dan mempromosikan seni tradisi di tengah pusaran modernitas.
Dalam penampilannya, Farah tidak hanya menari selama 24 jam nonstop, tetapi juga akan membawakan Karya Masterpiece-nya yang berjudul “Rahm.” Tarian ini merupakan refleksi pengalaman empiris Farah sebagai seorang calon ibu, sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap para penyintas Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma.
“Keikutsertaan perwakilan Jakarta di panggung internasional ini semakin mengukuhkan posisi Jakarta sebagai pusat kebudayaan yang dinamis dan inklusif.” kata Farah, dikutip Satusuaraexpress.co, Rabu, 29 April 2026.
“Jakarta menunjukkan kemampuannya dalam merangkul tradisi sambil terus berinovasi dalam konteks global.” sambungnya.

Melalui setiap gerak tari yang ditampilkan, Jakarta menyampaikan pesan bahwa identitas lokal memiliki relevansi dan daya saing yang kuat di tengah arus globalisasi seni.
“Tahun ini, para penari “24 Jam Menari” juga mendapat kehormatan menjadi bagian dari MTN Ikon Inspirasi, sebuah inisiatif dari Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya yang digagas oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.” tutur Farah.
Program ini bertujuan untuk mengangkat talenta-talenta seni budaya Indonesia ke tingkat yang lebih luas dan strategis.
Partisipasi aktif Jakarta dalam “24 Jam Menari” diharapkan dapat memperkuat ekosistem seni tari di ibu kota, mendorong lahirnya seniman muda berbakat, serta membuka peluang kolaborasi lintas daerah dan antar negara.
Lebih dari itu, ajang ini merupakan momentum penting bagi diplomasi budaya Indonesia, dengan Jakarta sebagai etalase kreativitas yang menampilkan keberagaman dan kemajuan seni pertunjukan nasional.
Ke depan, diharapkan keterlibatan Jakarta dalam forum seni internasional semacam ini dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni tari, memperkuat identitas budaya lokal, serta mendorong pertumbuhan industri kreatif berbasis seni pertunjukan.
“24 Jam Menari” diharapkan terus menjadi inspirasi global dalam membangun dialog budaya yang inklusif, berkelanjutan, dan tanpa batas.” tutup Farah.













