Berita  

Sering Merasa Burnout di Kantor? Ini Strategi Menjaga Mental Tetap Aman

Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

IMG 3767
Ilustrasi (foto: AI)

Satusuaraexpress.co | OPINI – Bertepatan dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, isu kesehatan mental di dunia kerja kembali jadi sorotan. Target yang menumpuk, jam kerja panjang, dan batas antara kantor dan rumah yang kian kabur membuat banyak pekerja kelelahan. Kondisi ini sering disebut burnout. Bagaimana mengenalinya, dan apa yang bisa dilakukan pekerja maupun perusahaan?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan burnout dalam ICD-11 sebagai sindrom yang dipahami sebagai akibat stres kerja kronis yang belum berhasil dikelola. WHO menyebut tiga cirinya: kelelahan atau terkurasnya energi, jarak mental yang makin lebar dari pekerjaan disertai sikap negatif atau sinis, dan menurunnya efikasi profesional.

WHO juga menegaskan bahwa burnout bukan kondisi medis, melainkan fenomena okupasional, dan istilah ini hanya merujuk pada konteks pekerjaan, bukan pengalaman di bidang kehidupan lain. Mayo Clinic menambahkan bahwa burnout bukan diagnosis medis, tetapi dapat meningkatkan risiko depresi.

Tanda-tanda yang perlu diwaspadai

Mayo Clinic mengajukan beberapa pertanyaan sederhana untuk mengecek diri, di antaranya apakah Anda kekurangan energi untuk bekerja dengan baik, sulit berkonsentrasi, atau merasa dikecewakan oleh pekerjaan. Jika jawabannya ya, kemungkinan Anda mengalami burnout. Gejala bisa juga muncul sebagai mudah tersinggung dan sulit tidur, yang memperparah lingkaran kelelahan.

Penyebabnya beragam. Menurut Mayo Clinic, tidak punya kendali atas jadwal, tugas, atau beban kerja dapat memicu burnout. Risikonya meningkat jika keseimbangan hidup dan kerja terganggu. Karena sifat dan kondisi tiap orang berbeda, dua orang dengan masalah kerja yang sama bisa mengalami burnout secara berbeda.

Data paling lengkap datang dari Amerika Serikat. Survei Work in America 2023 dari American Psychological Association (APA) menemukan bahwa 77 persen pekerja AS mengalami stres kerja dalam sebulan terakhir dan 57 persen merasakan dampak negatif bagi kesehatan. Survei yang sama mencatat 19 persen pekerja menilai tempat kerjanya toksik, dan mereka lebih dari tiga kali lebih mungkin mengalami gangguan kesehatan mental akibat kerja (52 persen berbanding 15 persen).

Edisi 2025 menunjukkan faktor lain: 54 persen pekerja mengatakan ketidakamanan kerja berdampak signifikan pada tingkat stres mereka. Data ini berasal dari AS, jadi tidak otomatis menggambarkan Indonesia. Namun pola yang muncul, yakni beban kerja, rasa tidak aman, dan lingkungan yang tidak sehat, relevan bagi banyak pekerja di berbagai negara.

Di Indonesia, sebuah kajian hukum di Universitas Gadjah Mada menyimpulkan bahwa peraturan yang ada belum secara eksplisit mengakui burnout sebagai penyakit akibat kerja, padahal WHO telah mengklasifikasikannya dalam ICD-11. Ini merupakan temuan penelitian akademik, bukan sikap resmi pemerintah.

Langkah praktis bagi pekerja

Berdasarkan saran Mayo Clinic, langkah yang bisa dicoba antara lain:

1. Evaluasi pilihan. Bicarakan dengan atasan untuk menyesuaikan ekspektasi kerja.
2. Cari dukungan. Terbukalah kepada rekan kerja, teman, atau keluarga. Mayo Clinic juga mencatat bahwa rasa memiliki dan terhubung melindungi dari burnout.
3. Rawat tubuh. Olahraga, tidur cukup, dan kegiatan yang menenangkan membantu memulihkan kesejahteraan.
4. Jangan dibiarkan. Mengabaikan burnout dapat membuat masalahnya makin parah.
Jika kelelahan berlangsung lama atau disertai perasaan putus asa, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater adalah langkah yang tepat.

Peran perusahaan

Burnout tidak semata urusan pribadi. WHO menerbitkan pedoman global pertamanya tentang kesehatan mental di tempat kerja pada 28 September 2022, yang merekomendasikan tindakan untuk mengatasi risiko seperti beban kerja berat dan perilaku negatif di tempat kerja. Pedoman itu memuat 12 rekomendasi, mencakup intervensi organisasi, pelatihan manajer dan pekerja, intervensi individu, serta kembali bekerja setelah absen karena masalah kesehatan mental.

Ringkasan dari Employers’ Consultative Association menyebut tujuh bidang utama, antara lain mengatasi risiko kerja seperti beban dan jam kerja, melatih manajer agar dapat mencegah dan mendukung pekerja yang tertekan, serta memberikan penyesuaian yang wajar bagi pekerja dengan masalah kesehatan mental.

Survei APA juga memberi gambaran praktik baik. Misalnya, 79 persen pekerja yang puas dengan peluang pengembangan diri melaporkan kesehatan mental yang baik atau sangat baik, sedangkan micromanagement dialami 42 persen responden dan menghambat rasa dihargai.

Menarik kesimpulan, bahwa burnout muncul dari interaksi antara tuntutan kerja dan kemampuan seseorang memulihkan diri, sehingga solusinya perlu datang dari dua arah. Pekerja perlu mengenali tanda-tanda dan berani mencari bantuan, sementara perusahaan perlu menata beban kerja dan membangun budaya yang sehat.

Penulis: Yus Yunus | Editor: Ghugus San

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *