Demonstrasi “No Kings” Meluas di AS: Hampir 7 Juta Massa Turun ke Jalan, Sebagian Aksi Berakhir Ricuh

Screenshot 2025 10 19 20 19 22 34 680d03679600f7af0b4c700c6b270fe7

​Satusuaraexpress.co | Washington D.C – Gelombang protes nasional bertajuk “No Kings” yang menentang kebijakan dan kecenderungan otoriter Presiden Donald Trump memuncak pada Sabtu, 18 Oktober 2025. Penyelenggara mengklaim hampir tujuh juta warga Amerika Serikat berpartisipasi dalam aksi yang tersebar di lebih dari 2.700 lokasi di 50 negara bagian.

​Angka partisipasi ini diklaim dua juta lebih banyak dari demonstrasi serupa yang digelar pada Juni 2025. Di Washington D.C., ribuan pegawai pemerintah federal yang masih aktif dan pensiunan ikut turun ke Pennsylvania Avenue pada hari ke-18 penutupan (shutdown) pemerintah AS, menuntut stabilitas politik.

Tuntutan dan Simbol Perlawanan

​Massa menyuarakan tuntutan yang beragam, mulai dari “melindungi demokrasi” hingga penghapusan badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang menjadi sasaran kebijakan anti-imigran Trump. Di kota-kota besar, banyak demonstran membawa spanduk warna-warni dan beberapa bahkan mengibarkan bendera Amerika secara terbalik sebagai simbol keresahan.

​Sebuah pemandangan unik terlihat di Los Angeles (LA) dan Portland, Oregon, di mana beberapa pengunjuk rasa terlihat membawa bendera Jolly Roger dari manga populer One Piece, yang telah menjadi simbol perlawanan terhadap pemerintahan di berbagai negara.

Insiden dan Reaksi Pemerintah

​Meskipun sebagian besar demonstrasi berlangsung damai, insiden pembubaran paksa dilaporkan terjadi di Los Angeles. Polisi terpaksa menyemprotkan gas air mata untuk membubarkan massa aksi di sana, meskipun belum ada rincian mengenai jumlah penangkapan. Gubernur Texas, Greg Abbott, bahkan sempat memerintahkan pengerahan Garda Nasional ke Austin menjelang protes, menuding aksi tersebut terkait dengan “Antifa.”

​Menanggapi aksi massa besar ini, Presiden Trump meremehkan protes tersebut. Ia sempat menanggapi sebutan “raja” dengan berkata, “Mereka bilang mereka menyebut saya raja. Saya bukan raja.” Sementara itu, Ketua DPR dari Partai Republik, Mike Johnson, mengecam aksi tersebut, menyebutnya sebagai “unjuk rasa Kebencian Amerika” yang menyatukan “kaum Marxis, Sosialis, pendukung Antifa, kaum anarkis, dan sayap pro-Hamas.”

​Demonstrasi “No Kings” ini dengan jelas menggarisbawahi polarisasi mendalam dan kekhawatiran yang meluas di kalangan rakyat Amerika terhadap arah demokrasi di bawah pemerintahan saat ini.

]]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *