Inspirasi Persit: dr. Zuhria Novianty dan Seni Merajut Keseimbangan Hidup di Tengah Tugas Negara

IMG 20260413 WA0047

Satusuaraexpress.co | Jakarta  – Menjadi istri seorang prajurit sekaligus mengemban profesi sebagai dokter spesialis bukanlah perkara mudah. Tantangan dalam membagi waktu antara tugas medis, kewajiban sebagai anggota Persit Kartika Chandra Kirana, dan peran sebagai ibu seringkali menyita seluruh energi. Namun, dr. Zuhria Novianty, Sp.P.K., menunjukkan bahwa kesibukan yang luar biasa bukanlah penghalang untuk tetap produktif dalam berkarya lewat hobi yang ia cintai sejak kecil.

​Istri dari Letkol Inf. Benu Supriyantoko ini membuktikan bahwa keterampilan tangan bisa menjadi sarana “self-healing” yang efektif. Ketertarikan dr. Zuhria pada dunia kerajinan sebenarnya adalah sebuah warisan minat yang tumbuh dari lingkungan keluarganya. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sudah akrab dengan berbagai aktivitas kreatif. Mulai dari menjahit hingga mencoba teknik merajut, semua ia pelajari secara otodidak meski saat itu akses informasi dan bahan-bahan pendukung masih sangat terbatas dibandingkan zaman sekarang.

​Sejarah perjalanan hidupnya sempat membawa dr. Zuhria pada pilihan sulit saat hendak melanjutkan pendidikan tinggi. Meski sempat terpikat untuk terjun ke dunia mode dan industri kreatif, ia akhirnya memilih jalur kedokteran demi mengikuti arahan orang tua. Pilihan tersebut membawanya pada karier yang penuh disiplin sebagai dokter spesialis patologi klinik. Selama masa studi dan awal kariernya, hobi merajut sempat “tertidur” karena tuntutan akademik dan tanggung jawab profesi yang sangat menyita waktu.

​Namun, gairah kreatif yang sudah tertanam sejak kecil terbukti tidak pernah benar-benar mati. Setelah beban studi spesialisnya rampung, dr. Zuhria kembali merangkul hobinya. Merajut dipilih sebagai fokus utamanya karena kepraktisannya. Di tengah jadwal yang padat, ia bisa membawa proyek rajutannya ke mana saja—bisa dikerjakan di sela waktu istirahat, saat menemani anak bermain, atau di waktu senggang dalam kegiatan organisasi di Persit Kartika Chandra Kirana Cabang I Sintelad PG Mabesad.

​Bagi dr. Zuhria, merajut adalah tentang proses dan kesabaran. Ada filosofi mendalam dalam setiap tusukan jarum rajut yang ia buat; sebuah ketenangan yang hadir saat melihat benang-benang mentah berubah menjadi barang yang bernilai guna. Aktivitas ini bukan sekadar mengisi waktu, melainkan cara bagi dr. Zuhria untuk tetap menjaga keseimbangan mental dan ekspresi diri di tengah rutinitas medis yang serba kaku dan penuh tekanan.

​Kisah dr. Zuhria Novianty ini menjadi pengingat berharga bagi banyak orang, khususnya para perempuan yang memiliki peran ganda. Bahwa sesibuk apa pun pengabdian kita kepada profesi dan keluarga, menyediakan ruang untuk passion pribadi adalah hal yang sangat penting. Melalui simpul-simpul benangnya, ia mengajarkan bahwa kreativitas adalah jembatan yang menghubungkan tanggung jawab profesional dengan kebahagiaan personal, membuktikan bahwa seorang dokter dan istri prajurit tetap bisa menjadi sosok yang artistik dan inspiratif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *