Satusuaraexpress.co | Jakarta — Di sepanjang garis pantai dan wilayah pesisir Indonesia, perubahan perlahan namun pasti mulai terlihat. Bangunan-bangunan baru yang kokoh dan lengkap kini berdiri di 65 lokasi yang tersebar di berbagai daerah, menandakan bahwa pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tahap pertama telah selesai sepenuhnya hingga 100 persen pada akhir April 2026.
Sebagai salah satu program prioritas pemerintah di sektor kelautan dan perikanan, pembangunan ini menjadi tanda harapan baru bagi ribuan masyarakat nelayan yang telah lama mengabdikan hidupnya menjelajahi lautan.
Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik, Doni Ismanto Darwin, menyampaikan bahwa seluruh pekerjaan konstruksi di 65 lokasi tersebut telah rampung sepenuhnya. Langkah ini diikuti dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 20 Tahun 2026, yang menetapkan pembentukan Satuan Tugas Operasionalisasi KNMP.
“Pembangunan konstruksi 65 unit KNMP tahap I yang dilaksanakan pada tahun 2025 telah selesai seluruhnya dan siap dimanfaatkan, ” kata Doni, Kamis (14/5/2026).
Baca juga : Pembangunan KNMP Jadi Prioritas Nasional, Target 1.100 Kampung pada 2027
Doni menyebut, hingga saat ini, sebagian fasilitas di lokasi tersebut sudah mulai digunakan sementara oleh pihak koperasi setempat, terutama pabrik es yang keberadaannya sangat dibutuhkan oleh para nelayan untuk menjaga kualitas hasil tangkapan serta memenuhi kebutuhan es di lingkungan sekitar.
“Penggunaan ini dilakukan sebagai langkah awal, dan seluruh fasilitas akan dijalankan secara menyeluruh setelah proses penyerahan resmi dari pihak kementerian kepada koperasi selesai dilaksanakan, ” terangnya.
Sementara itu, lanjut Doni, untuk persiapan dan pelaksanaan program pembangunan 1.000 lokasi KNMP lainnya sudah dimulai sejak awal tahun ini, meskipun belum mencapai tahap pembangunan fisik. Cara pelaksanaannya pun memiliki perbedaan dengan program tahun sebelumnya. Jika pada tahun 2025 seluruh fasilitas perikanan dibangun dan dikumpulkan dalam satu lokasi, pembangunan kali ini menggunakan sistem gugusan, yang terdiri atas lokasi pusat dan lokasi penunjang.
“Pendekatan ini disusun agar penyebaran fasilitas dapat menjangkau lebih banyak wilayah dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat nelayan, ” ujarnya.
Baca juga : Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tahap I Hampir Rampung
Rangkaian prosesnya dimulai dengan pembukaan pendaftaran lokasi calon pembangunan, dilanjutkan dengan kegiatan peninjauan dan pengumpulan data yang dilakukan oleh tim dari Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan ke berbagai daerah. Hasil peninjauan tersebut menjadi dasar penting untuk menentukan lokasi yang tepat, sesuai kebutuhan, dan mendukung keberlangsungan program dalam jangka panjang.
Meskipun upaya pembangunan terus didorong agar dapat berjalan dengan cepat dan tepat waktu, berbagai tantangan masih ditemui di lapangan. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah kondisi cuaca yang tidak menentu dan kadang sangat ekstrem, yang melanda sejumlah wilayah pembangunan dan menghambat kelancaran pekerjaan. Kesulitan akses menuju lokasi pembangunan juga menjadi hambatan yang nyata. Contohnya terlihat di Desa Ujung Said, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Desa ini terletak di pinggiran Sungai Kapuas dan termasuk wilayah yang terpencil.
“Untuk mencapai lokasi tersebut, perjalanan harus ditempuh dari Kota Pontianak selama belasan jam melalui jalur darat, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan kapal, sehingga membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, ” kata Doni.
Selain itu, di beberapa lokasi juga muncul permasalahan terkait status dan kepemilikan tanah, yang memerlukan waktu serta langkah koordinasi mendalam bersama pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya. Hal ini dilakukan guna menemukan jalan keluar yang saling menguntungkan, memastikan setiap langkah pembangunan sesuai dengan aturan yang berlaku, serta menjaga suasana yang aman dan kondusif di lingkungan sekitar.
Kesulitan lain yang kerap terjadi di wilayah terpencil adalah penyediaan bahan bangunan. Sebagian besar bahan harus didatangkan dari kota-kota besar yang jaraknya cukup jauh, sehingga membutuhkan biaya dan upaya pengiriman yang lebih besar.
Baca juga : Menteri KKP Selaraskan Pembangunan KNMP Menuju Swasembada Pangan
Semangat dan tekad untuk menyelesaikan program ini semakin kuat seiring dengan kunjungan Presiden Republik Indonesia ke lokasi KNMP Leato Selatan, Gorontalo, beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program KNMP, mengingat sektor kelautan dan perikanan dinilai sebagai salah satu kekuatan utama yang mampu menggerakkan roda perekonomian nasional.
Pesan yang disampaikan pun tegas dan jelas: seluruh bangunan serta fasilitas yang dibangun harus benar-benar membawa perubahan nyata, meningkatkan taraf hidup, serta mendukung kemajuan dan kemandirian masyarakat nelayan.
“Program ini disusun dan dilaksanakan bukan hanya untuk membangun sarana fisik, melainkan sebagai langkah strategis agar para nelayan Indonesia dapat berkembang, meningkatkan kualitas usahanya, dan mencapai kesejahteraan yang lebih baik, ” tutupnya.













