Satusuaraexpress.co | OPINI — Ketika Rimba Hanya Jadi Latar Belakang Story Kita sering melihat foto orangutan, sungai berkabut, dan pohon-pohon raksasa Kalimantan di linimasa. Bagus untuk estetika feed, tapi jarang kita tanya apakah rimba itu masih sebanyak dulu. Jawabannya kurang menyenangkan.
Data terbaru menunjukkan deforestasi Indonesia melonjak menjadi 433.751 hektare pada 2025, naik 66 persen dari 261.575 hektare pada 2024. Menurut laporan Auriga Nusantara yang dirilis 31 Maret 2026, Kalimantan terus menempati peringkat teratas wilayah paling terdeforestasi sejak menyalip Sumatra pada 2013.
Bagi generasi Z dan milenial, ini bukan sekadar urusan “nanti” atau “orang tua”. Kitalah yang akan hidup paling lama dengan konsekuensinya, mulai dari udara yang makin panas, kabut asap yang berulang, sampai hilangnya satwa ikonik seperti orangutan yang hanya tersisa di foto dan stiker. Kalau jejak hijau Borneo terus menipis, masa depan kitalah yang ikut tipis.
Apa Sebenarnya “Hutan Kalimantan” Itu?
Kalimantan adalah bagian Indonesia dari Pulau Borneo, pulau terbesar ketiga di dunia. Menurut analisis CIFOR, Borneo Indonesia mencakup sekitar 73 persen wilayah pulau. Smithsonian Magazine melaporkan bahwa hutan hujan Borneo termasuk yang tertua di dunia dan menjadi rumah bagi badak Sumatra, gajah Asia, hingga macan dahan.
Hutan seperti ini bekerja sebagai penyimpan karbon, pengatur tata air, dan penopang keanekaragaman hayati. Studi tentang Borneo yang dipimpin David Gaveau dan Erik Meijaard menegaskan bahwa hutan dataran rendah menyimpan keanekaragaman hayati tertinggi dan cadangan karbon terbesar. Justru jenis hutan inilah yang paling cepat hilang.
Linimasa Hijau: Dari Rimba Utuh ke Lahan Terbuka
1970-an: Rimba hampir utuh. Studi Gaveau dkk. di jurnal PLOS ONE (2014) mencatat bahwa pada awal 1970-an sekitar 75 persen Borneo masih berhutan.
1973-2010: Era pembalakan dan perkebunan. Dalam periode ini, luas hutan Borneo menyusut sekitar 30 persen, hampir dua kali lebih cepat dari hutan tropis lembap dunia lainnya. Menurut studi yang dikutip Smithsonian, antara 1980 dan 2000 kayu bulat yang dipanen dari Borneo lebih banyak daripada gabungan Afrika dan Amazon. Dalam laporan Mongabay tentang studi yang sama, hutan dataran rendah yang masih utuh menyusut 73 persen. Untuk Kalimantan saja, kehilangan hutannya mencapai sekitar 31 persen.
2000-2017: Laju tinggi, tapi ada harapan. Dilansir dari CIFOR, Borneo kehilangan 6,04 juta hektare hutan tua (14 persen) pada 2000-2017, dan Borneo Indonesia menyumbang 3,74 juta hektare. Para peneliti saat itu melihat alasan untuk “optimisme hati-hati”, tetapi mengingatkan bahwa pekerjaan masih banyak.
2016-2023: Tren menurun. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), deforestasi netto Indonesia turun dari 3,51 juta hektare per tahun pada 1996-2000 menjadi hanya 0,12 juta hektare per tahun pada
2022-2023. Prof. Matthew Hansen dari University of Maryland, dalam rilis KLHK Juli 2024, menyebut tren Indonesia berlawanan dengan arah global karena negara-negara berhutan tropis besar lainnya justru mengalami kenaikan.
2024-2025: Tren berbalik. Auriga Nusantara mencatat deforestasi naik untuk tahun ketiga berturut-turut pada 2024, dengan kehilangan terbesar di Kalimantan di tengah pembangunan ibu kota baru. Pada 2025, Kalimantan Tengah menempati posisi teratas dengan 56.900 hektare, naik dari 33.389 hektare pada 2024. Lembaga ini menilai kenaikan di Kalimantan sekitar 22 persen, didorong tambang dan ekspansi perkebunan.
Sebagai catatan, angka pemerintah dan LSM sering berbeda. Sebuah tulisan di E-Paper Perpustakaan DPR-RI menyebut perbedaan itu terjadi karena definisi, metodologi, dan pendekatan penghitungan yang tidak sama. Auriga sendiri menyatakan bahwa hitungannya tidak memasukkan kehilangan di hutan tanaman, dan belum memperhitungkan reforestasi lebih dari 40.000 hektare. Karena itu, pembaca sebaiknya melihat arah tren, bukan hanya satu angka.
Siapa yang Paling Terdampak? Tanyakan pada Orangutan
Studi Voigt dkk. di jurnal Current Biology (2018) menjadi salah satu alarm terkeras. Dilansir dari Associated Press, populasi orangutan Borneo diperkirakan anjlok lebih dari 100.000 ekor sejak 1999, dan studi itu menghitung penurunan lebih dari 148.000 ekor antara 1999 dan 2015, menyisakan sekitar 70.000-100.000 ekor. IUCN mengategorikan orangutan Kalimantan sebagai satwa sangat terancam punah.
Serge Wich, salah satu penulis studi tersebut, mengingatkan bahwa jika tidak ada tindakan, orangutan kemungkinan hanya akan bertahan di segelintir taman nasional kecil. Erik Meijaard menambahkan bahwa orangutan berkembang biak sangat lambat sehingga kehilangan satu dari seratus individu dewasa per tahun saja sudah berisiko membuat populasi punah.
Penulis: Yus Yunus | Editor: Ghugus San













