Balas Kebijakan Presiden AS, Pemerintah China Berlakukan Tarif 34 Persen Atas Produk Impor Asal Amerika Serikat

Indonesia Pilih Jalur Diplomasi dengan Negoisasi

Screenshot 2025 0408 101028
Ilustrasi

Satusuaraexpress.co | Jakarta – Pemerintah China memberlakukan tarif 34 persen atas produk impor asal Amerika Serikat (AS) sebagai balasan dari penetapan bea impor timbal balik atau tarif resiprokal yang ditetapkan oleh Presiden AS, Donald Trump.

Trump menyebut China telah merespon kebijakannya dengan langkah yang salah karena panik. Ia menggambarkan hal itu sebagai sesuatu yang dipicu ketidakmampuan China.

Sementara itu, Indonesia menegaskan tidak akan menempuh langkah retaliasi atau pembalasan tarif seperti China, melainkan memilih jalur diplomasi dengan negoisasi dan mencari solusi yang saling menguntungkan.

Baca juga : Dinilai Menghambat, Wamenaker Akan Menghapus Aturan Batas Usia Dalam Lowongan Kerja

“Kita dikenakan waktu yang sangat singkat, yaitu 9 April, diminta untuk merespons. Indonesia menyiapkan rencana aksi dengan memperhatikan beberapa hal, termasuk impor dan investasi dari Amerika Serikat,” kata Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis, Minggu (6/4).

Mengenai tak adanya Dubes Indonesia di AS selama dua tahun terakhir, pemerintah akan mengirim delegasi tingkat tinggi ke Washington DC, Amerika Serikat untuk secara khusus bernegoisasi atas kebijakan tersebut.

Sementara, Wakil Menteri Perdagangan Ling Ji yang berbicara kepada perwakilan perusahaan AS menjamin tarif tambahan itu melindungi hak dan kepentingan perusahaan, termasuk dari Amerika Serikat.

Baca juga : Hanya Lulusan SD, Kakek Muryani Ubah Sampah Plastik Menjadi BBM, Bikin Para Ilmuwan Melongo!

“(Tarif tambahan) itu ditujukan untuk membawa Amerika Serikat kembali ke jalur yang benar dalam sistem perdagangan multilateral,” ujar Ling Ji, seperti diberitakan AFP pada Senin (7/4).

Ling Ji kemudian menegaskan akar permasalahan dari perang dagang itu adalah Amerika Serikat. Ia pun berharap perusahaan AS yang berbisnis di China dapat mempertimbangkan langkah-langkah pragmatis untuk menyikapi situasi sekarang.

Sebab, pemerintah China dan perusahaan sama-sama perlu menjaga stabilitas perdagangan global dan kerja sama yang saling menguntungkan.

Baca juga : Jelang Akhir Bulan Ramadhan Forkabi Gelar Buka Puasa Bersama Dihadiri Gubernur DKI serta Ribuan Anggota

“Akar penyebab masalah tarif ini terletak di Amerika Serikat,” ujar Ling Ji.

“(Perusahaan) perlu mengambil tindakan pragmatis untuk bersama-sama menjaga stabilitas rantai pasokan global dan mendorong kerja sama timbal balik serta hasil yang saling menguntungkan,” sambungnya.

China membalas kebijakan tarif resiprokal Presiden Donald Trump dengan menetapkan tarif tambahan 34 persen untuk semua produk yang diimpor dari Amerika Serikat. Penetapan tarif itu berlaku mulai 10 April 2025.

Kabar penetapan tarif itu diumumkan Komisi Tarif Bea Cukai Dewan Negara China pada Jumat (4/4). Tarif itu ditetapkan sebagai balasan atas keputusan Trump yang menerapkan tarif tambahan 34 persen untuk barang impor China pada Rabu (2/4).

Baca juga : Masa Tahanan Diperpanjang, Nikita Mirzani Bakal Merayakan Lebaran Idul Fitri di Penjara

Pemerintah China juga memberlakukan kontrol ekspor pada tujuh hasil bumi langka, termasuk gadolinium dan yttrium yang kerap dimanfaatkan untuk produksi barang elektronik.

Sementara itu, Amerika Serikat tercatat mengekspor barang senilai US$144,6 miliar ke China pada 2024. Jumlah itu jauh lebih sedikit dari ekspor China ke AS yang mencapai US$439,7 miliar.

Langkah ini menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan dagang antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu.

Baca juga : Ormas Ormas Minta THR di Bekasi Bikin Resah Pengusaha

“Kami tidak mencari konflik, namun kami juga tidak takut menghadapinya. Tekanan dan ancaman bukanlah cara yang tepat untuk berinteraksi dengan China,” tegas Kementerian Luar Negeri China dalam pernyataan resminya dikutip CNN, Minggu (6/4).

“Langkah AS berusaha menggulingkan tatanan ekonomi dan perdagangan internasional yang telah ada, dengan memprioritaskan kepentingan nasional AS di atas kepentingan bersama komunitas internasional,” kata Kementerian Luar Negeri China.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *