Jerman Tegas Menolak Terlibat dalam Perang AS-Israel di Timur Tengah: Bukan Urusan NATO

download
Kanselir Friedrich Merz.

Satusuaraexpress.co | Jerman — Reaksi keras datang dari Jerman, salah satu anggota kunci Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), terkait perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel yang melanda Timur Tengah. Perang ini dimulai dengan serangan AS-Israel ke Teheran pada 28 Februari lalu, dan posisi Jerman terkait hal ini disampaikan secara jelas oleh Kanselir Friedrich Merz.

Dalam konferensi pers yang diadakan Senin waktu setempat, Merz menegaskan bahwa perang di Timur Tengah “bukan urusan NATO” dan Jerman tidak akan ikut serta di dalamnya. Pernyataan ini dimuat oleh AFP pada Selasa (17/3/2026). “Sudah jelas sejak awal bahwa perang ini bukan urusan NATO,” kata Merz. Ia juga menambahkan bahwa AS dan Israel “tidak berkonsultasi dengan kami sebelum perang ini” dimulai.

Pernyataan Merz dipertegas lagi saat ia berbicara bersama Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten. “Tidak pernah ada keputusan bersama tentang apakah akan campur tangan. Itulah sebabnya pertanyaan tentang bagaimana Jerman dapat berkontribusi secara militer tidak muncul. Kami tidak akan melakukannya,” tambahnya.

Baca jugaPresiden Iran Ungkap Tiga Syarat untuk Kembali ke Meja Perundingan dengan AS

Tanggapan ini menjadi respons terbaru dari sekutu AS setelah Presiden Donald Trump pada hari Minggu menyerukan sejumlah negara, termasuk Korea Selatan (Korsel), Prancis, China, dan Inggris, untuk membantu memastikan jalur aman di Selat Hormuz.

Sebelumnya, Iran telah menyatakan bahwa selat tersebut tertutup bagi lalu lintas AS dan sekutunya. Trump bahkan meningkatkan tekanan pada sekutu NATO, dengan mengatakan kepada surat kabar Financial Times (FT) bahwa aliansi tersebut menghadapi masa depan yang “sangat buruk” jika anggotanya tidak melakukan bagian mereka untuk membuka kembali selat tersebut.

Namun, Merz juga menolak kemungkinan Jerman mengirim kapal ke Selat Hormuz. “Selama perang berlanjut, kami tidak akan terlibat dalam memastikan jalur bebas di Selat Hormuz dengan cara militer,” katanya.

Posisi ini juga didukung oleh juru bicara Merz, Stefan Kornelius, yang sebelumnya telah menyatakan hal yang sama. Kornelius menekankan bahwa perang tersebut “tidak ada hubungannya dengan NATO”.

“NATO adalah aliansi untuk pertahanan wilayah dan mandat untuk mengerahkan NATO tidak ada,” kata Kornelius dalam konferensi pers rutin.

Baca jugaKorps Garda Revolusi Islam Iran Beri Syarat bagi Kapal Tanker Melintas Selat Hormuz

Pada konferensi pers terpisah di hari Senin yang sama, Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, juga menyampaikan pandangan yang sejalan. Pistorius mengatakan bahwa Jerman menginginkan semua pihak yang terlibat untuk mencegah “eskalasi militer lebih lanjut”.

Tanggung jawab utama Jerman, menurutnya, adalah “untuk sayap timur dan utara yang tinggi” dan negara tersebut “tetap berkomitmen untuk itu”.

“Tidak akan ada partisipasi militer dari Jerman, tetapi Berlin siap mendukung upaya diplomatik untuk memastikan jalur aman melalui Selat Hormuz,” kata Pistorius. Ia juga menekankan bahwa situasi yang terjadi tidak diprovokasi oleh Jerman.
“Kita menghadapi situasi yang tidak kita provokasi… Perang ini dimulai tanpa konsultasi apa pun,” tambahnya.

Pistorius juga mengajukan pertanyaan kritis terkait permintaan Trump. “Apa yang diharapkan Donald Trump dari segelintir fregat Eropa di Selat Hormuz yang tidak dapat ditangani oleh angkatan laut AS yang perkasa sendirian? Inilah pertanyaan yang saya ajukan pada diri sendiri,” tegasnya.

Posisi tegas Jerman ini menunjukkan perbedaan pandangan antara salah satu anggota utama NATO dengan AS terkait keterlibatan dalam konflik di Timur Tengah, serta menegaskan komitmen Jerman terhadap fokus pertahanan wilayah sesuai mandat NATO dan upaya penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *