Militer Israel Kembali Membajak Kapal Global Sumud Flotilla, Sembilan WNI Diculik di Perairan Internasional

lima sukarelawan dari global peace convoy indonesia gpci ber nzgq
Militer Israel Kembali Membajak Kapal Global Sumud Flotilla, Sembilan WNI Diculik di Perairan Internasional.

Satusuaraexpress.co | Jakarta — Langit Laut Mediterania tampak tenang pagi itu, namun ketenangan itu pecah sekitar pukul 10.00 UTC, ketika kapal-kapal militer Israel tiba-tiba mendekati dan mulai membajak armada Global Sumud Flotilla yang sedang berlayar membawa bantuan kemanusiaan dari pelabuhan Marmara, Turki menuju Jalur Gaza.

Di tengah gelombang laut dan cahaya matahari siang yang terang, pasukan bersenjata naik ke atas kapal-kapal sipil, menahan seluruh penumpang, dan membawa mereka paksa sebuah tindakan yang dinilai jelas melanggar hukum internasional.

Dalam peristiwa pembajakan ini, tercatat sembilan warga negara Indonesia (WNI) menjadi korban penculikan dan penahanan.

Baca juga Suara Kemanusiaan dari Brussel: Delegasi Indonesia Perkuat Tekanan Buka Blokade Gaza

Mereka adalah orang-orang yang berangkat dengan niat tulus: membawa bantuan, menyuarakan keadilan, dan melaporkan kenyataan kemanusiaan di Gaza. Berikut nama-nama dan peran mereka:

✅ Kapal Zapyro: Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu (keduanya dari GPCI – Dompet Dhuafa).

✅ Kapal Josef: Andi Angga Prasadewa (GPCI – Rumah Zakat).

✅ Kapal Kasr-1: Asad Aras Muhammad (GPCI – Spirit of Aqso) dan Hendro Prasetyo (GPCI – SMART 171).

✅ Kapal BoraLize: Bambang Noroyono (wartawan Republika).

✅ Kapal Ozgurluk: Thoudy Badai Rifan Billah (Republika), Andre Prasetyo Nugroho (Tempo), dan Rahendro Herubowo (GPCI – iNewsTV, Berita1, CNN).

Mereka adalah warga sipil, tidak bersenjata, dan bergerak dalam misi damai. Global Sumud Flotilla sendiri merupakan gerakan non-kekerasan, murni bertujuan mengirimkan pasokan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar bagi rakyat Gaza yang terkurung blokade bertahun-tahun.

Saat insiden terjadi, sebanyak 55 kapal masih terus berlayar menuju tujuan, meski berada dalam ancaman dan risiko nyawa yang tinggi tetapi semangat untuk menyampaikan bantuan belum padam.

Baca jugaPengamat Intelijen: Kritik Terhadap BoP Salah Alamat, Fokus RI Adalah Perdamaian Gaza

Menurut rilis pers resmi GPCI pada Senin (18/5), tindakan militer Israel ini adalah pembajakan terbuka di perairan internasional, pelanggaran berat terhadap Konvensi Hukum Laut dan hukum kemanusiaan dunia.

“Kapal-kapal ini berlayar bebas, tidak mengancam siapa pun, dan hanya membawa kebaikan. Membajak serta menculik warga sipil adalah kejahatan yang tidak bisa diterima,” tulis pernyataan tersebut.

GPCI pun menyerukan keras: “Kami menyerukan kepada pemerintah dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan seluruh masyarakat global untuk segera bergerak melindungi armada kapal ini, membebaskan seluruh aktivis yang diculik, dan menghentikan pelanggaran berulang yang dilakukan Israel ini.”

Hingga saat ini, nasib kesembilan WNI dan ratusan aktivis dari berbagai negara masih belum jelas. Kabar terakhir menyebut mereka dibawa ke wilayah Israel tanpa proses hukum yang sah, sementara kapal-kapal yang dibajak dikendalikan paksa oleh pasukan militer.

Kejadian ini mengulang pola serangan yang sama: tahun lalu dan bulan lalu pun, kapal-kapal serupa dicegat dan ditahan, namun para aktivis tetap bertekad melanjutkan pelayaran, percaya bahwa hak rakyat Gaza untuk mendapatkan bantuan tidak boleh dibungkam, dan hukum internasional harus ditegakkan di mana pun, termasuk di tengah laut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *