Satusuaraexpress.co | Sulawesi — Kamis pagi, 2 April 2026, pukul 06.48 Wita (05.48 WIB), ketenangan wilayah Bitung, Sulawesi Utara, dan sebagian Maluku Utara porak-poranda oleh guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6. Pusat gempa yang berada di perairan tenggara Kota Bitung dengan kedalaman 62 kilometer ini menyisakan kengerian dan kepanikan di hati warga, mulai dari Bitung, Manado, hingga Ternate.
Guncangan Dahsyat dan Jeritan Kepanikan
Isvara Safitri, seorang warga Teling Atas, Manado, tak akan melupakan momen mencekam itu. “Jalanan aspal sampai bergoyang, kencang banget,” tuturnya kepada BBC News Indonesia.
Guncangan hebat itu membuat kepalanya pusing, dan perabot di kamarnya, termasuk lemari, bergeser selama beberapa detik. Tak hanya itu, telinganya menangkap “bunyi gemuruh” misterius yang tak bisa ia pastikan asalnya.
Baca juga : BNPB Tegaskan Kerusakan Puskesmas Purwasari Bukan Karena Gempa
Seketika, Safitri memilih untuk keluar dari rumah, bergabung dengan tetangga yang sebagian besar “terlihat panik” di sekitar kediamannya. Beruntung, tak ada kerusakan berarti pada bangunan di sekitar rumahnya, yang berlokasi sekitar satu kilometer dari stadion yang kemudian diketahui mengalami kerusakan. Bagi Safitri, gempa ini adalah yang terkuat yang pernah ia rasakan selama enam tahun menetap di Manado.
Evakuasi Dramatis Pasien Rumah Sakit
Di tengah kekacauan itu, drama evakuasi terjadi di Rumah Sakit Siloam, Manado. Puluhan pasien terpaksa dievakuasi secara darurat, menempati lobi, halaman rumah sakit, bahkan hingga di dalam kendaraan.
Admini (69), salah seorang pasien, menggambarkan kepanikan yang luar biasa. Awalnya, ia tak menyadari bahwa guncangan yang ia rasakan saat minum teh adalah gempa. “Kami sementara duduk, minum teh. Mereka kira itu cuma anak goyang-goyang. Tidak tahu kalau itu gempa,” ujarnya.
Baca juga : Gempa Magnitudo 8,7 Guncang Pantai Timur Rusia
Namun, situasi berubah mencekam ketika teriakan mulai terdengar. “Anak sudah berteriak, ‘Mbak, Mbak, mari turun, cepat turun.’ Jadi langsung turun cari tangga darurat,” kenangnya.
Proses evakuasi tak mudah. Admini dan pasien lain sempat kebingungan mencari akses keluar, hingga akhirnya menemukan tangga darurat di bagian belakang gedung. “Turun lho, semua orang baku susung di situ. Ada yang di kursi roda, ada yang saling bantu. Baku dukung, baku kolok. Semua panik, terutama di lantai lima,” tambahnya.
Setelah berhasil keluar, banyak pasien segera ditempatkan di area terbuka. Lobi rumah sakit menjadi titik utama penanganan darurat, sementara sebagian pasien dirawat di luar gedung, bahkan di dalam mobil, menunggu kepastian dan penanganan lebih lanjut.
Satu Korban Jiwa dan Kerusakan Bangunan
Sayangnya, gempa dahsyat ini menelan korban. Kepala Basarnas Sulawesi Utara, George Mercy Randang, mengonfirmasi satu orang meninggal dunia di Manado akibat tertimpa reruntuhan bangunan gedung olahraga (GOR) milik KONI.
Baca juga : Gempa Bumi 5,4 M Guncang Kepulauan Seribu, Muslim Bacalah Doa Perlindungan ini!
Korban telah dievakuasi pagi itu, bersama seorang lainnya yang mengalami cedera kaki. Gempa ini juga menyebabkan sejumlah kerusakan pada bangunan di Sulawesi Utara, meskipun sejauh ini, menurut Mercy, tidak ada kerusakan yang tergolong parah.
Peristiwa gempa bumi ini menjadi pengingat betapa rentannya wilayah Indonesia terhadap bencana alam, sekaligus menunjukkan ketangguhan dan semangat saling membantu masyarakat dalam menghadapi situasi darurat.













