Sorotan Tajam Eks Wakapolri: Hilangnya ‘Kejujuran’ dari Tribrata Memicu Krisis Integritas Polri

Screenshot 2025 11 03 06 25 08 31 40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b12
Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna,

Satusuaraexpress.co | ​Jakarta – Mantan Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) periode 2011-2013, Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna, menyampaikan kritik fundamental terhadap kondisi moral institusi Bhayangkara saat ini. Dalam sebuah Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan dalam rangka Hari Jadi Humas Polri ke-74, Nanan secara terbuka menyoroti lenyapnya kata ‘kejujuran’ dari naskah pedoman hidup Polri, Tribrata, yang diperbarui pada tahun 2022, jauh setelah ia tidak menjabat.

Kritik ini mencuat sebagai respons atas apa yang ia sebut sebagai krisis kepercayaan (untrusted) masyarakat terhadap Polri, yang bahkan mendorong seruan untuk reformasi ulang institusi kepolisian.

Hilangnya Pilar Moral dari Tribrata

​Nanan Soekarna menekankan bahwa inspirasi moral kepolisian datang dari sosok pendahulu, Moehammad Jasin, yang menanamkan teladan: “Berani tanpa pamrih, jujur tanpa kompromi, mengabdi tanpa batas.”

​Menurut Nanan, kata ‘kejujuran’ yang merupakan inti dari teladan tersebut, dan pernah tertulis dalam Tribrata versi 1954, kini telah tiada dalam revisi Tribrata 2022. “Dengan hilangnya satu kata, maka sejuta makna ikut pudar. Tanpa kejujuran, hukum kehilangan nurani,” tegasnya, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Divisi Humas Polri, Minggu (2/11/2025).

​Catatan Penting: Pihak Polri melalui klarifikasi di Media Hub (hasil verifikasi terhadap video TikTok) menyebut bahwa perubahan Tribrata yang menghilangkan kata ‘kejujuran’ sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 2002 (Keputusan Kapolri nomor Pol.: Kep/17/VI/2002), bukan pada tahun 2022 seperti yang disampaikan Nanan.

Krisis Integritas, Bukan Hanya Kelembagaan

​Eks Wakapolri tersebut memperjelas bahwa persoalan yang dihadapi Polri saat ini melampaui masalah struktural kelembagaan, melainkan sebuah krisis integritas. Ia mendefinisikan integritas sebagai jembatan yang menghubungkan kebenaran dan kepercayaan.

​”Tanpa integritas kebenaran akan kehilangan arah. Tanpa kebenaran, kepercayaan menjadi rapuh,” ujarnya. Integritas, baginya, bukan sekadar sifat personal, melainkan merupakan pondasi moral sistemik. Seorang Bhayangkara sejati, menurutnya, harus menyatukan ketiga pilar: berkata jujur, berpikir benar, dan bertindak adil.

​Nanan juga menyinggung upaya reformasi Polri yang telah dilakukan selama 20 tahun terakhir untuk membangun kepercayaan (trust building), kemitraan, dan pelayanan prima. Namun, ia menyimpulkan bahwa upaya tersebut menjadi rapuh: “Kepercayaan tak tumbuh tanpa kejujuran, kemitraan atau networking rapuh tanpa nilai, keunggulan kosong tanpa moral, itu yang terjadi sekarang mungkin.”

Tiga Pilar Nilai Moral Nanan Soekarna

​Menanggapi pudarnya nilai kejujuran, Nanan Soekarna memaparkan upaya yang ia tanamkan dalam kode etik Polri saat ia masih aktif menjabat sebagai Wakapolri, sebagai penjabaran atas hilangnya kata “kejujuran” tersebut. Upaya itu meliputi:

  1. ​Menambahkan lima tampilan kepemimpinan Polri.
  2. ​Menambahkan tujuh tampilan karakter anggota Polri.
  3. ​Konsep Integrity Defender: Menolak perintah atasan yang tidak benar.

​Nanan juga menitipkan tiga prinsip nilai untuk menghidupkan kembali roh Tribrata:

  • ​Nilai di atas segalanya: Nilai harus ditempatkan di atas jabatan dan materi. Kondisi saat ini, menurutnya, justru: “no values, just status and fulus” (tanpa nilai, hanya status dan uang).
  • Full Commitment No Conspiracy: Memiliki komitmen penuh, tidak terlibat dalam konspirasi. “Jujur walaupun sendirian,” pesannya.
  • Integrity Defender: Keberanian untuk melawan atasan jika perintahnya tidak benar. Tujuannya adalah untuk menjaga atasan dan institusi itu sendiri dari penyimpangan.

​Nanan Soekarna menyimpulkan bahwa reformasi sejati bagi Polri tidak cukup hanya struktural, tetapi harus menyentuh ranah kultural dan moral. Reformasi bukan tentang mengganti struktur, melainkan tentang menghidupkan kembali kultur positif yang sudah termaktub dalam Tribrata dan Kode Etik.

​”Kita sedang menyalakan kembali api kejujuran, bukan untuk masa lalu tetapi untuk masa depan Polri yang berintegritas,” pungkas Nanan, dengan  menegaskan urgensi pemulihan moral di tubuh kepolisian yang saat ini dipimpin oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *