Satusuaraexpress.co | Jawa Tengah — Keindahan alam Gunung Ungaran yang terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan publik, namun kali ini lewat sebuah insiden yang mengundang keprihatinan. Sebuah video yang merekam proses penyelamatan seorang balita yang mengalami hipotermia viral di media sosial, menyita perhatian netizen dan menjadi pelajaran berharga bagi para pendaki.
Peristiwa naas itu menimpa seorang balita berusia 1,5 tahun yang mendaki bersama kedua orang tuanya pada Sabtu, 11 April 2026. Keluarga tersebut berhasil mencapai Puncak Bondolan sekitar pukul 14.00 WIB. Namun, tak disangka, cuaca di puncak gunung berubah drastis. Hujan turun membasahi area pendakian, membuat suhu udara turun secara signifikan.
Dalam video yang beredar, terlihat jelas suasana yang cukup mencemaskan. Sang balita terlihat terus menangis tersedu-sedu karena kedinginan yang luar biasa. Tubuh kecilnya tampak menggigil, menunjukkan gejala hipotermia atau penurunan suhu tubuh yang ekstrem dan berbahaya. Petugas penyelamat terlihat bergerak sigap dan cepat, segera menyelimuti tubuh balita dengan selimut darurat dan kain tebal untuk menahan panas tubuh agar tidak semakin hilang.
Baca juga : Dua Pendaki Asal Indonesia Meninggal Pasca Taklukkan Puncak Caratensz
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, kondisi cuaca yang buruk menjadi faktor utama penyebab menurunnya suhu tubuh sang anak secara drastis.
“Suhu tubuh balita tersebut menurun drastis hingga mengalami gejala hipotermia,” ujar Bergas kepada wartawan, Senin (13/4/2026).
Mendapat laporan tersebut, tim SAR dan petugas yang berjaga langsung bergerak menuju lokasi. Mereka segera melakukan pertolongan pertama dengan fokus utama menstabilkan suhu tubuh korban.
Proses penghangatan dilakukan dengan hati-hati hingga kondisi balita dinyatakan cukup stabil dan aman untuk dievakuasi. Seluruh keluarga kemudian diturunkan menuju Basecamp Perantunan guna mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Baca juga : Sempat Insecure, Kisah Anak Petani Cabai Kini Jadi Pasukan Pengamanan PBB
Insiden ini menjadi tamparan keras dan pengingat penting bagi seluruh pecinta alam maupun masyarakat umum. Bergas menekankan bahwa aktivitas pendakian gunung bukanlah perjalanan biasa, melainkan kegiatan yang membutuhkan kesiapan fisik, mental, dan peralatan yang memadai.
Oleh karena itu, pihaknya sangat menyarankan agar tidak mengajak kelompok rentan, termasuk balita dan anak-anak, untuk melakukan pendakian ke puncak gunung. Risiko yang dihadapi sangat tinggi, terutama terkait ketahanan tubuh terhadap suhu dingin dan keterbatasan fisik yang belum mampu beradaptasi dengan kondisi alam yang ekstrem.
“Pada prinsipnya kegiatan hiking ke gunung atau naik gunung adalah kegiatan yang memerlukan persiapan dari sisi fisik dan mental, selain tool peralatan pendukung lainnya. Artinya kegiatan tersebut bukan untuk kelompok rentan seperti balita untuk diajak ke sana,” tegasnya.
Semoga kejadian ini menjadi pelajaran agar keselamatan dan kesehatan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan di alam bebas.













