Satusuaraexpress.co | Jakarta — Di ruang MH Thamrin, Kantor Wali Kota Jakarta Barat, suasana penuh semangat menyelimuti acara peluncuran program “Sekolah Kembali” yang digelar oleh Suku Dinas (Sudin) Pendidikan Wilayah I Jakarta Barat, Jumat (22/5).
Program ini hadir sebagai jawaban nyata atas tantangan masih tingginya angka anak putus sekolah di wilayah Jakarta Barat, dengan tujuan utama mengajak dan memulangkan kembali anak-anak yang berhenti bersekolah untuk kembali menempuh pendidikan, baik melalui jalur sekolah formal maupun pendidikan kesetaraan.
Acara peluncuran ini berlangsung khidmat dan dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana beserta jajarannya, serta Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kota (Setko) Jakarta Barat, Depika Romadi yang mewakili Wali Kota Jakarta Barat. Kehadiran para pemangku kebijakan ini menjadi bukti kuat bahwa pendidikan menjadi prioritas utama dalam pembangunan sumber daya manusia di ibu kota.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana menegaskan bahwa program Sekolah Kembali merupakan bagian dari fokus utama dalam program quick win Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Langkah ini disusun demi mewujudkan pemerataan akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di seluruh wilayah Jakarta.
Baca juga : Peringatan Hari Pramuka Ke-62 Berlangsung di Kantor Wali Kota Jaksel Hadir Wali Kota dan Bupati Se-DKI
“Pak Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta begitu konsen terhadap pendidikan. Dan hari ini, kita luncurkan dan mulai mengajak untuk mengembalikan anak-anak kembali ke sekolah,” ujar Nahdiana dengan penuh keyakinan.
Ia pun berharap, langkah awal yang dimulai dari Jakarta Barat ini dapat berjalan lancar dan menjadi contoh yang nantinya dapat direplikasi ke wilayah-wilayah lain di Jakarta.
Lebih dari sekadar peluncuran program, Nahdiana juga menyampaikan komitmen pribadinya yang menyentuh hati para hadirin. Ia tidak hanya berharap angka statistik perputusan sekolah menurun, tetapi menginginkan perubahan nyata yang dirasakan langsung oleh anak-anak. Bahkan, ia pun menyatakan kesiapannya untuk terjun langsung menjadi pengajar.
“Mudah-mudahan kita bisa mengembalikan statistik bukan hanya di atas angka, namun secara nyata bisa kita wujudkan. Insya Allah saya juga sudah mendaftar, saya bersedia sebagai pengajar,” jelasnya.
Di akhir sambutannya, Nahdiana juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh jajaran Sudin Pendidikan Wilayah I Jakarta Barat atas kerja keras mereka dalam menjembatani anak-anak kembali ke dunia belajar.
Baca juga : Dinas Pendidikan DKI Apresiasi Langkah Polres Jakbar Dalam Tangani Tawuran Pelajar
Mewakili Wali Kota Jakarta Barat, Depika Romadi mengungkapkan bahwa Jakarta Barat merupakan salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan mobilitas masyarakat yang sangat dinamis. Kondisi ini membawa serta beragam tantangan sosial, salah satunya yang paling terasa ada di bidang pendidikan.
“Tantangan besar yang masih kita hadapi adalah keberadaan anak-anak yang tidak bersekolah di tengah masyarakat kita,” ungkap Depika.
Melalui program Sekolah Kembali ini, ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersatu padu membantu pemerintah daerah menyelesaikan persoalan tersebut demi masa depan anak-anak Jakarta Barat yang lebih cerah.
Kepala Sudin Pendidikan Wilayah I Jakarta Barat, Agus Ramdhani, menjelaskan secara rinci latar belakang dan strategi pelaksanaan program ini. Menurutnya, wilayah Jakarta Barat memang dikenal memiliki angka anak putus sekolah yang cukup tinggi. Tantangan ini harus dijawab dengan langkah konkret dan bertahap.
“Kita ketahui, tantangan di Jakarta Barat adalah masih tingginya angka anak putus sekolah. Melalui program ini, kita berharap dapat menyelesaikan permasalahan tersebut secara bertahap,” tegas Agus.
Salah satu kendala yang dihadapi adalah keterbatasan jumlah Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Saat ini, Sudin Pendidikan Wilayah I Jakarta Barat baru memiliki dua SKB yang berlokasi di Kalideres dan Cengkareng. Padahal, wilayah Tambora dan Taman Sari juga memiliki jumlah anak putus sekolah yang cukup banyak namun belum memiliki fasilitas serupa.
Sebagai bentuk terobosan cerdas, pihaknya pun melahirkan konsep baru bernama “Kelas Jauh”, yaitu sistem pembelajaran jarak jauh yang dirancang khusus untuk menjangkau anak-anak di dua wilayah tersebut.
Baca juga : Tiga Pilar Kembangan Jalin Pertemuan Bahas Tentang Kamtibmas dan Kenakalan Remaja
“Wilayah Tambora dan Taman Sari belum memiliki SKB, padahal jumlah anak putus sekolah di sana cukup tinggi. Oleh karena itu, kami membentuk ‘Kelas Jauh’ agar mereka tetap bisa mengakses pendidikan,” papar Agus.
Tak hanya mengandalkan sistem pembelajaran yang fleksibel, kekuatan utama program ini juga terletak pada semangat pengabdian para pengajar. Agus menyampaikan bahwa seluruh pejabat di lingkungan Sudin Pendidikan Wilayah I Jakarta Barat telah menyatakan kesiapannya untuk meluangkan waktu dan tenaga menjadi tenaga pengajar secara sukarela. Ia sendiri pun tak mau ketinggalan, berniat mengampu mata pelajaran Pancasila untuk peserta program Paket C.
Untuk tahap awal, program Sekolah Kembali menargetkan sebanyak 150 anak yang tersebar di empat kecamatan, yaitu Tambora, Taman Sari, Cengkareng, dan Kalideres. Angka ini diharapkan terus bertambah pada periode-periode selanjutnya seiring meluasnya jangkauan program.
Agus juga mengajak semua pihak untuk bergotong royong. Ia mengundang lurah, camat, pengurus RT/RW, anggota Dewan Kota, hingga Forum Komunikasi Pendidikan Masyarakat (FKDM) untuk berperan aktif mengidentifikasi dan mengajak anak-anak yang putus sekolah agar kembali menuntut ilmu, baik melalui jalur pendidikan formal maupun pendidikan kesetaraan di SKB.
Langkah ini menjadi bukti bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, demi memastikan tidak ada satu pun anak di Jakarta Barat yang tertinggal dalam meraih masa depan.













