Satusuaraexpress.co | Jakarta — Di hamparan luas Laut Mediterania, puluhan kapal kemanusiaan sedang membelah ombak, membawa harapan dan semangat solidaritas dari berbagai penjuru dunia.
Di atas 61 kapal itu, berkumpul sekitar 450 relawan yang datang dari beragam negara, bersatu dalam satu misi mulia: memperjuangkan kemerdekaan, kedamaian, serta membawa bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina yang telah lama terkurung di bawah blokade jalur masuk ke Gaza. Namun, perjalanan penuh harapan ini kini berubah menjadi penuh ketegangan, seiring munculnya kabar bahwa kebebasan berlayar mereka mulai dibendung oleh kekuatan militer.
Sore ini kemarin, berita mengejutkan diterima di Media Crisis Center Global Peace Convoi Indonesia (GPCI), yang berpusat di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Jakarta. Informasi yang masuk menyebutkan bahwa Angkatan Laut Zionis Israel telah mulai melakukan tindakan pencegatan terhadap laju kapal-kapal yang berlayar dalam misi Global Sumud Flotila tersebut. Kabar ini datang seiring laporan bahwa sekitar pukul dua siang waktu Indonesia, Kapal Tabariyya atau yang dikenal juga dengan nama Cactus, telah menjadi sasaran intervensi militer tersebut.
Melalui sambungan telepon jarak jauh dari Turki, Koordinator Dewan Pengarah GPCI, Maimon Herawati, menyuarakan kecaman keras atas tindakan yang dianggap keji dan berbahaya itu. Wajah kekhawatiran tampak jelas dalam pernyataannya saat mengonfirmasi situasi yang berkembang cepat.
“Ini menjadi ancaman nyata dari militer Zionis yang secara terang-terangan memotong laju kapal berlayar. Di sini, kami mulai mendapat kabar bahwa militer Zionis mulai mencegat kapal-kapal yang berlayar menembus blokade Gaza tersebut. Sekitar jam dua siang tadi, Kapal Tabariyya mendapat intersepsi. Ini dapat dikatakan kondisi Siaga 1 bagi para relawan Global Sumud Flotila,” ungkap Maimon.
Baca juga : Kemlu RI Kecam Tindakan Militer Israel Cegat Kapal Misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0
Ketegangan semakin memuncak seiring dengan perkembangan berita hingga berita ini diturunkan. Sebelas kapal dari total enam puluh satu kapal yang berlayar dikabarkan telah dibajak di wilayah laut internasional. Sementara itu, nasib satu kapal lainnya, Kapal Joseph, masih diselimuti tanda tanya besar dan dicurigai telah mengalami nasib yang sama. Kekhawatiran semakin mendalam karena di atas Kapal Joseph inilah terdapat delegasi kemanusiaan dari Indonesia yang ikut serta dalam perjalanan suci ini.
“Sejak pagi waktu Istanbul, kami mendeteksi pergerakan kapal dan pesawat nirawak milik Israel yang jumlahnya semakin banyak bergerak mendekat ke arah armada kami. Hingga saat ini, tercatat ada 17 kapal dalam konvoi ini yang terindikasi mengalami intersepsi,” terangnya.
Irvan Nugraha, Anggota Dewan Pengarah GPCI, menegaskan bahwa tindakan militer Israel ini bukan sekadar gangguan, melainkan pelanggaran berat terhadap aturan yang diakui dunia.
“Ini tindakan yang melanggar hukum humaniter internasional. Mengingat setelah cegatan terhadap Kapal Tabariyya, tentu juga akan mengancam kapal-kapal lain yang berlayar untuk misi kemanusiaan tersebut,” tegas Irvan.
Keberadaan delegasi Indonesia dalam misi ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar. Perwakilan yang dikirimkan merupakan gabungan dari berbagai elemen lembaga kemanusiaan ternama, antara lain Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Agsa, dan SMART 171. Selain tenaga kemanusiaan, terdapat pula para jurnalis dari media massa nasional terkemuka seperti Republika, Inews, dan Tempo, yang bertugas memotret dan menyuarakan kenyataan perjalanan ini kepada masyarakat luas.
Baca juga : Militer Israel Kembali Membajak Kapal Global Sumud Flotilla, Sembilan WNI Diculik di Perairan Internasional
Menyadari risiko yang kian nyata, GPCI telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi dan rencana darurat untuk menghadapi segala kemungkinan terburuk. Hal ini disampaikan oleh Ahmad Juwaini, Anggota Dewan Pengarah GPCI, yang menjelaskan bahwa persiapan matang telah disusun seandainya kapal yang membawa warga negara Indonesia mengalami penyergapan atau penahanan paksa.
“Dalam kondisi tersebut, GPCI akan segera berkoordinasi dengan tim KBRI dan KJRI di sejumlah negara yang menjadi jalur diplomasi utama, yakni Yordania, Mesir, dan Turki. GPCI juga meminta Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri untuk mengupayakan jaminan perlindungan, keselamatan, serta langkah diplomatik maksimal bagi delegasi Indonesia apabila mengalami penyergapan maupun penahanan secara paksa saat menjalankan misi kemanusiaan tersebut. Karena dunia internasional wajib bertindak untuk menghentikan kejahatan perang yang dilakukan Israel,” tambah Ahmad Juwaini.
Ahmad menambahkan konteks penting mengenai misi ini. Ia menjelaskan bahwa Global Sumut Flotilla 2026 ini merupakan kelanjutan dari upaya serupa yang dilakukan pada September 2025 silam.
“Dulu kami hanya mendampingi dari darat, namun tahun ini kami turut berlayar bersama lebih dari 750 relawan dari 50 negara di dunia,” jelas Ahmad.
Baca juga : Pengamat Intelijen: Kritik Terhadap BoP Salah Alamat, Fokus RI Adalah Perdamaian Gaza
“Ada tiga tujuan utama kami: mengirimkan bantuan hidup bagi warga Gaza, menembus blokade yang mengekang hak hidup mereka, serta memperjuangkan kemerdekaan Palestina melalui jalur diplomasi kemanusiaan, ” imbuhnya.
Perhatian GPCI tidak hanya tertuju pada aspek diplomatik dan hukum, tetapi juga pada dampak psikologis dan sosial yang mungkin timbul. Komitmen diberikan untuk mendampingi keluarga para delegasi Indonesia jika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Pendampingan ini mencakup dukungan penuh mulai dari jalur komunikasi yang terhubung, penyampaian informasi terkini dan akurat, hingga layanan pendampingan psikologis untuk meringankan beban kekhawatiran keluarga yang ditinggalkan.
“Keselamatan delegasi Indonesia menjadi prioritas utama. Karena itu kami telah menyiapkan jalur koordinasi darurat dan pendampingan menyeluruh apabila terjadi eskalasi situasi di lapangan,” ujar Jajang Nurjaman, Command Center Lead GPCI.













