Satusuaraexpress.co | Klaten — Hama wereng batang cokelat telah lama menjadi bayang-bayang yang mengancam kelangsungan produksi padi di Indonesia. Serangannya tak sekadar merusak tanaman secara langsung, melainkan juga menjadi perantara penyebaran penyakit yang mematikan bagi tanaman padi.
Menyadari besarnya risiko yang ditimbulkan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melangkah mendorong para petani untuk menerapkan pola pengendalian hama secara terpadu, guna menjaga produktivitas sekaligus menekan kerugian akibat serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Langkah nyata tersebut disampaikan langsung oleh peneliti BRIN dalam kegiatan Workshop Pengendalian Hama Wereng Batang Cokelat secara Terpadu, yang berlangsung di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pada Kamis (6/8/2026).
Arlyna Budi Pustika, peneliti dari Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, menjelaskan bahwa wereng batang cokelat merupakan salah satu hama utama yang paling ditakuti petani padi. Selain menghisap cairan tanaman hingga tanaman melemah dan kering, serangga kecil ini juga berperan sebagai pembawa dan penyebar penyakit virus kerdil rumput serta virus kerdil hampa.
Baca juga : Setelah Minyakita, Kini Muncul Praktik Kecurangan Oleh Pengusaha Beras
“Serangan hama tersebut dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, daun menguning, layu, hingga mengalami gejala hopperburn atau mati kering sehingga berpotensi menurunkan hasil panen secara signifikan,” urai Arlyna dengan nada penuh perhatian.
Kerugian yang ditimbulkan sungguh tak sedikit. Rata-rata petani kehilangan sekitar 30 persen dari potensi hasil panen akibat serangan berbagai jenis OPT, di mana sekitar 20–25 persen di antaranya merupakan kerugian akibat serangan hama saja.
Bahkan, dalam sejarah pertanian Indonesia, serangan wereng batang cokelat pernah melanda ratusan ribu hektar lahan sekaligus, menyebabkan kehilangan produksi setidaknya 1–2 ton gabah per hektar. Jika dikalkulasi secara menyeluruh, kerugian ekonomi yang timbul dapat mencapai angka triliunan rupiah.
Arlyna memaparkan bahwa merebaknya wereng batang cokelat belakangan ini dipicu oleh gabungan berbagai faktor. Mulai dari makin berkurangnya penerapan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), pola penanaman padi yang dilakukan terus-menerus tanpa pergantian jenis tanaman, penggunaan pestisida yang tidak tepat sasaran maupun dosis, pemilihan varietas yang kurang tepat, hingga menurunnya jumlah serangga pemangsa alami akibat rusaknya keseimbangan ekosistem di lahan pertanian.
Baca juga : Pastikan Kunker Berjalan Aman, Kapolda Kalteng dan Kapolres Pulang Pisau Dampingi Menteri Pertanian RI
“Penggunaan insektisida secara berlebihan justru dapat mempercepat munculnya sifat kebal atau resistensi pada wereng, sehingga lama-kelamaan obat yang dipakai tidak lagi mempan. Di sisi lain, pola tanam yang tidak serempak membuat wereng selalu menemukan pangan di mana saja, sehingga jumlah populasinya terus bertambah tanpa terkendali,” jelasnya.
Oleh karena itu, BRIN memaparkan jalan keluar yang komprehensif: mengubah cara pandang petani agar tidak sekadar mengandalkan semprotan obat, melainkan menerapkan strategi pengendalian menyeluruh dan terpadu.
Strategi yang didorong meliputi kesepakatan menanam padi secara serempak agar masa pertumbuhan seragam, melakukan rotasi tanaman, memilih dan menanam varietas padi yang tahan wereng, memantau jumlah populasi hama secara rutin, serta memanfaatkan agens hayati seperti jamur Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana sejak dini. Insektisida kimia, tegas Arlyna, sebaiknya baru digunakan sebagai pilihan terakhir ketika jumlah hama telah melampaui batas ambang ekonomi.
Baca juga : Pemkot Jakbar Gelar Pengawasan Perdagangan Daging HPR, Satu Lapo di Ditemukan Sampel Diduga Daging Anjing
“Keberhasilan menekan wereng tidak bisa mengandalkan satu cara saja. Semua langkah harus berjalan beriringan mulai dari kesepakatan waktu tanam, pengamatan rutin di lapangan, pemilihan benih yang tepat, hingga menjaga agar serangga pemangsa alami tetap hidup di lahan kita. Satu hal lagi: waktu pengendalian sangat menentukan keberhasilan. Melalui pemantauan berkala menggunakan lampu perangkap dan pengamatan langsung di lahan, kita bisa mengetahui sejak dini kapan populasi mulai bertambah, sehingga tindakan pencegahan bisa dilakukan lebih awal, sebelum wereng berkembang biak dalam jumlah besar dan makin sulit dikendalikan,” tambahnya.
Terkait benih padi yang disarankan, BRIN merekomendasikan sejumlah varietas unggulan yang telah terbukti memiliki ketahanan terhadap serangan wereng batang cokelat, antara lain Inpari 47 WBC, Inpari Gemah, Inpari 48 Blas, Inpari Digdaya, serta Inpari 45 Dirgahayu. Penanaman varietas tahan ini dinilai efektif menekan risiko serangan sekaligus membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.
Tak hanya itu, dalam kesempatan yang sama juga diperkenalkan sebuah inovasi hasil riset berupa alat pendeteksi dan pengenal wereng bernama “Program Komputer Pengidentifikasi Wereng Batang Cokelat (YUKE-WBC)”. Alat bantu pengenalan jenis hama ini telah didaftarkan sebagai karya berhak cipta, diharapkan kelak dapat membantu petani maupun penyuluh mengenali wereng dengan lebih cepat dan tepat sehingga tindakan pengendalian dapat dilakukan secara lebih akurat sejak dini.
Melalui rangkaian kegiatan ini, harapan BRIN sederhana namun mulia: agar ilmu pengetahuan dan teknologi dapat turun langsung ke tengah masyarakat pertanian, menjadi penolong nyata bagi para petani dalam menjaga sawah mereka tetap subur, terhindar dari serangan hama, dan menjamin ketersediaan pangan bagi bangsa.













