Satusuaraexpress.co | CHINA – Negara China menggemparkan dunia teknologi global dengan meluncurkan kecerdasan buatan (Al) bernama DeepSeek. Dengan anggaran pengembangan sebesar USD 6 juta (sekitar Rp96 miliar), DeepSeek-V3 berhasil melampaui model Al terkemuka seperti ChatGPT, Gemini, dan Meta Al dalam berbagai pengujian.
Teknologi ini unggul dalam pemecahan logika, pemrograman, serta pemahaman konteks. Selain itu, DeepSeek terbukti lebih efisien, hanya membutuhkan sedikit GPU, dengan biaya pelatihan sebesar USD 5,58 juta (sekitar Rp89,28 miliar). Teknologi ini jauh lebih hemat dibandingkan Al buatan AS, yang menghabiskan hingga USD 250 miliar (sekitar Rp4.000 triliun).
Peluncuran DeepSeek memberikan dampak besar pada pasar saham teknologi AS. Saham Nvidia anjlok 174, menyebabkan kerugian nilai pasar sebesar USD 600 miliar (Rp9.600 triliun). Saham Google turun 496, sementara Microsoft kehilangan 396.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar perusahaan teknologi AS merosot sekitar USD 1 triliun (Rp16.000 triliun) dalam satu hari, memunculkan keraguan investor terhadap keberlanjutan investasi besar-besaran dalam pengembangan Al di Amerika Serikat.
DeepSeek kini menjadi ancaman serius bagi dominasi teknologi AS. Dengan efisiensi tinggi dan performa yang setara dengan GPT-40 serta Claude 3.5 Sonnet, DeepSeek dengan cepat meraih popularitas, bahkan menjadi aplikasi terpopuler di App Store AS, menggeser ChatGPT.
Keberhasilan ini semakin memperkuat posisi China dalam persaingan teknologi global, meskipun AS telah melarang ekspor chip canggih ke China untuk menghambat kemajuan teknologinya. Namun, meski menghadapi pembatasan tersebut, China tetap mampu mengembangkan DeepSeek yang terbukti lebih unggul dibandingkan teknologi Al AS.













