Ritual Saba Badui 2026: Tradisi Turun Temurun yang Siap Menyambut Wisatawan Jabodetabek

Screenshot 20260329 183607

Satusuaraexpress.co | Banten — Ritual Saba Badui, tradisi persembahan turun temurun masyarakat Suku Badui di Kabupaten Lebak, Banten, akan kembali digelar pada bulan April 2026. Kegiatan yang menjadi ungkapan rasa syukur atas hasil komoditas pertanian ladang ini akan berlangsung pada tanggal 24 hingga 26 April 2026, seperti yang disampaikan Tetua Adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, dalam keterangan yang dilansir pada Sabtu (28/3/2026).

Makna dan Tujuan Ritual

Tradisi Saba merupakan kewajiban tahunan bagi kedua kelompok masyarakat Badui, yaitu Badui Dalam dan Badui Luar. Persembahan akan diberikan kepada Bupati Lebak Moch Hasbi – Amir Hamzah serta Gubernur Banten Andra Soni-Dimyati Natakusumah sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil panen.

Selain itu, ritual ini juga menjadi bentuk ucapan terima kasih kepada kepolisian dan TNI yang telah menjaga keamanan kawasan Gunung Kendeng, tempat tinggal sebagian besar masyarakat Badui.

Pelaksanaan Saba akan dilakukan setelah selesainya ritual kawalu yang tengah berjalan saat ini. “Bila sudah selesai melaksanakan tradisi kawalu maka dilakukan Seba untuk silaturahmi bersama kepala daerah setempat,” jelas Jaro Oom.

Persiapan yang Dilakukan

Masyarakat Badui yang tersebar di 68 perkampungan telah mulai melakukan pendataan untuk menghadiri perayaan tahunan ini. Selain itu, mereka juga tengah mempersiapkan berbagai komoditas hasil pertanian ladang sebagai persembahan, antara lain pisang, iris, beras, gula merah, petai, talas, dan tepung laksa.

Penataan untuk Wisatawan

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak, Yosep M Holis, menyampaikan bahwa pihaknya menargetkan kunjungan wisatawan sebanyak 46 ribu orang pada acara ini. Tahun 2026 masuk dalam kategori Saba Leutik dengan partisipasi masyarakat Badui sekitar 1.500 orang.

Selain menyaksikan ritual tradisional, wisatawan juga akan disuguhkan berbagai aktivitas pendukung, seperti pameran produk UMKM lokal, bazar ekonomi kreatif, serta pentas seni dan budaya khas daerah. Meskipun merupakan agenda rutin tahunan, pihak terkait terus berinovasi agar kegiatan ini semakin menarik dan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal.

“Kami berharap tradisi Seba itu dapat mendongkrak kunjungan wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara,” ujar Yosep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *