Mahasiswa S2 STIK Lemdiklat Polri Angkatan 16 Salurkan Bantuan dan Pendampingan Kemanusiaan bagi Penyintas Gempa NTT

IMG 20260831 WA0001
Mahasiswa S2 STIK Lemdiklat Polri Angkatan 16 Salurkan Bantuan dan Pendampingan Kemanusiaan bagi Penyintas Gempa NTT.

Satusuaraexpress.co | Sikka — Kepedulian terhadap sesama di tengah musibah kembali diwujudkan melalui aksi nyata yang hangat dan penuh makna. Mahasiswa Program Magister Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Lemdiklat Polri Angkatan 16 menggelar kegiatan bakti sosial bagi masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, tepatnya pada Sabtu (29/8/2026).

Langkah ini diambil untuk meringankan beban warga yang hingga kini masih bertahan dan berjuang di tengah situasi pascabencana yang belum sepenuhnya pulih.

Bantuan disalurkan ke dua wilayah sasaran utama. Pertama, di Dusun Wairhabi, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, dan yang kedua dikirim melalui Pelabuhan Lorens Say untuk kemudian disebarkan ke wilayah Pelabuhan Palue, Kecamatan Palue, daerah yang aksesnya tidak selalu mudah dijangkau, sehingga setiap kiriman bantuan memiliki arti yang berlipat ganda.

Bagi warga yang kehilangan kenyamanan rumah dan harus menjalani hari-hari di lokasi pengungsian, kebutuhan sehari-hari yang sederhana sekalipun menjadi sesuatu yang sangat berharga. Paket kebutuhan pokok yang diserahkan berisi beras Cap Tani, minyak goreng Lentera, air mineral Aqua, susu bubuk Dancow, mi instan rasa soto, hingga popok bayi, barang-barang yang langsung menjawab kebutuhan dasar para penyintas selama masa pemulihan.

Baca jugaSTIK Lemdiklat Polri Gelar Dialog Literasi Terakhir Bertema Transformasi Polri: Retorika atau Harapan?

Di Dusun Wairhabi, bantuan diterima langsung oleh Agustinus Nong Viles, selaku koordinator posko pengungsian setempat. Posko tersebut menampung warga dari tiga wilayah, yaitu Dusun Wairhabi, Dusun Habigahar, dan Kelurahan Waiot, dengan total 159 kepala keluarga yang kini tinggal di tempat pengungsian. Mereka adalah bagian dari ribuan warga yang harus menghadapi dampak gempa sekaligus beradaptasi dengan kehidupan yang jauh dari kenyamanan rumah masing-masing.

IMG 20260831 WA0000

Kehadiran para mahasiswa S2 STIK Lemdiklat Polri Angkatan 16 ternyata tidak sekadar membawa paket sembako. Mereka juga meluangkan waktu untuk melakukan pendampingan psikologis melalui kegiatan trauma healing serta bakti kesehatan bagi para korban, terutama anak-anak dan lansia yang paling rentan terpukul oleh peristiwa gempa yang dahsyat itu.

Di tengah suasana yang masih penuh kekhawatiran akibat gempa susulan, kehadiran mereka menjadi pesan yang menenangkan: bahwa para penyintas tidak berjalan sendiri menghadapi bencana ini.

“Kami ingin mengambil bagian dalam membantu masyarakat yang membutuhkan uluran tangan setelah bencana gempa mengguncang wilayah Flores dan sekitarnya,” ujar Komisaris Besar Polisi Didit Bambang Wibowo, selaku perwira pendamping mahasiswa S2 STIK Angkatan 16.

Baca jugaBidpropam Polda Banten Amankan Giat Kalemdiklat Polri dan Kapolda Banten di Polsek Rangkasbitung

Kegiatan sosial ini lahir dari semangat gotong royong yang semakin terasa penting ketika kebutuhan masyarakat terdampak masih terus bermunculan. Terlebih lagi, sejumlah wilayah di NTT memiliki kondisi geografis yang menantang, sehingga distribusi bantuan tidak selalu berjalan lancar dan cepat. Karena itu, setiap bantuan yang sampai ke tangan warga membawa arti lebih dari sekadar nilai barang, ia adalah wujud solidaritas dan kepedulian kemanusiaan yang nyata dari saudara sebangsa dan setanah air.

Perlu diketahui, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, pada 15 Agustus 2026 sekitar pukul 04.58 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat episenter gempa berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer, dan sempat memicu peringatan dini tsunami.

Bencana tersebut berdampak luas di tujuh kabupaten, yaitu Sikka, Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Hingga pembaruan data BNPB pada Sabtu (29/8), jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 111 orang, sementara ratusan ribu warga terdampak. Data kesehatan NTT per 24 Agustus mencatat sekitar 299.145 orang masih mengungsi di ketujuh kabupaten tersebut.

Di tengah proses pemulihan yang masih panjang dan gempa susulan yang kerap terjadi, aksi kemanusiaan seperti yang dilakukan mahasiswa S2 STIK Lemdiklat Polri Angkatan 16 menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya soal membangun kembali rumah dan fasilitas umum. Lebih dari itu, adalah memastikan para penyintas merasa diperhatikan, didampingi, dan tidak sendirian dalam perjalanan menuju pemulihan.

Kegiatan ini turut didukung dan dibantu oleh personel Polda NTT serta dihadiri langsung oleh Kapolres setempat, AKBP Bambang Supeno, S.I.K., yang menegaskan sinergi antara dunia pendidikan kepolisian dengan upaya penanggulangan bencana di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *