Suasana Hening di Ponpes Ndolo Kusumo: Ratusan Santri Dipulangkan Usai Kasus Pencabulan

WhatsApp Image 2026 05 03 at 14.01.13
Suasana Hening di Ponpes Ndolo Kusumo: Ratusan Santri Dipulangkan Usai Kasus Pencabulan.

Satusuaraexpress.co | Pati — Desa Tlogosari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, kini tampak berbeda dari biasanya. Jika dulunya wilayah ini selalu riuh rendah oleh suara dan aktivitas ratusan santri serta santriwati yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, hari ini desa itu terasa begitu lengang dan hening.

Asrama putra maupun putri yang dulunya selalu dipenuhi kehidupan para penuntut ilmu kini tampak kosong dan tertutup rapat, seolah menyimpan kesedihan mendalam di balik dindingnya. Hanya para petani yang masih terlihat beraktivitas di ladang, seakan tak ingin membiarkan suasana kelam menghentikan rutinitas mereka sehari-hari.

Sejak beberapa hari terakhir, perubahan drastis itu terjadi. Satu per satu santri dan santriwati dijemput oleh keluarga masing-masing untuk dibawa pulang, meninggalkan lingkungan pesantren yang kini menjadi sorotan publik. Seorang warga setempat menyebutkan bahwa meskipun masih tersisa beberapa anak di sana, mereka tidak pernah terlihat keluar, seolah menyembunyikan diri dari pandangan dunia luar.

Kondisi ini bermula setelah aksi demonstrasi yang digelar pada Sabtu, 2 Mei 2026 lalu. Warga yang merasa resah menuntut penutupan pondok pesantren tersebut, menyusul terungkapnya kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh pengasuhnya. Padahal, lembaga pendidikan agama ini telah berdiri sejak tahun 1995 dan selama puluhan tahun telah menampung ratusan santri yang datang tidak hanya dari desa sekitar, melainkan juga dari berbagai daerah lain di luar Kabupaten Pati.

Baca jugaGeger Pati: Oknum Kiai Tersangka Pencabulan 50 Santriwati Belum Juga Ditahan

Di bawah naungan ponpes ini, terdapat jenjang pendidikan mulai dari PAUD, Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah, yang dulunya menjadi tujuan harapan banyak orang tua untuk mendidik putra-putri mereka. Namun, semua citra baik itu kini runtuh seiring beredarnya kabar tentang perilaku tidak pantas yang sudah lama menjadi pembicaraan dan kekhawatiran warga.

Ahmad Nawawi, tokoh pemuda desa, mengungkapkan bahwa kekhawatiran masyarakat sebenarnya sudah ada sejak lama. Kabar tentang perilaku pengasuh yang menyimpang sudah terdengar di telinga warga, membuat mereka merasa gelisah dan khawatir akan keselamatan anak-anak mereka yang menuntut ilmu di sana.

“Kini, kekhawatiran itu terbukti nyata dan membawa dampak yang sangat besar bagi seluruh lingkungan, ” kata Ahmad, Selasa (5/5/2026).

Menanggapi hal ini, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU) Pati, KH Liwa’uddin, menegaskan bahwa Pondok Pesantren Ndolo Kusumo tidak memiliki afiliasi atau berada di bawah naungan organisasi tersebut. Pihaknya pun terus berkoordinasi dengan Kementerian Agama, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk menindaklanjuti kasus ini.

Baca jugaPolres Jakbar Beberkan Kasus Pencabulan Bocah 5 Tahun Di Cengkareng, Pelaku terancam 15 tahun penjara

Ia memastikan bahwa izin operasional ponpes tersebut akan dicabut secara permanen dalam waktu satu atau dua hari ke depan sebagai bentuk tanggung jawab atas kasus yang sangat merugikan ini.

Mengenai nasib para santri, sebagian besar memang sudah dikembalikan kepada orang tua masing-masing. Namun, ada tujuh anak yang merupakan yatim piatu terdiri dari satu anak laki-laki dan enam anak perempuan yang memerlukan perhatian khusus.

Pihak berwenang dan organisasi terkait kini sedang berkoordinasi dengan kerabat mereka untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan mereka. Tidak hanya itu, rasa kepedulian juga datang dari lembaga pendidikan agama lain.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Akrom Banyuurip, KH Moh. Imam Al-Mukromin, menyatakan kesiapannya untuk menampung santri yang terdampak jika ada yang belum mendapatkan tempat tinggal atau keluarga, menganggapnya sebagai bagian dari tanggung jawab sosial sesama umat.

Sementara itu, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Pati, KH Yusuf Hasyim, menegaskan sikap tegas organisasinya terkait kasus ini. Seluruh elemen mulai dari Ansor, Fatayat, RMI, hingga Lembaga Penelitian dan Bantuan Hukum (LPBH) NU telah dikerahkan untuk memantau proses hukum hingga tuntas.

Baca jugaTokoh Pemuda Jakbar Apresiasi Ke Polri Telah Ungkap Sejumlah Kasus Pencabulan di Bawah Umur di Jakarta

“Tindakan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan agama dinilainya sebagai perbuatan yang sangat keji dan memalukan, sehingga seluruh jaringan NU berkomitmen mendampingi para korban demi tercapainya keadilan yang sesungguhnya, ” ujarnya.

Selain mendorong proses hukum yang adil, pihaknya juga mendesak kepolisian untuk segera menahan tersangka. Penahanan dianggap langkah penting untuk memberikan kepastian hukum sekaligus rasa aman bagi masyarakat dan para korban yang terluka hati.

Yusuf juga mengimbau seluruh masyarakat maupun korban agar tidak merasa takut untuk berbicara dan menyampaikan kebenaran. Tim hukum serta pendampingan dari Satuan Anti Kekerasan (SAKA) NU dan LPBH NU sudah disiapkan sepenuhnya untuk mendampingi mereka melewati proses yang kini menjadi perhatian seluruh bangsa.

Di tengah suasana yang masih penuh keprihatinan, harapan akan keadilan dan pemulihan perlahan mulai tumbuh, seiring dengan upaya bersama berbagai pihak untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *