KKP Sebut Pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport Dioperasikan untuk Patroli

PSDKP Dirjen Pung Nugroho Saksono Agustus 2024.jpeg
Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP, Pung Nugroho Saksono (Ipunk).

Satusuaraexpress.co | Maros — Pesawat jenis ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang hilang kontak di daerah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dikonfirmasi sebagai pesawat patroli milik Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP, Pung Nugroho Saksono (Ipunk) menyatakan bahwa pesawat yang hilang memang merupakan alat patroli kementeriannya. Namun, hingga saat ini belum ada informasi mengenai kondisi para petugas yang berada di dalam pesawat karena kendaraan udara tersebut belum ditemukan.

“Belum tau (keadaan penumpang pesawat), karena belum ditemukan pesawatnya,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa KKP akan menerjunkan personel untuk membantu proses pencarian, bahkan dirinya sendiri berencana terbang ke lokasi kejadian pada malam hari yang sama.

Terpisah, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menginformasikan bahwa pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut melaporkan membawa 10 orang di dalamnya, yang terdiri dari tujuh awak pesawat dan tiga penumpang. Identitas lebih rinci dari ke-10 orang tersebut belum dijelaskan.

Baca juga : Pencarian Pesawat ATR 42-500 Indonesia Air Transport Diperluas ke Pegunungan Bulusaraung

Pesawat ATR 42-500 buatan tahun 2000 dengan nomor seri 611 tersebut sedang melaksanakan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta (JOG) menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar (UPG), dengan Pilot in Command Capt. Andy Dahananto.

Proses pencarian saat ini tengah berlangsung dengan target lokasi di pegunungan kapur Bantimurung, desa Leang-leang, Kabupaten Maros, yang juga menjadi Posko Basarnas. Pencarian lanjutan direncanakan dilakukan melalui penerbangan helikopter TNI Angkatan Udara bersama Basarnas pada pukul 16.25 WITA. Selain itu, AirNav Indonesia tengah menyiapkan penerbitan Notice to Airmen (Notam) terkait kegiatan pencarian dan pertolongan.

Informasi awal menunjukkan bahwa pada saat kejadian, jarak pandang sekitar 8 kilometer dengan kondisi cuaca di sekitar area sedikit berawan. Detail lebih lanjut mengenai kondisi cuaca masih dalam proses konfirmasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait seperti Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah V Makassar, AirNav Indonesia, Basarnas, operator penerbangan, dan TNI Angkatan Udara untuk memastikan penanganan situasi berjalan optimal dan memantau perkembangan terkini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *